Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholatโ€ฆ

Editorial Pendidikan

Open AccessOA2023

Meningkatkan Pengajaran Ilmu Hayati di Universitas dengan Analogi: Wawasan dari Kursus untuk Asisten Pengajar Pascasarjana

Penelitian ini mengevaluasi modul pengembangan profesional yang melatih asisten pengajar pascasarjana untuk menggunakan analogi dalam mengajarkan konsep ilmu hayati yang abstrak. Analisis terhadap rencana pengajaran dari 75 peserta menunjukkan bahwa panduan terstruktur secara efektif mendukung perancangan analogi, tetapi juga menyoroti risiko seperti beban kognitif yang tinggi dan penalaran antropomorfik yang tidak ditangani.
Sara Petchey; D. Treagust; Kai Niebertยท CBE - Life Sciences Educationยท 2023ยท DOI 10.1187/cbe.22-07-0142

Masalah inti

Pengajaran sains di universitas sering didominasi oleh konsep abstrak yang disajikan tanpa keterkaitan yang cukup dengan pengetahuan awal atau pengalaman sehari-hari mahasiswa. Keterputusan ini dapat menghambat pembelajaran, karena mahasiswa kesulitan mengintegrasikan informasi abstrak baru ke dalam kerangka kognitif yang sudah ada. Analogi adalah alat instruksional yang kuat yang dapat menjembatani kesenjangan ini dengan menghubungkan konsep target yang tidak dikenal ke domain yang familiar. Namun, banyak pengajar universitas, khususnya asisten pengajar pascasarjana (GTA), kurang memiliki pelatihan formal dalam merancang dan menerapkan analogi yang efektif. Kursus Teaching Science at University (TSU) menjawab kebutuhan ini melalui modul pengembangan profesional yang memadukan prinsip ilmu kognitif dengan alat perancangan analogi terstruktur yang awalnya dikembangkan untuk pendidikan Kโ€“12. Penelitian ini bertujuan menentukan kegunaan dan efektivitas modul tersebut dengan menganalisis analogi yang dibuat oleh 75 GTA yang berpartisipasi antara 2018 dan 2021.

Inovasi

Penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif terhadap rencana pengajaran yang dirancang oleh 75 asisten pengajar pascasarjana yang menyelesaikan modul analogi dalam kursus TSU. Modul ini mengintegrasikan penelitian ilmu kognitif tentang analogi dan alat pedagogis bertahap yang memandu pengajar melalui proses memilih, memetakan, dan mengevaluasi analogi. Peserta diminta mengembangkan analogi untuk konsep ilmu hayati yang abstrak dan merefleksikan pembelajaran mereka. Analisis difokuskan pada struktur, kualitas, dan potensi jebakan dari analogi yang dihasilkan, serta refleksi peserta tentang dampak modul terhadap kesadaran mengajar mereka. Data dikumpulkan selama empat tahun (2018โ€“2021) untuk menangkap berbagai konteks disiplin dan pengalaman mengajar.
Pendahuluan
Pengajaran sains di universitas sering didominasi oleh konsep abstrak yang disajikan tanpa keterkaitan yang cukup dengan pengetahuan awal atau pengalaman sehari-hari mahasiswa. Keterputusan ini dapat menghambat pembelajaran, karena mahasiswa kesulitan mengintegrasikan informasi abstrak baru ke dalam kerangka kognitif yang sudah ada. Analogi adalah alat instruksional yang kuat yang dapat menjembatani kesenjangan ini dengan menghubungkan konsep target yang tidak dikenal ke domain yang familiar. Namun, banyak pengajar universitas, khususnya asisten pengajar pascasarjana (GTA), kurang memiliki pelatihan formal dalam merancang dan menerapkan analogi yang efektif. Kursus Teaching Science at University (TSU) menjawab kebutuhan ini melalui modul pengembangan profesional yang memadukan prinsip ilmu kognitif dengan alat perancangan analogi terstruktur yang awalnya dikembangkan untuk pendidikan Kโ€“12. Penelitian ini bertujuan menentukan kegunaan dan efektivitas modul tersebut dengan menganalisis analogi yang dibuat oleh 75 GTA yang berpartisipasi antara 2018 dan 2021.

Mengapa penting

Temuan ini menunjukkan bahwa panduan bertahap TSU menggunakan alat pedagogis terstruktur sangat cocok untuk pendidikan tinggi. Alat ini membantu GTA melampaui analogi yang dangkal dan mempertimbangkan beban kognitif serta potensi miskonsepsi. Namun, adanya analogi dengan beban tinggi dan antropomorfik menunjukkan bahwa dukungan tambahan mungkin diperlukan untuk membantu pengajar menyempurnakan analogi mereka dan secara eksplisit membahas keterbatasannya bersama mahasiswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya refleksi metakognitif dalam pengembangan profesional guru, karena peserta menjadi lebih sadar akan perlunya merencanakan analogi dan memfasilitasi diskusi mahasiswa seputar analogi tersebut. Penelitian ini berkontribusi pada literatur yang terus berkembang tentang praktik pengajaran berbasis bukti di pendidikan tinggi dan menawarkan model praktis untuk melatih asisten pengajar pascasarjana di bidang ilmu hayati.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten memberโ€ฆ