Getaran halus atau tremor pada tangan dan tubuh sering kali memicu kepanikan instan, terutama ketika dikaitkan dengan kondisi fatal seperti serangan jantung. Banyak masyarakat awam yang menyamakan sensasi gemetar dengan gejala kardiovaskular. Menanggapi keresahan ini, laporan terbaru dari JawaPos Kesehatan pada 13 Februari 2026 menghadirkan penjelasan medis dari ahli untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Apakah tubuh yang gemetar benar-benar lonceng peringatan dari jantung yang bermasalah, ataukah ada pemicu lain yang lebih dominan?
Klarifikasi Medis: Bukan Gejala Langsung
Menurut penjelasan dokter spesialis jantung, tremor—gerakan gemetar yang tidak terkendali—secara medis bukanlah gejala spesifik atau langsung dari penyakit jantung. Gejala klasik gangguan jantung umumnya meliputi nyeri dada sebelah kiri yang menjalar, sesak napas, dan keringat dingin.
Dokter menekankan bahwa tremor lebih sering berkaitan dengan masalah neurologis (saraf) seperti penyakit Parkinson, gangguan metabolisme seperti hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), atau kondisi hipoglikemia (gula darah rendah).
[Image of endocrine system thyroid gland]
Kesalahpahaman sering terjadi karena kondisi hipoglikemia atau gangguan tiroid sering kali memunculkan dua gejala sekaligus: tangan gemetar DAN jantung berdebar (palpitasi), sehingga pasien mengira sumber masalahnya ada di jantung.
Efek Domino Kecemasan
Namun, ada satu kondisi di mana tremor dan jantung berhubungan erat: respons tubuh terhadap stres atau kecemasan ekstrem (serangan panik). Saat seseorang panik, tubuh memproduksi adrenalin berlebih yang memacu jantung berdetak kencang sekaligus membuat otot-otot tubuh gemetar. Dalam kasus gagal jantung parah, kelemahan otot ekstrem juga bisa disalahartikan sebagai tremor.
Pesan kuncinya adalah jangan melakukan diagnosis mandiri (self-diagnosis). Jika tremor disertai nyeri dada atau sesak napas, segera ke IGD. Namun jika tremor berdiri sendiri, konsultasi ke dokter saraf atau penyakit dalam mungkin lebih tepat.




