Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Ilmu Komputer & AI

Open AccessOA2023

Distributed-Proof-of-Sense: Mekanisme Konsensus Blockchain untuk Mendeteksi Pelanggaran Akses Spektrum Radio

Mekanisme konsensus hemat energi yang memanfaatkan bukti tanpa pengetahuan untuk akses spektrum dinamis dan deteksi pelanggaran
Pramitha Fernando; Keshawa Dadallage; Tharindu D. Gamage; Chathura Seneviratne; An Braeken; A. Madanayake; Madhusanka Liyanage· IEEE Transactions on Cognitive Communications and Networking· 2023· DOI 10.1109/TCCN.2023.3291366

Masalah inti

Pertumbuhan eksponensial perangkat Internet-of-Things (IoT) dan jaringan nirkabel generasi berikutnya menuntut mekanisme akses spektrum dinamis (DSA) yang lebih maju. Alokasi spektrum statis tradisional menimbulkan inefisiensi, dan DSA berbasis blockchain muncul sebagai solusi menjanjikan karena desentralisasi, imutabilitas, dan transparansinya. Namun, mekanisme konsensus blockchain konvensional seperti Proof-of-Work (PoW) dan Proof-of-Stake (PoS) mahal secara komputasi dan intensif energi, sehingga tidak cocok untuk perangkat IoT dengan sumber daya terbatas. Selain itu, sistem DSA berbasis blockchain yang ada sebagian besar mengabaikan isu kritis pelanggaran spektrum—akses tanpa izin ke spektrum berlisensi. Makalah ini menjawab kesenjangan tersebut dengan memperkenalkan Distributed-Proof-of-Sense (DPoS), mekanisme konsensus yang dirancang khusus yang mengintegrasikan penginderaan spektrum dengan konsensus blockchain untuk memungkinkan DSA yang efisien dan mendeteksi pelanggaran spektrum. Mekanisme yang diusulkan memotivasi penambang untuk melakukan penginderaan spektrum, sehingga mengumpulkan data spektrum yang komprehensif sekaligus menjaga efisiensi energi. Inti DPoS bergantung

Inovasi

Evaluasi kinerja DPoS menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan mekanisme konsensus konvensional. Dalam simulasi MATLAB, DPoS mencapai pengurangan konsumsi energi hingga 90% dibandingkan PoW dan 50% dibandingkan PoS, sambil mempertahankan tingkat keamanan yang sebanding. Verifikasi berbasis ZKP menambah overhead minimal, dengan waktu pembuatan dan verifikasi bukti dalam urutan milidetik pada perangkat dengan sumber daya terbatas. Implementasi mikroprosesor mengonfirmasi temuan ini: pada Raspberry Pi 4, DPoS mengonsumsi sekitar 0,5 J per putaran konsensus, sedangkan PoW mengonsumsi lebih dari 100 J. Latensi DPoS juga lebih rendah, dengan waktu blok rata-rata 2 detik versus 10 menit untuk PoW. Tingkat deteksi pelanggaran spektrum melebihi 95% ketika setidaknya 30% node jujur, menunjukkan ketahanan terhadap aktor jahat. Penulis juga menganalisis dampak jumlah node penginderaan terhadap akurasi deteksi, menunjukkan bahwa jumlah peserta yang lebih tinggi meningkatkan probabilitas mendeteksi pelanggaran. Throughput DPoS diukur dalam transaksi per detik (TPS), mencapai sekitar 50 TPS dalam lingkungan simulasi, yang cukup untuk aplikasi DSA. Hasil disajikan dalam tabel dan gambar yang
Pertumbuhan eksponensial perangkat Internet-of-Things (IoT) dan jaringan nirkabel generasi berikutnya menuntut mekanisme akses spektrum dinamis (DSA) yang lebih maju. Alokasi spektrum statis tradisional menimbulkan inefisiensi, dan DSA berbasis blockchain muncul sebagai solusi menjanjikan karena desentralisasi, imutabilitas, dan transparansinya. Namun, mekanisme konsensus blockchain konvensional seperti Proof-of-Work (PoW) dan Proof-of-Stake (PoS) mahal secara komputasi dan intensif energi, sehingga tidak cocok untuk perangkat IoT dengan sumber daya terbatas. Selain itu, sistem DSA berbasis blockchain yang ada sebagian besar mengabaikan isu kritis pelanggaran spektrum—akses tanpa izin ke spektrum berlisensi. Makalah ini menjawab kesenjangan tersebut dengan memperkenalkan Distributed-Proof-of-Sense (DPoS), mekanisme konsensus yang dirancang khusus yang mengintegrasikan penginderaan spektrum dengan konsensus blockchain untuk memungkinkan DSA yang efisien dan mendeteksi pelanggaran spektrum. Mekanisme yang diusulkan memotivasi penambang untuk melakukan penginderaan spektrum, sehingga mengumpulkan data spektrum yang komprehensif sekaligus menjaga efisiensi energi. Inti DPoS bergantung pada bukti tanpa pengetahuan (ZKP) berbasis kriptografi kurva eliptik (ECC) untuk memverifikasi data penginderaan tanpa mengungkapkan informasi sensitif. Penulis mengevaluasi DPoS melalui simulasi MATLAB dan mengimplementasikan beberapa algoritma konsensus pada mikroprosesor untuk menunjukkan manfaatnya.

Mekanisme konsensus DPoS dirancang untuk beroperasi dalam jaringan akses spektrum dinamis berbasis blockchain di mana node (penambang) bersaing untuk menambahkan blok baru dengan melakukan tugas penginderaan spektrum. Proses dimulai dengan penambang mengindera spektrum radio pada pita frekuensi dan jendela waktu tertentu. Setiap penambang menghasilkan laporan penginderaan, yang kemudian dikompresi menjadi bukti tanpa pengetahuan menggunakan kriptografi kurva eliptik. Bukti ini memungkinkan penambang untuk menunjukkan bahwa ia telah melakukan penginderaan dengan benar tanpa mengungkapkan data mentah, sehingga menjaga privasi dan mengurangi overhead komunikasi. Algoritma konsensus memilih pengusul blok berikutnya berdasarkan kualitas dan kuantitas data penginderaan yang disumbangkan, memberi insentif pada partisipasi jujur. Konstruksi ZKP didasarkan pada protokol Schnorr pada kurva eliptik, memastikan efisiensi komputasi. Proses verifikasi melibatkan pemeriksaan bukti terhadap komitmen publik. Penulis memodelkan konsumsi energi DPoS dan membandingkannya dengan PoW, PoS, dan Practical Byzantine Fault Tolerance (PBFT) menggunakan simulasi MATLAB. Selain itu, mereka mengimplementasikan algoritma konsensus ini pada mikroprosesor (misalnya, Raspberry Pi) untuk mengukur kinerja dunia nyata dalam hal energi, latensi, dan throughput. Parameter simulasi mencakup jaringan node, masing-masing dengan kemampuan penginderaan, dan blockchain dengan ukuran blok dan interval blok . Konsumsi energi per node untuk penginderaan dimodelkan sebagai

, di mana adalah daya penginderaan dan adalah durasi penginderaan. Biaya pembuatan dan verifikasi ZKP dikuantifikasi menggunakan operasi kurva eliptik, dengan jumlah perkalian skalar sebagai metrik kunci. Penulis juga mendefinisikan tingkat deteksi pelanggaran spektrum sebagai probabilitas mengidentifikasi transmisi tanpa izin dengan benar, berdasarkan data penginderaan dan hasil konsensus.

Mengapa penting

Mekanisme DPoS menjawab tantangan ganda efisiensi energi dan deteksi pelanggaran spektrum dalam DSA berbasis blockchain. Dengan memberi insentif pada penginderaan spektrum, ia menyelaraskan kepentingan ekonomi penambang dengan tujuan jaringan untuk menjaga integritas spektrum. Penggunaan bukti tanpa pengetahuan memastikan data penginderaan dapat diverifikasi tanpa mengorbankan privasi, yang krusial dalam lingkungan radio yang sensitif. Namun, makalah ini mengakui beberapa batasan. Pertama, ketergantungan pada ZKP berbasis ECC dapat rentan terhadap serangan komputasi kuantum di masa depan, meskipun komputer kuantum saat ini belum menjadi ancaman. Kedua, konsensus mengasumsikan mayoritas node jujur, dan kolusi di antara node jahat dapat menurunkan kinerja deteksi. Ketiga, lingkungan simulasi mungkin tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas propagasi radio dunia nyata, seperti fading dan interferensi. Penulis menyarankan pekerjaan masa depan tentang mengintegrasikan kriptografi pasca-kuantum dan menguji DPoS di testbed dunia nyata. Diskusi juga menyoroti potensi DPoS untuk aplikasi lain yang memerlukan penginderaan terdistribusi, seperti pemantauan lingkungan dan pengumpulan data crowdsourced. Makalah ini menyimpulkan bahwa DPoS adalah langkah menjanjikan menuju akses spektrum dinamis yang aman, efisien, dan skalabel.

Siapa yang sebaiknya membaca

Praktisi dan peneliti ilmu komputer

Membuka konten member…