Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholatโ€ฆ

Editorial Ilmu Sosial

Open AccessOA2024

Menggabungkan antropologi dan pencitraan untuk merekonstruksi trauma antemortem demi tujuan identifikasi

Digest ini merangkum studi kasus ketika teknik antropologis dan pencitraan merekonstruksi urutan unik peristiwa traumatik antemortem pada sisa kerangka, membantu identifikasi. Temuan ini menekankan pentingnya menggabungkan analisis makroskopis dan radiologis untuk menafsirkan fraktur yang telah sembuh dan intervensi bedah.
Anja Petaros; Maria Lindblom; Eugรฉnia Cunhaยท Forensic Sciences Researchยท 2024ยท DOI 10.1093/fsr/owae048

Masalah inti

Identifikasi sisa tubuh yang tidak dikenal bergantung pada perbandingan ciri ante- dan postmortem menggunakan penanda biologis. Penanda antropologis, yang diklasifikasikan INTERPOL sebagai sekunder, sering dianggap kurang andal dibandingkan penanda primer seperti DNA, sidik jari, dan catatan gigi. Namun, penanda antropologis terbukti sama diskriminatifnya dengan sumber primer dalam banyak kasus dan dapat berperan menentukan dalam identifikasi positif. Untuk meningkatkan penggunaannya, penting mengembangkan protokol standar dan kerangka statistik, serta menguji berbagai pendekatan identifikasi dalam praktik sehari-hari. Bukti trauma antemortem pada kerangka dapat menjadi bantuan berharga, terutama ketika jenis peristiwa traumatik yang tepat dapat diidentifikasi. Artikel ini menyajikan kasus ketika kombinasi analisis antropologis dan pencitraan mengonfirmasi urutan unik peristiwa traumatik antemortem pada sisa kerangka yang tidak lengkap.

Inovasi

Kasus ini melibatkan sisa kerangka yang diduga milik individu yang hilang beberapa tahun sebelumnya. Rekam medis individu tersebut mengungkap riwayat trauma unik pada femur kanan: fraktur akibat jatuh dari ketinggian, diikuti 10 tahun kemudian oleh luka tembak pada tulang yang sama. Kedua cedera ditangani dengan fiksasi paku intramedula. Analisis antropologis bertujuan mencocokkan profil biologis individu yang hilang dan mengidentifikasi setiap defek yang telah sembuh. Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menilai tulang terhadap prosedur bedah dan fraktur yang telah sembuh sebelumnya. Kombinasi analisis antropologis makroskopis dan pencitraan radiologis memungkinkan rekonstruksi rinci peristiwa traumatik dan intervensi bedah.
Pendahuluan
Identifikasi sisa tubuh yang tidak dikenal bergantung pada perbandingan ciri ante- dan postmortem menggunakan penanda biologis. Penanda antropologis, yang diklasifikasikan INTERPOL sebagai sekunder, sering dianggap kurang andal dibandingkan penanda primer seperti DNA, sidik jari, dan catatan gigi. Namun, penanda antropologis terbukti sama diskriminatifnya dengan sumber primer dalam banyak kasus dan dapat berperan menentukan dalam identifikasi positif. Untuk meningkatkan penggunaannya, penting mengembangkan protokol standar dan kerangka statistik, serta menguji berbagai pendekatan identifikasi dalam praktik sehari-hari. Bukti trauma antemortem pada kerangka dapat menjadi bantuan berharga, terutama ketika jenis peristiwa traumatik yang tepat dapat diidentifikasi. Artikel ini menyajikan kasus ketika kombinasi analisis antropologis dan pencitraan mengonfirmasi urutan unik peristiwa traumatik antemortem pada sisa kerangka yang tidak lengkap.

Mengapa penting

Kasus ini menegaskan kesulitan dalam menafsirkan trauma antemortem dan pentingnya menggabungkan analisis makroskopis dan radiologis. Rekonstruksi peristiwa traumatik sebelumnya dan mekanisme cedera dari fraktur yang telah sembuh dapat berperan krusial dalam identifikasi manusia forensik. Temuan ini menunjukkan bahwa penanda antropologis, bila digabungkan dengan pencitraan, dapat memberikan bukti diskriminatif yang sebanding dengan penanda primer. Kasus ini juga menyoroti kebutuhan akan protokol standar dan kerangka statistik untuk memastikan pemanfaatan penanda antropologis yang lebih baik dalam proses identifikasi. Urutan unik trauma dan intervensi bedah dalam kasus ini menggambarkan bagaimana analisis rinci dapat membantu identifikasi positif, bahkan pada sisa kerangka yang tidak lengkap.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten memberโ€ฆ