Editorial ilmu komputer
Open AccessOA2026
Aristoteles dan 'Nicomachean Ethics'-nya: Resepsi, Aktualisasi, Historiologi
Digest ini menelaah resepsi 'Nicomachean Ethics' Aristoteles melalui lensa historiologi, mengeksplorasi bagaimana 'School of Athens' karya Raphael dan krisis etika kontemporer membentuk pemahaman kita tentang filsafat praktis Aristotelian.
V. Stavniuk· Scientific Bulletin of the Izmail State University of Humanities Section «Historical sciences»· 2026· DOI 10.31909/26168774.2025-(71)-1.11-21
Masalah inti
Sosok Aristoteles menempati posisi sentral dalam sejarah peradaban dunia, dan resepsinya tercermin dalam karya seperti 'School of Athens' karya Raphael. Penulis berargumen bahwa Raphael mungkin telah mewujudkan konsepsi era Renaisans tentang Plato dan Aristoteles, yang mencerminkan apa yang bisa disebut kerangka 'paradigmatik' (dalam semangat Thomas Kuhn) atau 'epistemik' (dalam semangat Michel Foucault). Diskusi tentang sejauh mana Raphael secara sadar mengodekan gagasan semacam itu masih berlangsung dan secara inheren bersifat interdisipliner. Makalah ini mengusulkan agar studi historis yang berfokus pada resepsi warisan peradaban—khususnya peradaban Yunani-Romawi kuno—tidak hanya menggunakan metode historiografis tetapi juga historiologis. Pertanyaan tentang 'pesan' yang mungkin dikodekan Raphael, sebagaimana disarankan oleh 'Angeletics Theory', juga masih diperdebatkan. Interpretasi pesan-pesan ini tidak hanya bergantung pada 'apa yang dipersepsikan' tetapi juga pada 'siapa yang mempersepsikan', sebagaimana diungkapkan dalam prinsip: *quidquid recipitur secundum modum recipientis recipitur* (apa pun yang diterima diterima menurut cara penerimanya).
Inovasi
Penulis mengadopsi pendekatan historiologis, yang melampaui metode historiografis tradisional untuk menelaah struktur dan kondisi resepsi historis yang lebih dalam. Metode ini diterapkan pada resepsi 'Nicomachean Ethics' Aristoteles, dengan mempertimbangkan baik interpretasi historisnya maupun aktualisasinya dalam konteks kontemporer. Studi ini menggunakan perspektif interdisipliner, termasuk sejarah seni (metode ikonografis dan ikonologis), filsafat, dan sejarah budaya. Konsep 'Angeletics Theory' dirujuk untuk mengeksplorasi potensi pesan yang dikodekan dalam fresko Raphael. Metodologi ini menekankan peran pemersepsi dalam membentuk resepsi, mengakui bahwa interpretasi bervariasi menurut kerangka penerima. Penulis juga menempatkan diskusi dalam konteks yang lebih luas dari 'rehabilitasi filsafat praktis' dan 'ideal hidup Aristotelian', mengontraskannya dengan 'ideal hidup modern' yang dicirikan oleh utilitarianisme alih-alih kepraktisan.
Pendahuluan
Sosok Aristoteles menempati posisi sentral dalam sejarah peradaban dunia, dan resepsinya tercermin dalam karya seperti 'School of Athens' karya Raphael. Penulis berargumen bahwa Raphael mungkin telah mewujudkan konsepsi era Renaisans tentang Plato dan Aristoteles, yang mencerminkan apa yang bisa disebut kerangka 'paradigmatik' (dalam semangat Thomas Kuhn) atau 'epistemik' (dalam semangat Michel Foucault). Diskusi tentang sejauh mana Raphael secara sadar mengodekan gagasan semacam itu masih berlangsung dan secara inheren bersifat interdisipliner. Makalah ini mengusulkan agar studi historis yang berfokus pada resepsi warisan peradaban—khususnya peradaban Yunani-Romawi kuno—tidak hanya menggunakan metode historiografis tetapi juga historiologis. Pertanyaan tentang 'pesan' yang mungkin dikodekan Raphael, sebagaimana disarankan oleh 'Angeletics Theory', juga masih diperdebatkan. Interpretasi pesan-pesan ini tidak hanya bergantung pada 'apa yang dipersepsikan' tetapi juga pada 'siapa yang mempersepsikan', sebagaimana diungkapkan dalam prinsip: *quidquid recipitur secundum modum recipientis recipitur* (apa pun yang diterima diterima menurut cara penerimanya).
Mengapa penting
Diskusi berpusat pada implikasi pendekatan historiologis untuk memahami resepsi pemikiran etika Aristoteles. Penulis berargumen bahwa krisis tatanan moral dunia menuntut kembalinya ke teks-teks fondasional dan filsafat praktis Aristoteles. 'Ideal hidup Aristotelian' disajikan sebagai alternatif dari 'ideal hidup modern', yang mengutamakan utilitas di atas kepraktisan sejati. Studi ini menekankan pentingnya mengenali peran pemersepsi dalam proses resepsi, sebagaimana terangkum dalam prinsip *quidquid recipitur secundum modum recipientis recipitur*. Prinsip ini menyiratkan bahwa setiap resepsi dimediasi oleh konteks penerima, menjadikan studi resepsi inheren dinamis dan interpretatif. Penulis menyerukan penelitian interdisipliner lebih lanjut yang menggabungkan metode historiografis dan historiologis untuk sepenuhnya memahami kompleksitas resepsi warisan peradaban. 'Nicomachean Ethics' dengan demikian muncul bukan hanya sebagai artefak historis tetapi sebagai sumber hidup untuk evaluasi moral di masa kini.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…