Editorial Humaniora
Open AccessOA2025
Menilai Risiko Manajemen Laba Melalui Lensa Filsafat Moral Individu: Wawasan dari Profesional Akuntansi
Penelitian ini mengkaji bagaimana filsafat moral individu memengaruhi persepsi etis akuntan terhadap risiko manajemen laba, dan mengungkap bahwa kaum subjektivis lebih sensitif secara etis terhadap perilaku yang mengubah laba dibandingkan kaum absolutis. Temuan ini menyoroti peran penalaran moral dalam membentuk keputusan pelaporan keuangan dalam konteks budaya dan kelembagaan.
A. Misztal; Michaล Comporekยท Risksยท 2025ยท DOI 10.3390/risks13100184
Masalah inti
Harmonisasi standar akuntansi melalui IFRS/IAS bertujuan menciptakan konsistensi dalam pelaporan keuangan secara global. Namun, faktor budaya dan kelembagaan dapat membuat para profesional menafsirkan dan menerapkan standar tersebut secara berbeda, sehingga persepsi etis menjadi bergantung pada konteks. Penelitian ini membahas bagaimana filsafat moral individu memengaruhi evaluasi etis akuntan terhadap risiko manajemen laba. Dengan berpijak pada teori akuntansi positif dan model filsafat moral personal Forsyth, penulis menyelidiki persepsi etis para profesional akuntansi Polandia mengenai berbagai praktik manajemen laba. Pertanyaan penelitian berpusat pada bagaimana penalaran moral berinteraksi dengan lingkungan budaya untuk membentuk keputusan pelaporan keuangan, yang pada akhirnya memengaruhi keandalan informasi yang diberikan kepada pemangku kepentingan.
Inovasi
Penelitian ini menggunakan survei berbasis skenario di kalangan profesional akuntansi Polandia. Survei tersebut memakai seperangkat skenario manajemen laba yang diperluas yang awalnya dikembangkan oleh Bruns dan Merchant dan kemudian dimodifikasi oleh Jooste. Skenario ini mencakup berbagai jenis praktik manajemen laba, termasuk manipulasi yang menaikkan laba versus yang menurunkan laba, manajemen laba berbasis akrual versus riil, serta manipulasi multi-tahun versus satu tahun. Filsafat moral partisipan dinilai menggunakan model Forsyth, yang mengategorikan individu menjadi idealis, subjektivis, absolutis, dan eksepsionis berdasarkan perspektif etis mereka. Survei ini bertujuan menangkap bagaimana orientasi moral yang berbeda tersebut memengaruhi evaluasi etis terhadap risiko manajemen laba. Sampel terdiri atas profesional akuntansi di Polandia, sehingga memberikan wawasan tentang konteks budaya dan kelembagaan yang spesifik.
Pendahuluan
Harmonisasi standar akuntansi melalui IFRS/IAS bertujuan menciptakan konsistensi dalam pelaporan keuangan secara global. Namun, faktor budaya dan kelembagaan dapat membuat para profesional menafsirkan dan menerapkan standar tersebut secara berbeda, sehingga persepsi etis menjadi bergantung pada konteks. Penelitian ini membahas bagaimana filsafat moral individu memengaruhi evaluasi etis akuntan terhadap risiko manajemen laba. Dengan berpijak pada teori akuntansi positif dan model filsafat moral personal Forsyth, penulis menyelidiki persepsi etis para profesional akuntansi Polandia mengenai berbagai praktik manajemen laba. Pertanyaan penelitian berpusat pada bagaimana penalaran moral berinteraksi dengan lingkungan budaya untuk membentuk keputusan pelaporan keuangan, yang pada akhirnya memengaruhi keandalan informasi yang diberikan kepada pemangku kepentingan.
Mengapa penting
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi budaya organisasi dan pelaporan keuangan. Memahami bagaimana orientasi moral yang berbeda memengaruhi persepsi terhadap intervensi manajerial dalam angka yang dilaporkan dapat membantu para eksekutif menumbuhkan budaya organisasi yang mendorong penyediaan informasi yang andal dan akurat kepada pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan etika dan program kesadaran dapat disesuaikan untuk menangani filsafat moral spesifik yang lazim di kalangan profesional akuntansi. Namun, penelitian ini memiliki batasan, termasuk ukuran sampel yang relatif kecil dan fokus pada profesional Polandia, yang dapat membatasi generalisasi. Penelitian selanjutnya sebaiknya memasukkan demografi yang lebih luas dan variabel kontekstual untuk mengeksplorasi lebih jauh keterkaitan antara filsafat moral, lingkungan budaya, dan persepsi manajemen laba. Selain itu, penelitian ini menegaskan perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana penalaran moral membentuk pengambilan keputusan etis dalam akuntansi, khususnya dalam latar budaya yang beragam.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ