Goldman Sachs Revisi Naik Proyeksi Harga Minyak 2026 di Tengah Penurunan Inventaris Global
Baca dalam 60 detik
- Penyesuaian Estimasi Jangka Panjang: Lembaga keuangan global kini memprediksi rerata harga Brent dan WTI akan bergerak lebih tinggi dari prakiraan awal seiring dengan menyusutnya cadangan minyak mentah di negara-negara maju.
- Dinamika Suplai Regional: Meskipun ada ekspektasi surplus pasar, terdapat pemangkasan target produksi untuk beberapa negara produsen seperti Kazakhstan dan Venezuela akibat kinerja output yang berada di bawah ekspektasi.
- Mitigasi Risiko Geopolitik: Proyeksi harga mencerminkan adanya pengurangan premi risiko secara bertahap, namun investor diperingatkan akan potensi tekanan harga jika sanksi terhadap Rusia atau Iran dilonggarkan di masa depan.

JAKARTA β Institusi perbankan investasi global, Goldman Sachs, secara resmi menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) untuk periode kuartal keempat tahun 2026 masing-masing menjadi US$60 dan US$56 per barel. Revisi naik ini didorong oleh pengamatan terhadap tren penurunan inventaris minyak di negara-negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Secara keseluruhan untuk tahun 2026, rerata harga Brent kini diperkirakan menyentuh angka US$64 per barel, melonjak signifikan dari estimasi sebelumnya yang hanya sebesar US$56, sementara WTI diprediksi rata-rata berada di level US$60 per barel.
Analisis Market: Antara Surplus Produksi dan Penurunan Cadangan
Meskipun melakukan revisi naik pada harga jangka panjang, Goldman Sachs menilai bahwa pasar minyak global masih akan berada dalam kondisi surplus sebesar 2,3 juta barel per hari sepanjang tahun 2026. Analisis teknis ini mengasumsikan tidak adanya gangguan pasokan besar dari ketegangan di Timur Tengah serta belum adanya perbaikan hubungan diplomatik antara Rusia dan Ukraina. Penyesuaian harga ke angka US$60 untuk Brent mencerminkan kalkulasi terhadap hilangnya premi risiko geopolitik secara perlahan, yang diimbangi dengan pengaruh akumulasi inventaris OECD terhadap nilai wajar komoditas di pasar.
Di sisi produksi, terdapat pergeseran peta kekuatan suplai. Goldman Sachs mengusulkan penurunan ekspektasi output bagi produsen seperti Kazakhstan, Venezuela, Iran, dan Irak karena kegagalan mencapai target produksi. Namun, kekurangan ini dinilai akan dikompensasi oleh peningkatan pasokan dari Amerika Serikat dan anggota inti OPEC yang masih memiliki kapasitas cadangan (spare capacity) yang cukup besar. Aliansi OPEC+ sendiri diperkirakan baru akan mulai meningkatkan volume produksi secara bertahap pada kuartal kedua tahun 2026.
Risiko Sektor dan Proyeksi Mendatang
Pihak perbankan memberikan catatan krusial mengenai risiko penurunan harga (downside risks). Jika terjadi pelonggaran sanksi internasional terhadap Iran atau Rusia, percepatan pertumbuhan pasokan jangka panjang dapat menekan harga Brent hingga US$5 dan WTI hingga US$8 lebih rendah dari proyeksi saat ini. Kondisi pasar saat pelaporan menunjukkan harga minyak dunia sempat terkoreksi sekitar 1% di mana Brent diperdagangkan pada kisaran US$71 dan WTI di US$65,75 akibat optimisme dari pembicaraan nuklir antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran konflik.
Kesimpulan Jangka Panjang
Memasuki tahun 2027, tren penguatan harga diperkirakan akan berlanjut dengan estimasi rerata Brent sebesar US$65 dan WTI sebesar US$61 per barel. Goldman Sachs memproyeksikan harga dapat mencapai level US$70 untuk Brent pada akhir 2027, yang dipicu oleh kombinasi antara permintaan global yang tetap kuat dan mulai melambatnya pertumbuhan pasokan di pasar internasional. Pandangan objektif ini mengisyaratkan bahwa stabilitas pasar minyak di masa depan akan sangat bergantung pada keseimbangan antara disiplin produksi produsen utama dan pemulihan inventaris global.



