Editorial Pertanian & Lingkungan
Open AccessOA2024
Perbandingan Kinerja AAS, ICP-MS, dan pXRF untuk Analisis Tembaga pada Tanah Pertanian
Studi ini membandingkan kandungan tembaga total pada tanah pertanian menggunakan AAS, ICP-MS, dan pXRF, menemukan korelasi kuat (R² > 0,996) dan menunjukkan pXRF sebagai alat yang andal untuk memantau tanah tercemar tembaga.
M. Poljak; Ž. Zgorelec; I. Kisić; Željka Kuharić; Aleksandra Perčin· Journal of Central European Agriculture· 2024· DOI 10.5513/jcea01/25.2.4279
Masalah inti
Tembaga (Cu) adalah unsur yang tidak dapat terurai secara hayati dan terakumulasi di tanah pertanian akibat aktivitas antropogenik seperti aplikasi fungisida, pupuk kandang, dan penggunaan agrokimia. Sifatnya yang persisten menuntut pemantauan rutin untuk menilai risiko lingkungan dan agronomis. Metode analitik tradisional seperti spektrofotometri serapan atom (AAS) dan spektrometri massa plasma gandeng induktif (ICP-MS) akurat tetapi memerlukan infrastruktur laboratorium, tenaga terampil, dan persiapan sampel yang panjang. Spektrometer fluoresensi sinar-X portabel (pXRF) telah meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir, menawarkan analisis yang cepat, non-destruktif, dan hemat biaya. Studi ini bertujuan membandingkan kinerja AAS, ICP-MS, dan pXRF untuk menentukan kandungan Cu total pada tanah pertanian dari Kroasia Barat Laut, mengevaluasi apakah pXRF dapat menjadi alternatif yang andal untuk pemantauan rutin.
Inovasi
Tiga puluh lima sampel tanah dikumpulkan dari dua kebun anggur, lahan garapan, dan padang rumput di Kroasia Barat Laut. Sampel dikeringkan dengan udara, digiling, dan dihomogenkan. Kandungan tembaga ditentukan menggunakan tiga metode:
- **pXRF**: Penganalisis XRF genggam dalam kondisi laboratorium.
- **ICP-MS**: Setelah digesti terbuka dengan aqua regia.
- **AAS**: Setelah digesti terbuka dengan aqua regia.
Analisis statistik mencakup koefisien korelasi (R²) dan plot Bland-Altman untuk menilai kesesuaian antar metode. Desain studi memungkinkan perbandingan langsung konsentrasi Cu pada berbagai tingkat pencemaran.
Pendahuluan
Tembaga (Cu) adalah unsur yang tidak dapat terurai secara hayati dan terakumulasi di tanah pertanian akibat aktivitas antropogenik seperti aplikasi fungisida, pupuk kandang, dan penggunaan agrokimia. Sifatnya yang persisten menuntut pemantauan rutin untuk menilai risiko lingkungan dan agronomis. Metode analitik tradisional seperti spektrofotometri serapan atom (AAS) dan spektrometri massa plasma gandeng induktif (ICP-MS) akurat tetapi memerlukan infrastruktur laboratorium, tenaga terampil, dan persiapan sampel yang panjang. Spektrometer fluoresensi sinar-X portabel (pXRF) telah meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir, menawarkan analisis yang cepat, non-destruktif, dan hemat biaya. Studi ini bertujuan membandingkan kinerja AAS, ICP-MS, dan pXRF untuk menentukan kandungan Cu total pada tanah pertanian dari Kroasia Barat Laut, mengevaluasi apakah pXRF dapat menjadi alternatif yang andal untuk pemantauan rutin.
Mengapa penting
Korelasi kuat dan kesesuaian antara pXRF dengan metode rujukan (AAS dan ICP-MS) menunjukkan bahwa pXRF adalah alat yang andal untuk menganalisis tanah pertanian tercemar Cu. Variasi kecil pada rata-rata (138,9–141,3 mg/kg) berada dalam batas yang dapat diterima untuk pemantauan lingkungan. pXRF menawarkan keunggulan dalam kecepatan, biaya, dan portabilitas, sehingga cocok untuk survei tanah skala besar dan penilaian di lokasi. Namun, batasan seperti efek matriks, kadar air, dan kalibrasi harus dipertimbangkan. Studi ini mendukung penggunaan pXRF sebagai alat penyaringan, dengan analisis konfirmasi oleh ICP-MS atau AAS ketika keputusan regulasi diperlukan. Penelitian selanjutnya harus memvalidasi pXRF pada berbagai jenis tanah dan tingkat pencemaran.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…