Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholatโ€ฆ

Editorial Ilmu Komputer & AI

Open AccessOA2026

Melampaui Pertumbuhan Ekonomi: Menilai Ulang Pembangunan Ekonomi sebagai Pendorong Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Penelitian ini menilai ulang pembangunan ekonomi sebagai pendorong pencapaian SDG dengan membandingkan metrik yang berpusat pada PDB dengan kerangka multidimensi. Menggunakan panel berimbang 139 negara (2010โ€“2024), penelitian ini menemukan bahwa PDB per kapita menjadi tidak signifikan secara statistik setelah pembangunan manusia, tata kelola, dan pangsa energi terbarukan dikendalikan, sementara model multidimensi yang dispesifikasikan penuh menjelaskan 83% variasi Indeks SDG.
Afaq Ali Khan; S. Khan; Abdul Jabar; Samrana Afzalยท Inverge Journal of Social Sciencesยท 2026ยท DOI 10.63544/ijss.v5i4.331

Masalah inti

Penelitian ini membahas pertanyaan sentral dalam riset pembangunan berkelanjutan: apakah pertumbuhan ekonomi, yang secara konvensional diukur dengan PDB per kapita, cukup menjelaskan kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)? Para penulis berargumen bahwa metrik yang berpusat pada PDB dapat mengaburkan sifat multidimensi pembangunan, yang mencakup kapabilitas manusia, kualitas institusi, dan keberlanjutan lingkungan. Tujuannya adalah menilai ulang pembangunan ekonomi sebagai pendorong pencapaian SDG dengan membandingkan model tradisional yang berfokus pada PDB dengan kerangka yang diperluas yang memasukkan pembangunan manusia, tata kelola, dan transisi energi hijau. Analisis ini dimotivasi oleh inisiatif "Beyond GDP" PBB dan kebutuhan akan validasi empiris atas pendekatan multidimensi terhadap Agenda 2030. Penelitian ini memposisikan diri dalam literatur yang berkembang yang mempertanyakan kecukupan pertumbuhan ekonomi untuk kemajuan berkelanjutan, dengan mengutip karya seperti Jansen et al. (2024) dan Kubiszewski et al. (2025) yang menganjurkan pengukuran kesejahteraan berkelanjutan dan inklusif melampaui PDB.

Inovasi

Penelitian ini menggunakan dataset panel berimbang dari 139 negara selama periode 2010โ€“2024. Variabel dependennya adalah skor Indeks SDG, ukuran komposit pencapaian SDG secara keseluruhan. Variabel independen utamanya meliputi PDB per kapita (indikator ekonomi dasar), Indeks Pembangunan Manusia (HDI), rata-rata Worldwide Governance Indicators (WGI_Avg), dan pangsa energi terbarukan. Tiga model efek tetap hierarkis yang progresif diestimasi:

1. **Dasar yang berpusat pada PDB**: Indeks SDG diregresikan hanya pada PDB per kapita.
2. **Model diperluas pembangunan manusia**: menambahkan HDI ke dasar.
3. **Model multidimensi "Beyond GDP" yang dispesifikasikan penuh**: menambahkan WGI_Avg dan pangsa energi terbarukan.

Pendekatan efek tetap hierarkis mengendalikan karakteristik spesifik negara yang invarian waktu. Untuk mengatasi potensi endogenitas dan kausalitas terbalik, para penulis juga menggunakan estimasi System GMM dan menguji variabel dependen alternatif sebagai pemeriksaan ketahanan. Strategi pemodelan ini memungkinkan para penulis mengukur daya penjelas tambahan dari setiap set indikator dan menilai apakah PDB per kapita tetap menjadi prediktor signifikan setelah dimensi pembangunan yang lebih luas dimasukkan. Desain panel mengendalikan heterogenitas yang tidak teramati tetapi tidak dapat sepenuhnya menangkap dinamika spesifik konteks, dan jendela 2010โ€“2024 mengecualikan dekade-dekade sebelumnya, membatasi wawasan tentang transformasi struktural jangka panjang. Selain itu, beberapa indikator dilaporkan secara tidak konsisten di negara-negara berpendapatan rendah, yang dapat menimbulkan kesalahan pengukuran.

Pendahuluan
Penelitian ini membahas pertanyaan sentral dalam riset pembangunan berkelanjutan: apakah pertumbuhan ekonomi, yang secara konvensional diukur dengan PDB per kapita, cukup menjelaskan kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)? Para penulis berargumen bahwa metrik yang berpusat pada PDB dapat mengaburkan sifat multidimensi pembangunan, yang mencakup kapabilitas manusia, kualitas institusi, dan keberlanjutan lingkungan. Tujuannya adalah menilai ulang pembangunan ekonomi sebagai pendorong pencapaian SDG dengan membandingkan model tradisional yang berfokus pada PDB dengan kerangka yang diperluas yang memasukkan pembangunan manusia, tata kelola, dan transisi energi hijau. Analisis ini dimotivasi oleh inisiatif "Beyond GDP" PBB dan kebutuhan akan validasi empiris atas pendekatan multidimensi terhadap Agenda 2030. Penelitian ini memposisikan diri dalam literatur yang berkembang yang mempertanyakan kecukupan pertumbuhan ekonomi untuk kemajuan berkelanjutan, dengan mengutip karya seperti Jansen et al. (2024) dan Kubiszewski et al. (2025) yang menganjurkan pengukuran kesejahteraan berkelanjutan dan inklusif melampaui PDB.

Mengapa penting

Temuan ini memberikan validasi empiris untuk inisiatif "Beyond GDP" PBB dan menantang penekanan kebijakan konvensional pada pertumbuhan PDB sebagai tuas utama pembangunan berkelanjutan. Para penulis berargumen bahwa pemerintah harus mengadopsi dasbor multidimensi untuk perencanaan nasional, memprioritaskan kualitas institusi dan reformasi antikorupsi, serta mempercepat transisi energi hijau dengan desain yang berpihak pada orang miskin. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal manusia, integritas institusi, dan keberlanjutan lingkungan adalah pendorong sejati kemajuan berkelanjutan. Pendekatan pemodelan hierarkis menunjukkan bahwa daya penjelas PDB sebagian besar diserap oleh indikator pembangunan yang lebih luas, yang menunjukkan bahwa kebijakan yang hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi mungkin gagal mempercepat pencapaian SDG. Para penulis mengakui batasan: ketergantungan pada dataset terstandardisasi internasional dengan pelaporan yang tidak konsisten di negara-negara berpendapatan rendah, ketidakmampuan efek tetap panel menangkap dinamika spesifik konteks, dan pengecualian data pra-2010 yang dapat menjelaskan transformasi struktural jangka panjang. Meskipun ada batasan ini, penelitian ini menawarkan bukti kuat bahwa kapabilitas multidimensi penting untuk pembangunan berkelanjutan. Hasilnya sejalan dengan penelitian sebelumnya, seperti Alkire et al. (2025) tentang kemiskinan dan kesejahteraan multidimensi, serta Hamid dan AlObaid (2025) tentang tata kelola dan FDI, sekaligus memperluas literatur dengan mengukur daya penjelas tambahan dari model "Beyond GDP" yang dispesifikasikan penuh. Implikasi kebijakannya jelas: untuk mempercepat Agenda 2030, pemerintah harus bergerak melampaui metrik yang berpusat pada PDB dan mengadopsi strategi terpadu multidimensi yang memprioritaskan pembangunan manusia, tata kelola, dan transisi hijau.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten memberโ€ฆ