Editorial ilmu komputer
Open AccessOA2023
Membandingkan pengaruh kerendahan hati intelektual, religiusitas, dan konservatisme politik terhadap sikap terhadap vaksin di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris
Tiga studi di AS, Kanada, dan Inggris menunjukkan bahwa kerendahan hati intelektual—kemampuan mengenali batas keyakinan seseorang—adalah prediktor paling konsisten atas sikap pro-vaksin, melampaui keyakinan pada sains, konservatisme politik, dan religiusitas.
Jesse L. Preston; A. Khan· Public Understanding of Science· 2023· DOI 10.1177/09636625231191633
Masalah inti
Keraguan terhadap vaksin tetap menjadi tantangan kesehatan publik yang signifikan di banyak negara, dan memahami akar psikologis serta ideologisnya sangat penting untuk persuasi yang efektif. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan sikap pro-vaksin dengan berbagai sistem keyakinan, termasuk keyakinan pada sains, orientasi politik, dan religiusitas. Namun, kepentingan relatif dari faktor-faktor ini—dan khususnya peran kerendahan hati intelektual—belum dibandingkan secara sistematis lintas konteks nasional. Kerendahan hati intelektual didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami batas keyakinan sendiri dan tetap terbuka untuk merevisinya berdasarkan bukti baru. Studi ini menguji bagaimana kerendahan hati intelektual, keyakinan pada sains, religiusitas, dan konservatisme politik memprediksi sikap pro-vaksin di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Para penulis berhipotesis bahwa kerendahan hati intelektual akan menjadi prediktor yang kuat di ketiga negara, berpotensi melebihi faktor ideologis dan kognitif lainnya.
Inovasi
Para peneliti melakukan tiga studi terpisah dengan responden dari Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Partisipan menyelesaikan pengukuran sikap pro-vaksin, kerendahan hati intelektual, keyakinan pada sains, religiusitas, dan konservatisme politik. Sikap pro-vaksin dinilai menggunakan item tipe Likert yang mengukur persetujuan terhadap pernyataan yang mendukung vaksinasi. Kerendahan hati intelektual diukur menggunakan skala yang mapan yang menangkap kesadaran akan keterbatasan kognitif seseorang dan keterbukaan terhadap pandangan yang berlawanan. Keyakinan pada sains dinilai melalui item yang mencerminkan kepercayaan pada metode dan temuan ilmiah. Religiusitas diukur melalui frekuensi kehadiran religius dan kepentingan agama yang dilaporkan sendiri. Konservatisme politik diukur menggunakan item orientasi politik standar. Analisis menggunakan model korelasi dan regresi berganda untuk membandingkan pengaruh yang tumpang tindih dari prediktor-prediktor ini terhadap sikap terhadap vaksin dalam setiap sampel negara. Model regresi mengontrol keyakinan dan gaya berpikir lain untuk mengisolasi kontribusi unik dari setiap prediktor.
Pendahuluan
Keraguan terhadap vaksin tetap menjadi tantangan kesehatan publik yang signifikan di banyak negara, dan memahami akar psikologis serta ideologisnya sangat penting untuk persuasi yang efektif. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan sikap pro-vaksin dengan berbagai sistem keyakinan, termasuk keyakinan pada sains, orientasi politik, dan religiusitas. Namun, kepentingan relatif dari faktor-faktor ini—dan khususnya peran kerendahan hati intelektual—belum dibandingkan secara sistematis lintas konteks nasional. Kerendahan hati intelektual didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami batas keyakinan sendiri dan tetap terbuka untuk merevisinya berdasarkan bukti baru. Studi ini menguji bagaimana kerendahan hati intelektual, keyakinan pada sains, religiusitas, dan konservatisme politik memprediksi sikap pro-vaksin di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Para penulis berhipotesis bahwa kerendahan hati intelektual akan menjadi prediktor yang kuat di ketiga negara, berpotensi melebihi faktor ideologis dan kognitif lainnya.
Mengapa penting
Temuan studi ini menyoroti kerendahan hati intelektual sebagai faktor psikologis kunci yang mendasari sikap pro-vaksin, melampaui pengaruh ideologi politik dan religiusitas dalam memprediksi penerimaan vaksin di AS, Kanada, dan Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang bertujuan menumbuhkan kerendahan hati intelektual—seperti mendorong keterbukaan pikiran dan pengenalan batas kognitif seseorang—dapat efektif dalam meningkatkan penerimaan vaksin. Efek diferensial konservatisme politik dan religiusitas antarnegara menunjukkan bahwa konteks budaya dan politik membentuk bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi sikap terhadap vaksin. Misalnya, peran konservatisme politik yang lebih kuat di AS dan Kanada mungkin mencerminkan politisasi vaksin di negara-negara tersebut, sementara tidak adanya efek di Inggris bisa disebabkan oleh dinamika politik yang berbeda. Para penulis menyimpulkan bahwa kerendahan hati intelektual harus diselidiki lebih lanjut sebagai target persuasi dan pesan kesehatan publik, dan penelitian mendatang harus mengeksplorasi cara menumbuhkannya pada populasi yang beragam.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…