Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2025
Antropologi forensik skeletal dan molekuler berhadapan: Menggabungkan keahlian untuk identifikasi sisa manusia
Tinjauan ini menekankan nilai kolaborasi antara antropologi forensik (FA) dan antropologi molekuler (MA) untuk meningkatkan penyelesaian kasus ketika analisis skeletal mencapai batasnya. Menggabungkan kedua bidang memungkinkan profil biologis yang lebih komprehensif dan secara signifikan meningkatkan peluang mengidentifikasi sisa yang tidak dikenal.
Elena Pilli; A. Palamenghi; C. Cattaneoยท Annals of the New York Academy of Sciencesยท 2025ยท DOI 10.1111/nyas.15398
Masalah inti
Antropologi forensik (FA) telah berkembang secara signifikan sebagai disiplin yang mapan dan independen yang didedikasikan untuk pemeriksaan dan identifikasi sisa manusia dalam konteks medikolegal dan kemanusiaan. Ketika jaringan lunak sangat terdekomposisi, analisis skeletal sering memberikan data yang lebih andal untuk merekonstruksi profil biologis dan menentukan identitas. Meningkatnya jumlah jenazah tak teridentifikasi dalam skenario domestik maupun kemanusiaan menyoroti kebutuhan akan antropolog forensik. Dalam konteks ini, antropologi molekuler (MA) dapat mendukung FA dengan menawarkan alat tambahan untuk identifikasi forensik, meskipun kolaborasi antara kedua bidang ini masih jarang. Berdasarkan pengalaman penulis, tinjauan ini menekankan nilai kolaborasi untuk meningkatkan penyelesaian kasus.
Inovasi
Penulis menarik dari pengalaman mereka sendiri untuk melakukan tinjauan yang menekankan nilai kolaborasi antara FA dan MA. Tinjauan ini kemungkinan menyintesis studi kasus dan pendekatan metodologis dari kedua bidang untuk menggambarkan bagaimana teknik molekuler dapat melengkapi analisis skeletal. Tidak ada desain eksperimental atau metode statistik spesifik yang dirinci dalam abstrak yang disediakan; fokusnya adalah pada potensi integratif dari menggabungkan keahlian.
Pendahuluan
Antropologi forensik (FA) telah berkembang secara signifikan sebagai disiplin yang mapan dan independen yang didedikasikan untuk pemeriksaan dan identifikasi sisa manusia dalam konteks medikolegal dan kemanusiaan. Ketika jaringan lunak sangat terdekomposisi, analisis skeletal sering memberikan data yang lebih andal untuk merekonstruksi profil biologis dan menentukan identitas. Meningkatnya jumlah jenazah tak teridentifikasi dalam skenario domestik maupun kemanusiaan menyoroti kebutuhan akan antropolog forensik. Dalam konteks ini, antropologi molekuler (MA) dapat mendukung FA dengan menawarkan alat tambahan untuk identifikasi forensik, meskipun kolaborasi antara kedua bidang ini masih jarang. Berdasarkan pengalaman penulis, tinjauan ini menekankan nilai kolaborasi untuk meningkatkan penyelesaian kasus.
Mengapa penting
Temuan ini menggarisbawahi potensi kolaborasi interdisipliner untuk mengatasi keterbatasan masing-masing bidang saja. Dengan mengintegrasikan data skeletal dan molekuler, antropolog forensik dapat meningkatkan akurasi dan keandalan identifikasi, terutama dalam kasus kompleks di mana dekomposisi atau fragmentasi menghambat metode tradisional. Tinjauan ini menyerukan integrasi dan komunikasi yang lebih besar antara FA dan MA, menunjukkan bahwa kolaborasi semacam itu akan menghasilkan praktik forensik yang lebih kuat dan berkontribusi pada penyelesaian kasus jenazah tak teridentifikasi. Penulis menganjurkan pengembangan teknik dan metodologi inovatif yang memanfaatkan kekuatan kedua disiplin.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ