Deselerasi konsumsi di tengah kebijakan penghematan fiskal
BUENOS AIRES β Narasi pemulihan ekonomi yang diusung pemerintahan Presiden Javier Milei kini berhadapan dengan realitas mikroekonomi yang kontradiktif. Laporan terbaru dari lembaga riset Argentina Grande menyoroti tren yang mengkhawatirkan: hampir separuh populasi kini mengandalkan tabungan, penjualan aset pribadi, atau pinjaman bank untuk sekadar membeli bahan pangan. Fenomena "pekerja miskin" (*working poor*) kian nyata, di mana individu dengan pekerjaan penuh waktu tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan dasar selama sebulan penuh akibat diskoneksi antara laju kenaikan upah dan biaya hidup riil.
Dinamika sektor riil dan risiko sistemik utang rumah tangga
Meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Argentina sebesar 4% pada 2026, distribusi pertumbuhan tersebut tampak tidak merata. Sektor perbankan dan agrikultur menunjukkan ekspansi yang kuat, namun sektor manufaktur dan perdagangan domestik mengalami kontraksi tajam. Penurunan permintaan telah memicu penurunan konsumsi pangan hingga 12,5% di tingkat ritel independen. Kebijakan "terapi kejut" fiskal Milei, yang bertujuan membangun cadangan devisa dan menyeimbangkan neraca negara, dinilai telah mengorbankan daya beli domestik melalui penahanan laju kenaikan upah di bawah angka inflasi riil.
Para ahli sosiologi ekonomi menilai bahwa metode pengukuran inflasi saat ini mungkin tidak lagi mencerminkan pola konsumsi aktual masyarakat. Keranjang barang acuan yang dikembangkan sejak 2004 gagal menangkap bobot biaya energi dan bahan bakar yang kenaikannya melampaui rata-rata inflasi umum. Dampaknya, rumah tangga terjebak dalam siklus utang predator. Data bank sentral menunjukkan bahwa sekitar 11% pinjaman pribadi berada dalam status tidak terbayar, rasio tertinggi sejak tahun 2010. Hal ini menandakan bahwa instrumen kredit yang seharusnya digunakan untuk investasi aset produktif, kini beralih fungsi menjadi penyambung hidup jangka pendek yang bersifat destruktif terhadap kekayaan rumah tangga dalam jangka panjang.
Outlook: Tantangan stabilitas sosial dan reformasi struktural upah
Secara objektif, keberlanjutan rencana ekonomi Argentina akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk merekalibrasi keseimbangan antara disiplin fiskal dan ketahanan sosial. Inisiatif politik untuk melakukan unifikasi utang dan restrukturisasi suku bunga bagi masyarakat berpendapatan rendah dapat memberikan bantuan sementara, namun tidak menyelesaikan akar permasalahan. Tanpa adanya kebijakan yang memungkinkan pertumbuhan upah selaras dengan biaya kebutuhan pokok, risiko kerawanan pangan dan proliferasi pemberi pinjaman informal akan terus menghantui stabilitas nasional. Masa depan ekonomi Argentina kini diuji bukan lagi pada angka cadangan devisa, melainkan pada kemampuan masyarakatnya untuk kembali mandiri secara finansial tanpa harus berutang demi kebutuhan meja makan.




