Editorial ilmu komputer
Open AccessOA2025
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Balita di Wilayah Puskesmas Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang 2024
Penelitian ini menganalisis faktor yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di wilayah Puskesmas Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang, pada 2024. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan ibu, faktor individu anak, gizi, sosial ekonomi, dan perilaku merokok keluarga berhubungan dengan kejadian ISPA, sedangkan status imunisasi tidak menunjukkan hubungan.
S. Suhartina; Santy Deasy Siregar; Sarah Oculi Zaluchuยท International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)ยท 2025ยท DOI 10.51601/ijhp.v5i1.388
Masalah inti
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi pada saluran pernapasan atas atau bawah yang dapat menimbulkan beragam luaran, dari infeksi tanpa gejala atau ringan hingga penyakit berat dan fatal, bergantung pada patogen penyebab, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. Menurut World Health Organization (WHO), ISPA disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Insidensi, distribusi, dan konsekuensi ISPA bervariasi berdasarkan beberapa faktor, termasuk kondisi lingkungan (polusi udara, kepadatan rumah tangga, kelembapan, kebersihan, musim, dan suhu), ketersediaan dan efektivitas layanan medis, tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) (vaksin, akses ke fasilitas layanan kesehatan, dan kapasitas isolasi), faktor individu (usia, merokok, kemampuan faktor personal untuk menularkan infeksi, status imun, status gizi, infeksi sebelumnya atau bersamaan dengan patogen lain, dan kondisi medis yang mendasari), serta karakteristik patogen (cara penularan, transmisibilitas, faktor virulensi, dan beban mikroba) (WHO, 2020). Penelitian ini bertujuan menganalisis beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang, pada 2024.
Inovasi
Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk memperoleh data primer dari responden. Kuesioner diolah menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan regresi logistik. Penelitian ini kemungkinan menggunakan desain potong lintang, meskipun abstrak tidak merinci metode pengambilan sampel atau ukuran sampel. Uji regresi logistik digunakan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita.
Pendahuluan
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi pada saluran pernapasan atas atau bawah yang dapat menimbulkan beragam luaran, dari infeksi tanpa gejala atau ringan hingga penyakit berat dan fatal, bergantung pada patogen penyebab, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. Menurut World Health Organization (WHO), ISPA disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Insidensi, distribusi, dan konsekuensi ISPA bervariasi berdasarkan beberapa faktor, termasuk kondisi lingkungan (polusi udara, kepadatan rumah tangga, kelembapan, kebersihan, musim, dan suhu), ketersediaan dan efektivitas layanan medis, tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) (vaksin, akses ke fasilitas layanan kesehatan, dan kapasitas isolasi), faktor individu (usia, merokok, kemampuan faktor personal untuk menularkan infeksi, status imun, status gizi, infeksi sebelumnya atau bersamaan dengan patogen lain, dan kondisi medis yang mendasari), serta karakteristik patogen (cara penularan, transmisibilitas, faktor virulensi, dan beban mikroba) (WHO, 2020). Penelitian ini bertujuan menganalisis beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang, pada 2024.
Mengapa penting
Temuan ini menyoroti sifat multifaktorial ISPA pada balita. Pendidikan ibu dapat memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan dan praktik kebersihan. Faktor individu anak, seperti usia dan status imun, diketahui memengaruhi kerentanan. Status gizi merupakan determinan luaran infeksi pernapasan yang telah mapan. Faktor sosial ekonomi kemungkinan memengaruhi akses ke layanan kesehatan dan kondisi tempat tinggal. Perilaku merokok keluarga meningkatkan paparan asap rokok orang lain, faktor risiko ISPA yang telah diketahui. Tidak adanya hubungan dengan status imunisasi mungkin disebabkan oleh vaksin spesifik yang dipertimbangkan atau kekuatan statistik penelitian. Hasil ini menegaskan perlunya intervensi terpadu yang menangani faktor lingkungan, gizi, dan perilaku untuk menurunkan kejadian ISPA pada balita.
Siapa yang sebaiknya membaca
Praktisi kesehatan, peneliti klinis, dan pembaca Research Digest.
Membuka konten memberโฆ