Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial ilmu komputer

Open AccessOA2025

Mengintegrasikan Pendidikan Lingkungan ke dalam Kelas Life Sciences Kelas 11: Tantangan dan Peluang Pedagogis

Digest ini mengkaji bagaimana guru Life Sciences Kelas 11 di pedesaan KwaZulu-Natal mengintegrasikan pendidikan lingkungan, menyoroti hambatan seperti pelatihan dan sumber daya yang terbatas di samping peluang untuk pembelajaran berbasis ekosistem dan pengalaman.
Halalisani Mngomezulu; Sam Ramaila· International Journal of Learning, Teaching and Educational Research· 2025· DOI 10.26803/ijlter.24.7.19

Masalah inti

Studi ini membahas kebutuhan mendesak akan pendidikan lingkungan dalam konteks perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Fokusnya adalah kelas Life Sciences Kelas 11 di Afrika Selatan, tempat kurikulum—yang mencakup ekosistem, konservasi, dan keberlanjutan—menyediakan titik masuk alami untuk tema lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tantangan dan peluang yang dihadapi guru saat mengintegrasikan pendidikan lingkungan, dengan menekankan pengembangan literasi ekologis dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab. Penulis mencatat bahwa meskipun kurikulum memiliki potensi, integrasi yang efektif sering terhambat oleh keterbatasan waktu, pengembangan profesional yang tidak memadai, sumber daya yang kurang, dan persyaratan kurikulum yang kaku.

Inovasi

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretivist, melibatkan delapan guru Life Sciences dari sekolah pedesaan di Distrik UMkhanyakude, KwaZulu-Natal. Data dikumpulkan melalui wawancara kelompok fokus semi-terstruktur dan dianalisis secara tematik. Kerangka teoretisnya bersandar pada teori pembelajaran konstruktivis dan Zone of Proximal Development Vygotsky, yang menegaskan pentingnya pembelajaran aktif berbasis konteks. Ukuran sampelnya kecil, berfokus pada wawasan mendalam alih-alih generalisasi, dan konteks pedesaan memberikan lensa khusus terhadap tantangan sumber daya dan dukungan.
Pendahuluan
Studi ini membahas kebutuhan mendesak akan pendidikan lingkungan dalam konteks perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Fokusnya adalah kelas Life Sciences Kelas 11 di Afrika Selatan, tempat kurikulum—yang mencakup ekosistem, konservasi, dan keberlanjutan—menyediakan titik masuk alami untuk tema lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tantangan dan peluang yang dihadapi guru saat mengintegrasikan pendidikan lingkungan, dengan menekankan pengembangan literasi ekologis dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab. Penulis mencatat bahwa meskipun kurikulum memiliki potensi, integrasi yang efektif sering terhambat oleh keterbatasan waktu, pengembangan profesional yang tidak memadai, sumber daya yang kurang, dan persyaratan kurikulum yang kaku.

Mengapa penting

Analisis, yang berpijak pada perspektif konstruktivis dan Vygotskian, menyoroti bahwa integrasi pendidikan lingkungan yang efektif memerlukan lebih dari sekadar keselarasan kurikulum; hal itu menuntut dukungan guru yang terarah, fleksibilitas kurikulum yang lebih besar, dan strategi pembelajaran berbasis pengalaman yang terlokalisasi. Studi ini berargumen bahwa menjembatani kesenjangan antara pengetahuan ilmiah dan aksi lingkungan memerlukan pengembangan profesional yang membekali guru dengan pengetahuan konten pedagogis untuk pendidikan lingkungan. Lebih lanjut, temuan menunjukkan bahwa adaptasi kurikulum yang terdesentralisasi—memungkinkan guru memasukkan isu lingkungan lokal—dapat mendorong pembelajaran yang lebih mendalam. Penulis menyimpulkan bahwa tanpa dukungan sistemik, pendidikan lingkungan berisiko tetap berada di pinggiran, tetapi dengan pergeseran pedagogis yang disengaja, kelas Life Sciences dapat menjadi tempat yang kuat untuk menumbuhkan kewarganegaraan ekologis.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…