Sutradara pemenang penghargaan, Alain Gomis, kembali mengguncang panggung Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026. Dalam wawancara eksklusif dengan The Hollywood Reporter, sineas berdarah Prancis-Senegal ini membedah karya terbarunya yang masuk kompetisi utama, "Dao". Film ini menyoroti premis yang sangat emosional dan kacau: sebuah keluarga yang harus menyelenggarakan pesta pernikahan mewah dan upacara pemakaman yang khidmat pada hari yang sama.
Benturan Dua Ritual Kehidupan
Gomis menjelaskan bahwa Dao bukan sekadar drama keluarga biasa, melainkan sebuah studi visual tentang bagaimana masyarakat—khususnya di Afrika Barat—menavigasi emosi yang bertolak belakang dalam satu tarikan napas. Sang protagonis, Gloria, terjepit di antara kewajiban merayakan pernikahan putrinya dan duka mendalam atas kematian ayahnya.
Dalam wawancaranya, Gomis menekankan bahwa ia ingin menangkap "kebisingan" dari kedua acara tersebut. Di satu sisi ada musik dan tarian perayaan, di sisi lain ada ratapan dan doa kematian. Dualitas ini menjadi metafora kehidupan yang terus berjalan tanpa memedulikan perasaan individu. Secara teknis, Gomis kembali menggunakan pendekatan sinematografi yang intim dan immersive, mirip dengan karya sebelumnya, Félicité (pemenang Grand Jury Prize Berlinale 2017), membiarkan penonton merasakan sesaknya berada di tengah kerumunan yang emosional tersebut.
Kandidat Kuat Golden Bear
Para kritikus di Berlin menyambut hangat kembalinya Gomis. Dao dipuji karena keberaniannya menampilkan kompleksitas ritual tanpa terjebak dalam eksotisme. Film ini dianggap sebagai salah satu penantang terkuat untuk penghargaan tertinggi, Golden Bear, tahun ini. Bagi Gomis, film ini adalah refleksi jujur tentang bagaimana manusia menemukan keseimbangan di tengah badai kehidupan yang tak terduga.



