Teka-teki mengenai masa depan internasional Harvey Barnes akhirnya terjawab dengan tegas. Manajer tim nasional Skotlandia, Steve Clarke, mengonfirmasi bahwa winger andalan Newcastle United tersebut telah secara resmi menolak kesempatan untuk membela Tartan Army. Laporan terbaru pada 12 Februari 2026 mengungkapkan bahwa Barnes memilih untuk tetap setia pada ambisinya menembus skuad Inggris asuhan Thomas Tuchel untuk Piala Dunia 2026, meskipun ia memiliki kualifikasi untuk berpindah kewarganegaraan melalui garis keturunan kakek-neneknya.
Pernyataan Tegas Steve Clarke
Dalam sesi wawancara setelah pengundian UEFA Nations League di Brussels, Clarke tampak ingin segera mengakhiri drama yang telah berlangsung berbulan-bulan ini. "Ini adalah pertanyaan abadi yang selalu ditanyakan semua orang," ujar Clarke kepada BBC Radio 5 Live. "Kali ini saya bisa katakan dengan pasti: Harvey akan berkonsentrasi mencoba bermain untuk Inggris, dia tidak akan datang ke Skotlandia. Tidak perlu ada lagi yang bertanya kepada saya atau Harvey tentang hal ini."
Keputusan Barnes (28) terbilang cukup berisiko namun menunjukkan keyakinan diri yang tinggi. Meskipun ia hanya memiliki satu cap bersama Inggris dalam laga persahabatan melawan Wales pada 2020—yang secara teknis memungkinkan dia berpindah federasi menurut aturan FIFA—persaingan di lini serang The Three Lions sangatlah padat. Namun, performa apiknya bersama Newcastle musim ini, dengan catatan 12 gol, tampaknya menjadi dasar keyakinannya bahwa ia mampu mencuri perhatian Thomas Tuchel. Bagi Skotlandia, ini merupakan kehilangan besar mengingat mereka sangat membutuhkan kecepatan dan kreativitas di sektor sayap untuk bersaing di grup Piala Dunia mendatang melawan Brasil dan Maroko.
Fokus pada Skuad yang Ada
Clarke menegaskan bahwa ia tidak merasa kecewa dan menghormati keputusan pribadi sang pemain. Fokus utamanya kini beralih sepenuhnya pada para pemain yang telah berjasa membawa Skotlandia lolos ke Piala Dunia pertama mereka sejak 1998. Sementara itu, Barnes kini memikul beban pembuktian di level klub; ia harus mempertahankan konsistensi performanya di St James' Park jika ingin mimpinya berseragam Inggris di Amerika Utara menjadi kenyataan. Saga ini menjadi pengingat bagi para penggemar sepak bola tentang betapa rumitnya pilihan loyalitas nasional di era sepak bola modern.




