LONDON — Selama hampir dua dekade, Januari di Inggris identik dengan selebritas yang jatuh bangun di atas es. Namun, tradisi Minggu malam ini mungkin akan segera berakhir. Laporan terbaru menyebutkan bahwa ITV sedang mempertimbangkan untuk "mencabut steker" lemari pendingin studio Dancing on Ice. Dengan biaya operasional yang membengkak dan penonton yang mulai bosan, acara yang pernah menjadi raja rating ini kini sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Analisis: Mengapa "Dancing on Ice" Kehilangan Pesona?
Format televisi memiliki siklus hidup, dan Dancing on Ice tampaknya telah mencapai tahap senja. Masalah utamanya adalah Return on Investment (ROI).
Berbeda dengan acara bakat menyanyi atau kuis yang hanya butuh panggung dan lampu, Dancing on Ice adalah mimpi buruk logistik. Mereka harus membangun dan memelihara es, melatih selebritas selama berbulan-bulan sebelum acara dimulai (biaya pelatih), dan membayar asuransi mahal karena risiko cedera fisik yang tinggi (patah tulang, luka sayatan pisau skate). Ketika rating turun di bawah ambang batas psikologis (biasanya di bawah 3-4 juta penonton), biaya ini menjadi sulit dibenarkan.
- Infrastruktur: Mempertahankan studio es di Bovingdon Airfield memakan energi listrik yang masif.
- Cedera: Hampir setiap musim ada kontestan yang mundur karena cedera serius, mengacaukan jadwal produksi dan alur cerita.
- Casting: Kesulitan mencari selebritas "A-List" yang mau mengambil risiko cedera tinggi.
Perbandingan: Format Lama vs Format Baru
| Aspek | Dancing on Ice (ITV) | The Traitors (BBC) / Format Modern |
|---|---|---|
| Biaya Produksi | Sangat Tinggi (Teknis & Asuransi). | Rendah hingga Menengah (Lokasi tunggal, tanpa efek khusus). |
| Daya Tarik | Glamor, tarian, juri selebritas (Format 2000-an). | Psikologis, drama, pengkhianatan (Format 2020-an). |
| Tren Penonton | Menurun (Penonton tua). | Meningkat (Viral di Gen-Z/TikTok). |
Outlook: Istirahat atau Berhenti Total?
ITV pernah "mengistirahatkan" acara ini antara tahun 2014 hingga 2018. Strategi serupa mungkin akan diambil tahun depan. Memberikan jeda 2-3 tahun bisa membuat penonton merindukannya kembali, atau memberi waktu bagi produser untuk merombak total formatnya agar lebih hemat biaya. Namun, jika tren penurunan berlanjut di sisa musim 2026 ini, pembatalan permanen bukanlah hal yang mustahil.



