Untuk pertama kalinya, Mark Zuckerberg berdiri di hadapan juri dalam persidangan penting di Los Angeles pada 18 Februari 2026. Laporan dari berbagai media siber menyoroti momen ketika CEO Meta tersebut dicecar pertanyaan mengenai "beauty filters" atau filter kecantikan di Instagram. Pengadilan ini berupaya membuktikan apakah Meta secara sengaja merancang fitur yang adiktif dan merusak citra tubuh remaja putri, sementara Zuckerberg bersikeras bahwa fitur tersebut adalah sarana ekspresi diri yang sah.
Paternalisme vs Kebebasan Kreatif
Dalam kesaksiannya, Zuckerberg dihadapkan pada dokumen internal yang menunjukkan bahwa Meta pernah berkonsultasi dengan 18 pakar eksternal, dan seluruhnya menyuarakan kekhawatiran tentang dampak psikologis filter operasi plastik. Namun, Zuckerberg menolak untuk menghapus fitur tersebut secara total. Ia menyebut pelarangan alat ekspresi diri sebagai tindakan yang "paternalistik" atau terlalu mencampuri pilihan pribadi pengguna.
Sebagai gantinya, Meta mengambil jalan tengah dengan menghentikan rekomendasi aktif filter kosmetik tertentu, namun tetap mengizinkan pengguna untuk mencarinya secara manual. Di pengadilan, pengacara penggugat (keluarga KGM) membantah logika ini dengan menanyakan apakah wajar mengharapkan anak berusia sembilan tahun memahami detail risiko tersebut. Zuckerberg tetap pada posisinya bahwa bukti ilmiah saat ini belum secara konsisten membuktikan hubungan sebab-akibat langsung antara penggunaan media sosial dan penurunan kesehatan mental secara klinis.
Preseden 'Big Tobacco' di Era Digital
Persidangan ini sering dibandingkan dengan kasus "Big Tobacco" di masa lalu, di mana perusahaan besar dituduh menutupi risiko produk mereka demi profit. Jika juri memutuskan Meta bersalah atas desain produk yang cacat (defective design), hal ini bisa memicu perubahan desain besar-besaran pada seluruh platform media sosial dan kewajiban pembayaran ganti rugi yang mencapai miliaran dolar.




