Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2025
Perspektif Lintas Budaya atas Bahasa Politik: Tinjauan Komparatif Wacana Thailand dan Amerika dengan Implikasi bagi Masyarakat Kritis
Artikel ini meninjau atribut lintas budaya bahasa politik dengan membandingkan wacana Thailand dan Amerika melalui perangkat retorika, pembuktian daya pikat Aristoteles, dan dimensi budaya Hofstede. Artikel ini menyoroti bagaimana bahasa dan budaya saling terkait dalam persuasi dan manipulasi politik, serta menawarkan implikasi bagi masyarakat kritis.
Peeradej Koomwongthai· วารสารศิลปศาสตร์ มหาวิทยาลัยธรรมศาสตร์· 2025· DOI 10.64731/jla.v25i2.287022
Masalah inti
Bahasa politik telah lama menjadi fokus utama lintas disiplin seperti ilmu politik, linguistik, sosiologi, antropologi, dan analisis wacana. Ciri retorik, persuasif, dan manipulatifnya menjadikannya alat yang ampuh untuk memengaruhi opini publik dan membentuk norma sosial. Artikel ini bertujuan menjelaskan atribut lintas budaya bahasa politik dengan membandingkan perspektif budaya Thailand dan Amerika. Artikel ini mengadopsi kerangka teoretis yang mencakup perangkat retorika, pembuktian daya pikat Aristoteles (1952), dan dimensi nilai budaya Hofstede (2001). Premis dasarnya adalah bahwa bahasa dalam konteks politik berfungsi sebagai instrumen persuasi dan manipulasi yang berpengaruh, menyampaikan pesan yang meyakinkan melalui pidato, debat, jawaban resmi, dan pengumuman kepada warga negara dan audiens global. Inti tinjauan ini adalah hubungan yang saling terkait antara bahasa dan budaya. Artikel ini memberikan ikhtisar singkat atas literatur sebelumnya dan kontemporer tentang wacana retorik, pembuktian daya pikat persuasif, dan dimensi nilai budaya lintas batas antarbudaya. Pembahasan disusun menjadi empat bagian utama: 1) ikhtisar retorik; 2) pendekatan analitis terhadap kajian bahasa politik; 3) perspektif antarbudaya dalam pembahasan; dan 4) ringkasan dan implikasi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi kajian komunikasi lintas budaya yang luas dengan menumbuhkan pemahaman yang lebih baik atas pesan persuasif dan mendorong penerimaan kritis di masyarakat.
Inovasi
Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan komparatif, menyintesis literatur yang ada tentang bahasa politik dari konteks budaya Thailand dan Amerika. Metodologi ini berpijak pada tiga pilar teoretis: perangkat retorika, pembuktian daya pikat Aristoteles (ethos, pathos, logos), dan dimensi nilai budaya Hofstede. Tinjauan ini secara sistematis menelaah penelitian sebelumnya dan kontemporer untuk mengidentifikasi pola lintas budaya dalam wacana politik. Proses analitisnya meliputi: (1) memilih studi relevan yang membahas bahasa politik dalam konteks Thailand dan Amerika; (2) mengategorikan strategi retorika dan daya pikat persuasif berdasarkan kerangka Aristoteles; (3) menerapkan dimensi Hofstede (misalnya, jarak kekuasaan, individualisme-kolektivisme, penghindaran ketidakpastian) untuk menafsirkan perbedaan budaya; dan (4) membandingkan dan menyandingkan temuan untuk menarik implikasi bagi masyarakat kritis. Artikel ini tidak melakukan pengumpulan data empiris, melainkan bersandar pada sintesis kualitatif karya ilmiah. Lensa komparatif memungkinkan pemahaman yang bernuansa tentang bagaimana nilai budaya membentuk komunikasi politik dan bagaimana perangkat retorika digunakan secara berbeda lintas budaya. Tinjauan ini disusun untuk memberikan ikhtisar yang komprehensif, dengan setiap bagian dibangun di atas bagian sebelumnya hingga berujung pada implikasi praktis bagi komunikasi lintas budaya dan literasi media kritis.
Pendahuluan
Bahasa politik telah lama menjadi fokus utama lintas disiplin seperti ilmu politik, linguistik, sosiologi, antropologi, dan analisis wacana. Ciri retorik, persuasif, dan manipulatifnya menjadikannya alat yang ampuh untuk memengaruhi opini publik dan membentuk norma sosial. Artikel ini bertujuan menjelaskan atribut lintas budaya bahasa politik dengan membandingkan perspektif budaya Thailand dan Amerika. Artikel ini mengadopsi kerangka teoretis yang mencakup perangkat retorika, pembuktian daya pikat Aristoteles (1952), dan dimensi nilai budaya Hofstede (2001). Premis dasarnya adalah bahwa bahasa dalam konteks politik berfungsi sebagai instrumen persuasi dan manipulasi yang berpengaruh, menyampaikan pesan yang meyakinkan melalui pidato, debat, jawaban resmi, dan pengumuman kepada warga negara dan audiens global. Inti tinjauan ini adalah hubungan yang saling terkait antara bahasa dan budaya. Artikel ini memberikan ikhtisar singkat atas literatur sebelumnya dan kontemporer tentang wacana retorik, pembuktian daya pikat persuasif, dan dimensi nilai budaya lintas batas antarbudaya. Pembahasan disusun menjadi empat bagian utama: 1) ikhtisar retorik; 2) pendekatan analitis terhadap kajian bahasa politik; 3) perspektif antarbudaya dalam pembahasan; dan 4) ringkasan dan implikasi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi kajian komunikasi lintas budaya yang luas dengan menumbuhkan pemahaman yang lebih baik atas pesan persuasif dan mendorong penerimaan kritis di masyarakat.
Mengapa penting
Analisis ini menggali implikasi perbedaan lintas budaya tersebut bagi masyarakat kritis. Pertama, memahami dimensi nilai budaya membantu menjelaskan mengapa strategi retorika tertentu beresonansi dalam satu budaya tetapi tidak pada budaya lain. Misalnya, gaya debat yang langsung dan konfrontatif mungkin efektif di Amerika Serikat tetapi dianggap kasar atau tidak efektif di Thailand. Kedua, tinjauan ini menyoroti pentingnya literasi media kritis: warga negara harus mengenali bagaimana bahasa politik dirancang untuk membujuk dan memanipulasi, sering kali dengan memanfaatkan norma budaya. Ketiga, temuan ini menunjukkan bahwa kajian komunikasi lintas budaya harus memasukkan kerangka retorik dan budaya sekaligus untuk menghindari bias etnosentris. Artikel ini juga membahas batasan: tinjauan ini didasarkan pada literatur sekunder dan mungkin tidak menangkap pergeseran terkini dalam wacana politik, seperti dampak media sosial. Penelitian mendatang dapat melakukan perbandingan empiris atas pidato politik, debat, dan unggahan media sosial lintas budaya. Akhirnya, implikasinya meluas ke pendidikan dan jurnalisme: pelatihan dalam analisis retorik dan kesadaran budaya dapat memberdayakan individu untuk menjadi konsumen pesan politik yang lebih jeli, sehingga menumbuhkan masyarakat yang lebih kritis dan terlibat. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa bahasa politik adalah pedang bermata dua—mampu menginformasikan dan mempersatukan, tetapi juga menyesatkan dan memecah belah—dan bahwa perspektif lintas budaya sangat penting untuk menavigasi kompleksitasnya.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…