Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Ilmu Komputer & AI

Open AccessOA2026

Bagaimana Orang yang Pernah Dipenjara Membayangkan Teknologi untuk Pembebasan Bersyarat

Studi partisipatif terhadap 31 individu yang terdampak sistem peradilan mengungkap keinginan akan alat yang menerjemahkan, mendokumentasikan, dan mengakui—bukan membongkar—kekuasaan pemasyarakatan.
Saiph Savage; Jesse Nava; Wanqing Iris Zhou; Hwijoon Lee· 2026· DOI 10.48550/arXiv.2607.16513

Masalah inti

Algoritma yang digerakkan AI dan alat otomatis semakin tertanam dalam lanskap pemasyarakatan, membentuk kelayakan pembebasan bersyarat, keputusan pembebasan, dan pengawasan. Alat-alat ini sering dibingkai sebagai solusi yang objektif dan tak terhindarkan untuk inefisiensi dan bias. Namun, alat-alat ini jarang dirancang dengan masukan dari individu yang terdampak sistem peradilan, yang berarti alat tersebut mungkin gagal memenuhi kebutuhan nyata orang yang dipenjara. Untuk mengatasi kesenjangan ini, penulis mensurvei 31 orang yang pernah dipenjara tentang pengalaman pembebasan bersyarat mereka dan visi mereka untuk teknologi yang dapat mendukung persiapan pembebasan bersyarat. Bertentangan dengan asumsi dominan, peserta tidak membayangkan alat komputasional sebagai instrumen untuk membongkar sistem penjara, melainkan sebagai sumber daya untuk menavigasi kekuasaan. Studi ini berargumen bahwa imajinasi tersebut mengarah pada teknologi yang dirancang untuk agensi strategis, di mana alat membantu individu yang dipenjara dan keluarga mereka membangun kapasitas untuk menavigasi struktur kekuasaan yang ada dalam mengejar kebebasan.

Inovasi

Peserta tidak membayangkan alat komputasional sebagai instrumen untuk membongkar sistem penjara. Sebaliknya, mereka membayangkan teknologi sebagai sumber daya untuk menavigasi kekuasaan. Tiga peran utama muncul: (1) menerjemahkan konsep pembebasan bersyarat yang kompleks ke dalam istilah yang akrab secara kultural, (2) mendokumentasikan transformasi pribadi dengan cara yang dapat dibaca dewan, dan (3) mengakui kerja keluarga yang sering tak terlihat. Visi-visi ini kontras dengan asumsi dominan bahwa individu yang terdampak sistem peradilan akan mencari teknologi abolisionis. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta memprioritaskan agensi strategis di dalam struktur kekuasaan yang ada di atas gangguan sistemik. Studi ini tidak memberikan rincian kuantitatif, tetapi tema kualitatifnya tergambar dengan jelas.
Algoritma yang digerakkan AI dan alat otomatis semakin tertanam dalam lanskap pemasyarakatan, membentuk kelayakan pembebasan bersyarat, keputusan pembebasan, dan pengawasan. Alat-alat ini sering dibingkai sebagai solusi yang objektif dan tak terhindarkan untuk inefisiensi dan bias. Namun, alat-alat ini jarang dirancang dengan masukan dari individu yang terdampak sistem peradilan, yang berarti alat tersebut mungkin gagal memenuhi kebutuhan nyata orang yang dipenjara. Untuk mengatasi kesenjangan ini, penulis mensurvei 31 orang yang pernah dipenjara tentang pengalaman pembebasan bersyarat mereka dan visi mereka untuk teknologi yang dapat mendukung persiapan pembebasan bersyarat. Bertentangan dengan asumsi dominan, peserta tidak membayangkan alat komputasional sebagai instrumen untuk membongkar sistem penjara, melainkan sebagai sumber daya untuk menavigasi kekuasaan. Studi ini berargumen bahwa imajinasi tersebut mengarah pada teknologi yang dirancang untuk agensi strategis, di mana alat membantu individu yang dipenjara dan keluarga mereka membangun kapasitas untuk menavigasi struktur kekuasaan yang ada dalam mengejar kebebasan.
Studi ini menggunakan survei terhadap 31 individu yang pernah dipenjara. Peserta ditanya tentang pengalaman pembebasan bersyarat mereka dan visi mereka untuk teknologi yang dapat mendukung persiapan pembebasan bersyarat. Survei ini bertujuan menangkap perspektif orang yang terdampak sistem peradilan, kelompok yang sering dikecualikan dari desain sistem komputasional yang memengaruhi mereka. Analisis berfokus pada mengidentifikasi peran yang dibayangkan peserta untuk teknologi dalam proses pembebasan bersyarat. Penulis tidak merinci metode pengambilan sampel, detail instrumen survei, atau teknik analisis dalam abstrak, tetapi sifat kualitatif dari penyelidikan ini terlihat dari penekanan pada visi dan imajinasi peserta. Studi ini diposisikan sebagai respons terhadap kesenjangan antara desain teknologi pemasyarakatan dan kebutuhan mereka yang tunduk padanya.

Mengapa penting

Penulis berargumen bahwa imajinasi tersebut mengarah pada teknologi yang dirancang untuk agensi strategis, di mana alat membantu individu yang dipenjara dan keluarga mereka membangun kapasitas untuk menavigasi struktur kekuasaan yang ada dalam mengejar kebebasan. Ini membingkai ulang alat komputasional untuk pembebasan bersyarat dari pengawasan menuju sistem yang berpusat pada manusia yang mendukung orang dalam menavigasi struktur kekuasaan pemasyarakatan. Pembahasan menyoroti ketegangan: meskipun AI dan alat otomatis sering dipaksakan sebagai solusi objektif, perspektif orang yang terdampak sistem peradilan mengungkap keinginan akan alat yang meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja di dalam sistem, bukan untuk menggulingkannya. Studi ini menyerukan pergeseran filosofi desain—dari pengawasan ke dukungan—dan menekankan pentingnya melibatkan individu yang terdampak sistem peradilan dalam proses desain. Penulis menyimpulkan dengan mendorong teknologi yang mengakui kerja keluarga dan menerjemahkan proses pembebasan bersyarat yang opak menjadi pengetahuan yang dapat diakses.

Siapa yang sebaiknya membaca

Praktisi dan peneliti ilmu komputer

Membuka konten member…