LONDON (LyndNews) – Standard Chartered Bank kembali merilis nota riset strategis yang menyoroti potensi turbulensi jangka pendek pada pasar aset kripto. Dalam laporan terbarunya, Kepala Riset Aset Digital Geoff Kendrick memproyeksikan bahwa Bitcoin (BTC) berisiko mengalami koreksi harga hingga menyentuh level psikologis $60.000 (sekitar Rp960 juta). Analisis ini didasarkan pada kombinasi sentimen risk-off global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah serta dinamika makroekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait pergerakan US Treasury Yields yang kembali menguat, mengurangi selera investor terhadap aset berisiko tinggi.
Koreksi yang diprediksi Standard Chartered ini bukanlah sinyal pembalikan tren (trend reversal) menuju pasar bearish, melainkan sebuah rekalibrasi harga yang wajar dalam sebuah siklus pasar. Secara teknis, kenaikan ketegangan geopolitik cenderung mendorong investor memindahkan likuiditas ke aset safe haven tradisional seperti Emas dan Dolar AS, sementara aset kripto—yang sering dikorelasi dengan saham teknologi—mengalami tekanan jual sementara. Selain itu, data ekonomi AS yang solid telah menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang agresif, sehingga memberikan tekanan tambahan pada likuiditas pasar kripto.
Namun, yang menarik dari analisis ini adalah tesis jangka panjang yang tetap bullish. Standard Chartered mempertahankan keyakinan bahwa fundamental Bitcoin—terutama pasca-Halving dan adopsi ETF Spot—tetap kuat. Penurunan ke level $60.000 justru dianggap sebagai zona beli yang ideal bagi investor institusional yang sebelumnya "tertinggal" reli awal tahun. Narasi ini didukung oleh arus masuk (inflow) ETF yang diprediksi akan kembali positif begitu ketidakpastian geopolitik mereda.
Outlook Pasar: Investor disarankan untuk memantau level support $60.000 sebagai indikator kunci. Jika level ini bertahan, konsolidasi harga dapat menjadi landasan bagi reli berikutnya menuju target akhir tahun yang dipatok Standard Chartered di angka $150.000. Sebaliknya, penembusan di bawah level tersebut dapat memicu likuidasi lanjutan, menuntut manajemen risiko portofolio yang lebih defensif dalam jangka pendek.




