Editorial Pendidikan
Open AccessOA2025
Kecerdasan Buatan dalam Penelitian Pendidikan Sains: Keadaan Saat Ini dan Tantangannya
Digest ini meninjau analisis sistematis atas 36 makalah terkait AI yang dipresentasikan pada konferensi NARST 2024, menyoroti bagaimana AI diintegrasikan ke dalam penelitian pendidikan sains dan mengidentifikasi lima tantangan utama. Temuan ini menunjukkan bahwa AI saat ini memperluas paradigma yang ada alih-alih mendefinisikannya ulang, dan menyerukan respons terkoordinasi dari komunitas NARST.
Gyeonggeon Lee; Min-Ji Yun; Xiao-Ming Zhai; Kent J. Crippenยท Journal of Science Education and Technologyยท 2025ยท DOI 10.1007/s10956-025-10239-8
Masalah inti
Integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam pendidikan sains telah menarik perhatian signifikan dalam komunitas NARST, sebuah organisasi internasional yang didirikan pada 1928 dan berdedikasi untuk meningkatkan pendidikan sains melalui penelitian. Meskipun telah puluhan tahun ada rasa ingin tahu tentang potensi teknologi untuk mentransformasi pendidikan, lonjakan minat terhadap AI belakangan ini ditandai oleh pendirian Research in Artificial Intelligence-Involved Science Education (RAISE) Research Interest Group pada 2022 dan meningkatnya jumlah studi terkait AI pada konferensi NARST. Namun, masih sedikit penelitian tentang bagaimana anggota komunitas mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan sains dan tantangan yang menyertainya. Untuk mengatasi kesenjangan ini, para penulis secara sistematis meninjau 36 makalah terkait AI yang dipresentasikan pada konferensi NARST 2024.
Inovasi
Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan sistematis, menganalisis 36 makalah terkait AI dari konferensi NARST 2024. Tinjauan ini bertujuan mengungkap pola integrasi AI, pertimbangan etis, dan tantangan yang dihadapi komunitas pendidikan sains. Analisis difokuskan pada identifikasi bagaimana AI digunakan dalam penelitian dan pengajaran, serta sejauh mana AI selaras dengan atau mentransformasi paradigma yang ada dalam pendidikan sains.
Pendahuluan
Integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam pendidikan sains telah menarik perhatian signifikan dalam komunitas NARST, sebuah organisasi internasional yang didirikan pada 1928 dan berdedikasi untuk meningkatkan pendidikan sains melalui penelitian. Meskipun telah puluhan tahun ada rasa ingin tahu tentang potensi teknologi untuk mentransformasi pendidikan, lonjakan minat terhadap AI belakangan ini ditandai oleh pendirian Research in Artificial Intelligence-Involved Science Education (RAISE) Research Interest Group pada 2022 dan meningkatnya jumlah studi terkait AI pada konferensi NARST. Namun, masih sedikit penelitian tentang bagaimana anggota komunitas mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan sains dan tantangan yang menyertainya. Untuk mengatasi kesenjangan ini, para penulis secara sistematis meninjau 36 makalah terkait AI yang dipresentasikan pada konferensi NARST 2024.
Mengapa penting
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun AI semakin terintegrasi ke dalam pendidikan sains, AI terutama memperkuat paradigma pendidikan yang ada alih-alih mendorong perubahan transformatif. Tantangan yang teridentifikasi menyoroti perlunya komunitas NARST dan anggota RAISE RIG untuk menangani isu-isu ini secara kolaboratif. Peran organisasi-organisasi ini ditinjau kembali sejalan dengan tantangan tersebut, dengan menekankan pentingnya pertimbangan etis, dukungan guru, dan kesetaraan dalam integrasi AI. Evolusi AI sebagai alat serbaguna menegaskan potensinya untuk meningkatkan penelitian dan pengajaran, tetapi juga menuntut navigasi yang cermat atas kompleksitasnya.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ