IHSG Menguat 1,19%: Sektor Finansial dan Infrastruktur Topang Rebound Pasar Modal Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Dominasi Aksi Beli: Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di zona hijau dengan mayoritas saham mengalami apresiasi harga, dipicu oleh optimisme di sektor perbankan dan infrastruktur.
- Dinamika Nilai Tukar: Rupiah menunjukkan penguatan terhadap Dolar AS, bergerak selaras dengan kenaikan harga emas dunia yang menembus level rekor baru di pasar komoditas.
- Kontradiksi Sektor Komoditas: Di tengah reli pasar saham, harga minyak mentah justru mengalami koreksi, memberikan tekanan spesifik pada emiten pertambangan dan energi.

JAKARTA β Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan performa positif pada penutupan perdagangan Senin (23/02/2026), dengan kenaikan sebesar 1,19%. Penguatan ini didorong oleh aliran modal yang masuk ke sektor finansial, infrastruktur, dan agrikultur, di mana sebanyak 450 saham berhasil menguat dibandingkan 254 saham yang terkoreksi. Di tengah fluktuasi pasar global, bursa domestik menunjukkan resiliensi yang didukung oleh sentimen positif pada saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah yang menjadi motor utama penggerak indeks sepanjang sesi.
Analis menilai bahwa kebangkitan sektor finansial, yang dipimpin oleh lonjakan signifikan pada Bank Mega (MEGA) sebesar 24,77%, merefleksikan kembalinya kepercayaan investor terhadap stabilitas perbankan nasional di tahun 2026. Selain perbankan, emiten teknologi dan distribusi seperti Nusantara Voucher Distribution (DIVA) menjadi pusat perhatian setelah mencatatkan kenaikan batas atas (Auto Rejection Atas). Penguatan IHSG ini juga berjalan beriringan dengan apresiasi nilai tukar Rupiah yang menguat 0,32% ke posisi Rp16.783 per Dolar AS, menciptakan lingkungan makro yang lebih kondusif bagi pertumbuhan investasi portofolio di dalam negeri.
Namun, ketajaman analisis teknis menyoroti adanya divergensi pada pasar komoditas yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar. Sementara emas berjangka melonjak tajam lebih dari 1,2% ke level $5.145 per troy ounce sebagai aset lindung nilai, harga minyak mentah (WTI dan Brent) justru merosot di kisaran 1%. Penurunan harga energi ini berdampak langsung pada emiten seperti Hillcon Tbk (HILL) yang menyentuh level terendahnya secara historis. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi risiko investor dari komoditas energi menuju aset aman dan saham sektoral yang memiliki fundamental domestik kuat.
Proyeksi pasar modal Indonesia hingga akhir kuartal pertama 2026 diperkirakan tetap optimis namun selektif. Meskipun IHSG menunjukkan tren bullish jangka pendek, para profesional muda dan investor institusi disarankan untuk tetap memantau rilis data inflasi dan kebijakan suku bunga global yang dapat memengaruhi likuiditas pasar. Keberhasilan IHSG bertahan di atas level psikologis saat ini akan menjadi indikator krusial apakah reli ini merupakan awal dari tren kenaikan berkelanjutan atau sekadar koreksi teknis di tengah ketidakpastian harga energi global.



