Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholatโ€ฆ

Editorial Humaniora

Open AccessOA2024

Memahami Kerangka Metafisika dalam Filsafat Moral St. Agustinus: Sebuah Penyelidikan Analitis

Ringkasan ini menyintesiskan penyelidikan kualitatif Marimuthu Prahasan terhadap integrasi Manikheisme, Neo-Platonisme, dan teologi Kristen oleh St. Agustinus untuk membentuk kerangka metafisika yang menopang integritas moral, legitimasi politik, dan perang defensif.
Marimuthu Prahasanยท South Asian Journal of Social Sciences and Humanitiesยท 2024ยท DOI 10.48165/sajssh.2024.5312

Masalah inti

Santo Agustinus adalah tokoh sentral dalam filsafat Barat, dikenal karena menyintesiskan Manikheisme, Neo-Platonisme, filsafat moral kuno, dan teologi Kristen menjadi paradigma religius-filosofis yang unik. Kerangkanya membahas kondisi manusia dan pemenuhan spiritual melalui konsep-konsep metafisika yang saling terkait: hakikat ketuhanan, asal-usul kosmis, jiwa manusia, masalah kejahatan, dan kehendak bebas. Pemikiran Agustinus membimbing individu menuju integritas moral dan pendakian spiritual. Aspek khasnya adalah pandangannya tentang pemerintahan sebagai mandat ilahi, di mana otoritas duniawi melindungi umat beriman dan menegakkan tatanan moral, sehingga melegitimasi perang defensif. Ia juga mengembangkan sikap epistemologis untuk mempertahankan pernyataan teologis terhadap tantangan filosofis. Studi ini, oleh Marimuthu Prahasan, menggunakan penyelidikan kualitatif yang berpijak pada sumber sekunder untuk menjelaskan keterkaitan antara cita-cita metafisika Agustinus dan kesejahteraan manusia, legitimasi pemerintahan, serta justifikasi moral untuk perang defensif, sekaligus menegaskan relevansinya yang bertahan dalam wacana kontemporer.

Inovasi

Studi ini menggunakan penyelidikan kualitatif berdasarkan sumber sekunder. Studi ini melibatkan analisis tekstual dan konseptual atas karya-karya Agustinus serta interpretasi ilmiah terkait untuk mengeksplorasi keterkaitan antara kerangka metafisikanya dan ranah praktis seperti etika, politik, dan perang. Metodologinya bersifat interpretatif, bertujuan menjelaskan koherensi dan implikasi pemikiran Agustinus alih-alih menguji hipotesis empiris. Pendekatan ini memungkinkan pemeriksaan mendalam atas sintesis Agustinus terhadap berbagai tradisi intelektual dan penerapannya pada debat filosofis kontemporer.
Pendahuluan
Santo Agustinus adalah tokoh sentral dalam filsafat Barat, dikenal karena menyintesiskan Manikheisme, Neo-Platonisme, filsafat moral kuno, dan teologi Kristen menjadi paradigma religius-filosofis yang unik. Kerangkanya membahas kondisi manusia dan pemenuhan spiritual melalui konsep-konsep metafisika yang saling terkait: hakikat ketuhanan, asal-usul kosmis, jiwa manusia, masalah kejahatan, dan kehendak bebas. Pemikiran Agustinus membimbing individu menuju integritas moral dan pendakian spiritual. Aspek khasnya adalah pandangannya tentang pemerintahan sebagai mandat ilahi, di mana otoritas duniawi melindungi umat beriman dan menegakkan tatanan moral, sehingga melegitimasi perang defensif. Ia juga mengembangkan sikap epistemologis untuk mempertahankan pernyataan teologis terhadap tantangan filosofis. Studi ini, oleh Marimuthu Prahasan, menggunakan penyelidikan kualitatif yang berpijak pada sumber sekunder untuk menjelaskan keterkaitan antara cita-cita metafisika Agustinus dan kesejahteraan manusia, legitimasi pemerintahan, serta justifikasi moral untuk perang defensif, sekaligus menegaskan relevansinya yang bertahan dalam wacana kontemporer.

Mengapa penting

Pembahasan menyoroti relevansi pemikiran Agustinus yang bertahan. Sintesisnya atas Manikheisme, Neo-Platonisme, dan teologi Kristen memberikan paradigma yang komprehensif untuk memahami kondisi manusia. Konsep-konsep metafisikanya tidak abstrak, melainkan memberi bentuk pada ranah praktis: integritas moral, legitimasi pemerintahan, dan justifikasi perang defensif. Pandangan Agustinus tentang pemerintahan sebagai mandat ilahi memiliki implikasi bagi teologi politik dan teori perang yang adil. Pendekatan epistemologisnya menunjukkan bagaimana klaim teologis dapat dipertahankan secara filosofis. Studi ini menyarankan bahwa kerangka Agustinus dapat memperkaya debat kontemporer tentang kesejahteraan, otoritas, dan konflik. Namun, ketergantungan pada sumber sekunder dapat membatasi kedalaman analisis tekstual yang orisinal. Penelitian selanjutnya dapat terlibat lebih langsung dengan teks-teks primer Agustinus untuk mengeksplorasi keterkaitan ini lebih jauh.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten memberโ€ฆ