Di tengah antisipasi global terhadap mahakarya Rockstar Games, Grand Theft Auto VI (GTA 6), isu mengenai peran kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangannya menjadi topik hangat. Menanggapi kekhawatiran bahwa gim ini mungkin kehilangan "jiwa" akibat otomatisasi, CEO Take-Two Interactive, Strauss Zelnick, memberikan klarifikasi tegas pada Februari 2026. Dilansir dari DetikINET, Zelnick mengakui bahwa AI Generatif memang digunakan dalam proses produksi, namun ia menekankan bahwa teknologi tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan kreativitas manusia yang menjadi ciri khas studio mereka.
AI: Efisiensi, Bukan Jalan Pintas
Zelnick menjelaskan bahwa dalam pengembangan GTA 6, AI difungsikan sebagai alat pendukung (tools) untuk menangani tugas-tugas repetitif dan meningkatkan efisiensi teknis. Contoh penerapannya meliputi pembuatan variasi dialog pejalan kaki (NPC) agar terasa lebih hidup, serta pengisian detail interior bangunan dalam skala masif yang mustahil dilakukan satu per satu secara manual.
Namun, ia membantah anggapan bahwa penggunaan AI akan membuat proses pembuatan gim menjadi lebih cepat atau lebih murah secara signifikan. Menurutnya, teknologi ini justru menaikkan standar kualitas. "Setiap kali teknologi memudahkan satu hal, kami menggunakannya untuk membuat hal lain yang jauh lebih kompleks," ujarnya. Filosofi ini menegaskan bahwa Rockstar menggunakan AI untuk memperluas ambisi dunia Leonida, bukan untuk memangkas biaya tenaga kerja kreatif.
Kejeniusan Manusia Tetap Kunci
Pernyataan paling krusial dari Zelnick adalah keyakinannya bahwa "Hits diciptakan oleh kejeniusan, bukan oleh daya komputasi." Hal ini menjadi jaminan bagi para penggemar bahwa narasi satir, karakter mendalam, dan detail dunia yang kaya dalam GTA 6 tetap merupakan hasil buah pikir para penulis dan desainer manusia terbaik di industri. Di era di mana banyak studio gim mulai tergoda untuk menyerahkan kendali kreatif pada algoritma, Take-Two dan Rockstar memilih untuk tetap menempatkan manusia di kursi pengemudi.



