Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2022
Modifikasi Genital Berbasis Gender dalam Antropologi Kritis: Dari Diskursus FGM/C ke Teknologi Baru dalam Sistem Seks/Gender
Artikel ini menyajikan dekonstruksi genealogis atas tatanan diskursus mengenai female genital mutilation/cutting (FGM/C), dengan menyoroti dislokasi antara antropologi dan agenda hak asasi manusia. Artikel ini mengusulkan istilah Gendered Genital Modifications (GGMo) untuk mencakup beragam prosedur dan menyerukan studi interdisipliner tentang persetujuan, integritas tubuh, dan otonomi dalam sistem seks/gender.
M. Fusaschiยท International journal of impotence researchยท 2022ยท DOI 10.1038/s41443-022-00542-y
Masalah inti
Sejak akhir abad ke-19, modifikasi genital (perempuan dan laki-laki) telah menjadi subjek penelitian penting dalam antropologi. Menurut perspektif komparatif dan konstruktivis, modifikasi tersebut mula-mula ditafsirkan sebagai ritus peralihan, lalu sebagai ritus institusi. Dalam dialog yang kompleks dengan gerakan feminis, para sarjana abad ke-20 mengakui bahwa makna kultural modifikasi ini beragam dan berubah menurut waktu dan ruang. Sebaliknya, menurut WHO, sejak 1950-an, Female Genital Mutilation or Cutting (FGM/C) dianggap sebagai bentuk Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan (VAWG). Ditafsirkan sebagai VAWG, FGM/C secara progresif dipisahkan dari ritus laki-laki yang komplementer, dipilih untuk dikutuk secara khusus, dan dilarang. Sebuah tatanan diskursus telah dibangun oleh WHO dan organisasi internasional lainnya. Artikel ini menyajikan dekonstruksi genealogis atas leksikon tatanan diskursus tersebut, dengan menyoroti dislokasi antara antropologi dan agenda hak asasi manusia.
Inovasi
Artikel ini menggunakan pendekatan dekonstruksi genealogis untuk menganalisis tatanan diskursus seputar FGM/C. Artikel ini secara kritis menelaah leksikon yang digunakan WHO dan organisasi internasional lainnya, dengan melacak bagaimana FGM/C dipisahkan dari modifikasi genital laki-laki dan dikonstruksi sebagai bentuk kekerasan yang khas terhadap perempuan dan anak perempuan. Metodologinya melibatkan perspektif komparatif dan konstruktivis, dengan bersandar pada teori antropologi tentang ritus peralihan dan ritus institusi, serta berdialog dengan gerakan feminis. Analisis ini menyoroti dislokasi antara pemahaman antropologis dan agenda hak asasi manusia, dan mengusulkan konsep Gendered Genital Modifications (GGMo) untuk mencakup rentang prosedur yang lebih luas.
Pendahuluan
Sejak akhir abad ke-19, modifikasi genital (perempuan dan laki-laki) telah menjadi subjek penelitian penting dalam antropologi. Menurut perspektif komparatif dan konstruktivis, modifikasi tersebut mula-mula ditafsirkan sebagai ritus peralihan, lalu sebagai ritus institusi. Dalam dialog yang kompleks dengan gerakan feminis, para sarjana abad ke-20 mengakui bahwa makna kultural modifikasi ini beragam dan berubah menurut waktu dan ruang. Sebaliknya, menurut WHO, sejak 1950-an, Female Genital Mutilation or Cutting (FGM/C) dianggap sebagai bentuk Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan (VAWG). Ditafsirkan sebagai VAWG, FGM/C secara progresif dipisahkan dari ritus laki-laki yang komplementer, dipilih untuk dikutuk secara khusus, dan dilarang. Sebuah tatanan diskursus telah dibangun oleh WHO dan organisasi internasional lainnya. Artikel ini menyajikan dekonstruksi genealogis atas leksikon tatanan diskursus tersebut, dengan menyoroti dislokasi antara antropologi dan agenda hak asasi manusia.
Mengapa penting
Artikel ini mengusulkan interpretasi antropologis atas makna sosiokultural kesehatan, seksualitas, kemurnian, dan kecantikan. Artikel ini berargumen bahwa pengutukan selektif terhadap FGM/C, sementara modifikasi genital lain tetap diterima atau bahkan dipromosikan, mencerminkan dinamika kekuasaan yang lebih luas dalam sistem seks/gender. Penulis menyerukan studi interdisipliner di masa depan tentang bagaimana persetujuan, integritas tubuh, dan otonomi personal memengaruhi konsep agensi dan subjektivitas dalam sistem seks/gender. Pendekatan ini akan melampaui dikotomi barbar versus modern, dan sebagai gantinya menelaah cara-cara kompleks modifikasi genital tertanam dalam konteks kultural, sosial, dan politik.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ