SYDNEY / JAKARTA — Australia memiliki masalah citra di Asia Tenggara. Di mata para pembuat kebijakan di Jakarta, Bangkok, atau Hanoi, Canberra sering terlihat seperti "Wakil Sheriff" Amerika Serikat yang terobsesi dengan keamanan, alih-alih sebagai mitra ekonomi yang mandiri. Analisis tajam dari The Lowy Institute menyoroti bahwa strategi "Keamanan Didahulukan" (seperti AUKUS) mungkin justru menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan diplomasi perdagangan yang sama agresifnya.
Analisis: "The Great Balancing Act"
(Keamanan & Pertahanan)
Fokus: AUKUS, Quad, Kontra-Terorisme
(Ekonomi & Investasi)
Fokus: Transisi Energi, Pendidikan, Digital
Artikel ini berargumen bahwa Australia tidak bisa sukses di Asia Tenggara hanya dengan menjual narasi "Bahaya China". Negara-negara ASEAN adalah pragmatis; mereka menginginkan investasi infrastruktur, akses pasar, dan teknologi hijau—hal-hal yang selama ini justru lebih banyak ditawarkan oleh China.
Ketidakseimbangan ini menciptakan persepsi bahwa Australia hanya peduli pada kawasan ini sebagai "zona penyangga" militer, bukan sebagai mitra kemakmuran bersama.
Tabel Kebijakan: Apa yang Harus Berubah?
| Pendekatan Lama (Security-Heavy) | Pendekatan Baru (Balanced) |
|---|---|
| Fokus: Mencegah pengaruh militer China. | Fokus: Membangun ketahanan ekonomi regional. |
| Alat Utama: Kapal selam nuklir, pakta pertahanan, latihan militer bersama. | Alat Utama: Visa bisnis yang lebih mudah, investasi energi terbarukan, beasiswa teknologi. |
| Respon ASEAN: "Curiga". Menganggap Australia memicu perlombaan senjata. | Respon ASEAN: "Menyambut". Menganggap Australia mitra pembangunan yang kredibel. |
Outlook: Realita 2026
Di tahun 2026 ini, tekanan semakin besar. Dengan ekonomi global yang melambat, negara-negara Asia Tenggara mencari mitra yang bisa membawa uang, bukan senjata.
Langkah Australia baru-baru ini untuk menunjuk "Utusan Khusus Bisnis" ke Asia Tenggara adalah awal yang baik, namun Lowy Institute memperingatkan bahwa tanpa perubahan pola pikir mendasar di Canberra (yang sering melihat Asia Tenggara melalui lensa ancaman), inisiatif tersebut hanya akan menjadi dekorasi diplomatik.




