Editorial Humaniora
Open AccessOA2025
Sejarah Definisi Gagal Jantung
Digest ini melacak evolusi definisi gagal jantung dari deskripsi Mesir, Yunani, dan Romawi kuno hingga penekanan modern pada kelainan struktural dan fungsional jantung, menyoroti tonggak penting seperti penemuan sirkulasi Harvey dan Framingham Heart Study.
R. Ibănescu; Diana-Alexandra Mîțu; I. Goje; Greta-Ionela Goje; D. Lighezan· Cardiac failure review· 2025· DOI 10.15420/cfr.2024.22
Masalah inti
Gagal jantung (HF) telah diakui sebagai entitas klinis selama ribuan tahun, tetapi definisinya telah mengalami transformasi signifikan. Deskripsi awal oleh dokter Mesir, Yunani, dan Romawi memberikan fondasi untuk memahami disfungsi jantung, meskipun sebagian besar didasarkan pada gejala dan teori humoral. Periode Renaisans, khususnya penemuan sirkulasi darah oleh William Harvey pada 1628, menandai pergeseran krusial menuju pemahaman yang lebih fisiologis. Namun, baru pada abad ke-20 HF secara formal didefinisikan sebagai sindrom klinis dengan kriteria diagnostik spesifik, sebagian besar berkat Framingham Heart Study. Digest ini meninjau evolusi historis definisi HF, menyoroti bagaimana kemajuan dalam patofisiologi, biomarker, dan pencitraan telah menyempurnakan pemahaman kita dan meningkatkan penatalaksanaan pasien.
Inovasi
Tinjauan ini didasarkan pada analisis historis literatur medis yang membentang dari zaman kuno hingga saat ini. Sumber utama meliputi teks medis Mesir, Yunani, dan Romawi kuno, karya anatomi Renaisans (terutama Harvey), dan studi epidemiologi abad ke-20 seperti Framingham Heart Study. Para penulis menyintesis sumber-sumber ini untuk melacak evolusi definisi HF, dengan fokus pada pergeseran kriteria diagnostik, wawasan patofisiologis, dan kemajuan teknologi. Tidak ada data empiris baru yang dikumpulkan; sebagai gantinya, studi ini mengandalkan sintesis naratif dari pengetahuan yang ada.
Pendahuluan
Gagal jantung (HF) telah diakui sebagai entitas klinis selama ribuan tahun, tetapi definisinya telah mengalami transformasi signifikan. Deskripsi awal oleh dokter Mesir, Yunani, dan Romawi memberikan fondasi untuk memahami disfungsi jantung, meskipun sebagian besar didasarkan pada gejala dan teori humoral. Periode Renaisans, khususnya penemuan sirkulasi darah oleh William Harvey pada 1628, menandai pergeseran krusial menuju pemahaman yang lebih fisiologis. Namun, baru pada abad ke-20 HF secara formal didefinisikan sebagai sindrom klinis dengan kriteria diagnostik spesifik, sebagian besar berkat Framingham Heart Study. Digest ini meninjau evolusi historis definisi HF, menyoroti bagaimana kemajuan dalam patofisiologi, biomarker, dan pencitraan telah menyempurnakan pemahaman kita dan meningkatkan penatalaksanaan pasien.
Mengapa penting
Evolusi definisi HF mencerminkan tren yang lebih luas dalam ilmu kedokteran: dari teori humoral ke kedokteran berbasis bukti, dan dari diagnosis berbasis gejala ke diagnosis berbasis mekanisme. Kriteria Framingham mewakili pergeseran penting dengan menstandarkan diagnosis HF untuk penelitian epidemiologi, tetapi sangat bergantung pada gejala klinis, yang kurang sensitif dan spesifik. Definisi modern, yang didukung oleh pedoman seperti dari European Society of Cardiology (ESC) dan American Heart Association (AHA), menekankan kelainan struktural atau fungsional jantung yang mendasari, bahkan tanpa adanya gejala (misalnya, disfungsi ventrikel kiri asimtomatik). Pergeseran ini didorong oleh kemajuan dalam pencitraan dan biomarker, yang memungkinkan deteksi dini dan terapi bertarget. Namun, tantangan tetap ada, termasuk heterogenitas definisi di berbagai pedoman dan kebutuhan validasi pada populasi yang beragam. Memahami perkembangan historis ini sangat penting untuk menghargai strategi penatalaksanaan saat ini dan mengantisipasi penyempurnaan di masa depan, seperti integrasi kedokteran presisi dan kecerdasan buatan.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…