Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Ilmu Sosial

Open AccessOA2023

Politik Birokrasi: Titik Buta dan Peluang dalam Ilmu Politik

Artikel tinjauan ini mengkaji bagaimana sarjana politik Amerika dan politik komparatif mempelajari politik birokrasi secara berbeda, sehingga menciptakan titik buta teoretis dan empiris. Kajian ini menyoroti peluang inovasi dengan menjembatani sekat subbidang tersebut pada tiga area penelitian utama: seleksi personel, pengawasan, dan pengaruh eksternal.
Sarah Brierley; Kenneth Lowande; R. Potter; Guillermo Toral· Annual review of political science (Palo Alto, Calif. Print)· 2023· DOI 10.1146/annurev-polisci-061621-084933

Masalah inti

Birokrasi hadir di mana-mana dalam tata kelola modern, berperan sebagai antarmuka kritis antara pemerintah dan warga, serta antara perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Birokrat yang tidak dipilih melalui pemilu memainkan peran sentral dalam menerjemahkan keputusan politik menjadi hasil yang nyata. Meskipun penting, kajian politik birokrasi dalam ilmu politik terpecah-pecah. Sarjana dari berbagai subbidang—terutama politik Amerika dan politik komparatif—mendekati topik ini dengan fokus, metodologi, dan asumsi yang berbeda. Fragmentasi ini menimbulkan titik buta teoretis dan empiris, tetapi juga menghadirkan peluang saling penyuburan intelektual. Tinjauan ini memetakan lanskap penelitian politik birokrasi, mengidentifikasi sekat, dan mengusulkan cara memadukan wawasan dari tradisi politik Amerika dan politik komparatif.

Inovasi

Para penulis melakukan tinjauan sistematis atas literatur politik birokrasi, dengan fokus pada tiga area penelitian yang menonjol: (1) seleksi dan retensi personel birokrasi, (2) pengawasan atas aktivitas birokrasi, dan (3) peluang pengaruh oleh aktor di luar birokrasi. Mereka menganalisis bagaimana sarjana dari politik Amerika dan politik komparatif mendekati setiap area, menyoroti perbedaan dalam pertanyaan penelitian, sumber data, dan kerangka teoretis. Tinjauan ini bersandar pada studi terbitan di jurnal dan buku ilmu politik terkemuka, menyintesis temuan untuk mengungkap pola divergensi dan konvergensi. Dengan memetakan medan intelektual, para penulis mengidentifikasi bagaimana ketersediaan data dan insentif profesional telah memperkuat titik buta khas subbidang dari waktu ke waktu.
Pendahuluan
Birokrasi hadir di mana-mana dalam tata kelola modern, berperan sebagai antarmuka kritis antara pemerintah dan warga, serta antara perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Birokrat yang tidak dipilih melalui pemilu memainkan peran sentral dalam menerjemahkan keputusan politik menjadi hasil yang nyata. Meskipun penting, kajian politik birokrasi dalam ilmu politik terpecah-pecah. Sarjana dari berbagai subbidang—terutama politik Amerika dan politik komparatif—mendekati topik ini dengan fokus, metodologi, dan asumsi yang berbeda. Fragmentasi ini menimbulkan titik buta teoretis dan empiris, tetapi juga menghadirkan peluang saling penyuburan intelektual. Tinjauan ini memetakan lanskap penelitian politik birokrasi, mengidentifikasi sekat, dan mengusulkan cara memadukan wawasan dari tradisi politik Amerika dan politik komparatif.

Mengapa penting

Para penulis berargumen bahwa sekat ini bukan sekadar deskriptif, melainkan berdampak substantif bagi pembangunan teori dan validitas empiris. Dengan memilah-milah penelitian, ilmu politik kehilangan peluang untuk menguji teori lintas konteks, memanfaatkan metodologi yang beragam, dan menjawab tantangan tata kelola yang mendesak. Misalnya, wawasan dari penelitian birokrasi tingkat jalanan dapat memberi tahu sarjana Amerika tentang pentingnya diskresi dan konteks lokal, sementara teori kontrol politik dari sarjana Amerika dapat membantu sarjana komparatif memahami bagaimana politik tingkat nasional membentuk implementasi lokal. Tinjauan ini menyarankan bahwa ketersediaan data dan insentif profesional—seperti struktur penghargaan pada jurnal dan konferensi khas subbidang—telah memperkuat titik buta tersebut. Namun, para penulis juga melihat peluang: berbagi data yang lebih luas, kolaborasi interdisipliner, dan keterlibatan eksplisit dengan literatur lintas subbidang dapat menjembatani kesenjangan. Mereka menyerukan pendekatan yang lebih terpadu dalam mempelajari politik birokrasi, yang mengakui nilai pembuatan kebijakan tingkat nasional maupun implementasi lokal, dan yang memadukan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih kokoh dan dapat digeneralisasi.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…