Editorial Pendidikan
Open AccessOA2025
Literasi AI untuk Siswa yang Kurang Terlayani: Memanfaatkan Modal Budaya dari Komunitas yang Kurang Terlayani untuk Penelitian Pendidikan AI
Penelitian ini membahas keterwakilan siswa K-12 yang kurang terlayani dalam penelitian literasi AI dengan mengidentifikasi tiga jenis modal budaya—resisten, komunal, dan kreatif—yang dapat dimobilisasi untuk pendidikan AI. Melalui kolaborasi dengan 26 siswa dari komunitas yang kurang terlayani, penulis menyoroti pentingnya kemitraan peneliti-siswa dalam memanfaatkan modal budaya.
H. Cao; Kahyun Choi; Claire Park; Hee-Rin Lee· International Conference on Human Factors in Computing Systems· 2025· DOI 10.1145/3706598.3713173
Masalah inti
Seiring Artificial Intelligence (AI) terus memengaruhi berbagai aspek masyarakat, kebutuhan akan pendidikan literasi AI untuk siswa K-12 semakin meningkat. Semakin banyak studi literasi AI yang bertujuan meningkatkan kompetensi siswa dalam memahami, menggunakan, dan mengevaluasi sistem AI secara kritis. Namun, meskipun menghadapi kerentanan—akibat faktor seperti status sosial ekonomi, gender, dan ras—siswa dari komunitas yang kurang terlayani tetap kurang terwakili dalam penelitian yang ada. Untuk mengatasi kesenjangan ini, penelitian ini berfokus pada pemanfaatan modal budaya yang diperoleh siswa dari sejarah dan budaya unik komunitas mereka untuk pendidikan literasi AI. Peneliti pendidikan telah menunjukkan bahwa mengidentifikasi dan memobilisasi modal budaya merupakan strategi yang efektif untuk mendidik populasi ini.
Inovasi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kolaboratif dengan 26 siswa dari komunitas yang kurang terlayani, termasuk mereka yang kurang beruntung secara sosial ekonomi, perempuan, atau orang kulit berwarna. Melalui kolaborasi ini, peneliti bertujuan mengidentifikasi dan memahami modal budaya yang relevan untuk pendidikan literasi AI. Metodologi melibatkan kerja sama erat dengan siswa untuk mengungkap jenis modal budaya yang mereka miliki dan bagaimana hal itu dapat dimanfaatkan dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menekankan bahwa hubungan kolaboratif antara peneliti dan siswa sangat penting untuk memobilisasi modal budaya dalam penelitian pendidikan literasi AI.
Pendahuluan
Seiring Artificial Intelligence (AI) terus memengaruhi berbagai aspek masyarakat, kebutuhan akan pendidikan literasi AI untuk siswa K-12 semakin meningkat. Semakin banyak studi literasi AI yang bertujuan meningkatkan kompetensi siswa dalam memahami, menggunakan, dan mengevaluasi sistem AI secara kritis. Namun, meskipun menghadapi kerentanan—akibat faktor seperti status sosial ekonomi, gender, dan ras—siswa dari komunitas yang kurang terlayani tetap kurang terwakili dalam penelitian yang ada. Untuk mengatasi kesenjangan ini, penelitian ini berfokus pada pemanfaatan modal budaya yang diperoleh siswa dari sejarah dan budaya unik komunitas mereka untuk pendidikan literasi AI. Peneliti pendidikan telah menunjukkan bahwa mengidentifikasi dan memobilisasi modal budaya merupakan strategi yang efektif untuk mendidik populasi ini.
Mengapa penting
Temuan ini menyoroti pentingnya mengenali dan memobilisasi modal budaya dalam pendidikan literasi AI untuk siswa yang kurang terlayani. Dengan memanfaatkan modal resisten, komunal, dan kreatif, pendidik dapat menciptakan pengalaman belajar AI yang lebih inklusif dan efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa hubungan kolaboratif antara peneliti dan siswa sangat penting untuk proses ini, karena memastikan modal budaya diidentifikasi secara akurat dan diintegrasikan dengan tepat. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi keterwakilan siswa yang kurang terlayani dalam penelitian literasi AI tetapi juga memberdayakan siswa ini dengan menghargai latar belakang dan pengalaman unik mereka. Penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya terus mengeksplorasi bagaimana modal budaya dapat dimobilisasi dalam berbagai lingkungan pendidikan untuk mempromosikan pendidikan literasi AI yang setara.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…