Editorial Ilmu Komputer & AI
Open AccessOA2025
'Do I Have to Take This Class?': Tinjauan Persyaratan Etika dalam Kurikulum Ilmu Komputer
Studi ini meninjau persyaratan gelar dari 250 program ilmu komputer di seluruh dunia, dan menemukan bahwa hampir separuhnya tidak menawarkan mata kuliah etika komputasi dan hanya 33% yang mewajibkan mata kuliah etika untuk kelulusan. Penulis menganalisis perbedaan antarjenis universitas dan membahas implikasinya bagi perubahan kurikulum.
James Weichert; Dayoung Kim; Qin Zhu; Hoda Eldardiryยท Technical Symposium on Computer Science Educationยท 2025ยท DOI 10.1145/3641554.3701824
Masalah inti
Makalah ini dimulai dengan menyoroti semakin pentingnya pendidikan etika dalam ilmu komputer (CS). Disebutkan bahwa kriteria akreditasi ABET mewajibkan universitas mencakup topik seperti dampak lokal dan global dari solusi komputasi serta mempersiapkan mahasiswa untuk membuat penilaian yang terinformasi dengan mempertimbangkan prinsip hukum, etika, keberagaman, kesetaraan, inklusi, dan aksesibilitas. Penulis menunjuk pada semakin banyaknya penelitian yang mendorong integrasi etika ke dalam persyaratan gelar CS, baik melalui mata kuliah mandiri maupun modul yang tertanam. Urgensi ini diperkuat oleh munculnya teknologi AI yang canggih, yang menghadirkan tantangan etis seperti bias, halusinasi, dan pengambilan keputusan otonom. Meskipun ada seruan tersebut, masih belum jelas apakah kurikulum saat ini cukup mempersiapkan lulusan. Studi ini bertujuan mengatasi kesenjangan tersebut dengan meninjau secara sistematis persyaratan gelar dari 250 program sarjana CS di seluruh dunia.
Inovasi
Penulis melakukan tinjauan sistematis terhadap persyaratan gelar dari 250 program sarjana ilmu komputer secara global. Mereka mengategorikan setiap program berdasarkan apakah mata kuliah etika terkait CS ditawarkan dan/atau diwajibkan oleh departemen. Kategorisasi tersebut kemungkinan melibatkan pemeriksaan katalog mata kuliah dan persyaratan program untuk menentukan keberadaan mata kuliah etika mandiri atau konten etika yang tertanam. Studi ini juga menganalisis perbedaan antara universitas publik AS, swasta AS, dan non-AS. Bagian metodologi tidak merinci strategi pengambilan sampel atau prosedur pengumpulan data dalam abstrak yang disediakan, tetapi menyiratkan tinjauan komprehensif terhadap informasi kurikulum yang tersedia untuk publik.
Pendahuluan
Makalah ini dimulai dengan menyoroti semakin pentingnya pendidikan etika dalam ilmu komputer (CS). Disebutkan bahwa kriteria akreditasi ABET mewajibkan universitas mencakup topik seperti dampak lokal dan global dari solusi komputasi serta mempersiapkan mahasiswa untuk membuat penilaian yang terinformasi dengan mempertimbangkan prinsip hukum, etika, keberagaman, kesetaraan, inklusi, dan aksesibilitas. Penulis menunjuk pada semakin banyaknya penelitian yang mendorong integrasi etika ke dalam persyaratan gelar CS, baik melalui mata kuliah mandiri maupun modul yang tertanam. Urgensi ini diperkuat oleh munculnya teknologi AI yang canggih, yang menghadirkan tantangan etis seperti bias, halusinasi, dan pengambilan keputusan otonom. Meskipun ada seruan tersebut, masih belum jelas apakah kurikulum saat ini cukup mempersiapkan lulusan. Studi ini bertujuan mengatasi kesenjangan tersebut dengan meninjau secara sistematis persyaratan gelar dari 250 program sarjana CS di seluruh dunia.
Mengapa penting
Penulis membahas implikasi temuan ini bagi perubahan kurikulum dan keadaan pendidikan etika komputasi sarjana. Mereka kemungkinan berargumen bahwa rendahnya persentase mata kuliah etika yang diwajibkan mengkhawatirkan mengingat meningkatnya tantangan etis dalam komputasi, terutama dengan AI. Perbedaan antarjenis universitas menunjukkan bahwa faktor institusional dapat memengaruhi persyaratan pendidikan etika. Makalah ini mungkin merekomendasikan agar program mengintegrasikan etika secara lebih menyeluruh, baik melalui mata kuliah mandiri maupun modul yang tertanam, untuk memenuhi kriteria akreditasi dan mempersiapkan mahasiswa untuk pengambilan keputusan etis. Pembahasan tersebut kemungkinan juga membahas hambatan potensial dalam menerapkan persyaratan etika dan menyarankan arah penelitian selanjutnya.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ