Retorika Tajam Islamabad: Menhan Pakistan Sebut AS Gunakan Negaranya Bak 'Tisu Toilet'
Baca dalam 60 detik
- Kekecewaan Diplomatik: Menteri Pertahanan Pakistan melontarkan kritik pedas, menuduh Amerika Serikat hanya memanfaatkan Islamabad untuk kepentingan strategis jangka pendek lalu meninggalkannya begitu saja.
- Analisis Hubungan: Pernyataan "tisu toilet" mencerminkan rasa frustrasi mendalam atas pola kemitraan keamanan yang dianggap tidak setara dan hanya menguntungkan sepihak.
- Pergeseran Geopolitik: Ketegangan ini menandakan keretakan aliansi lama, yang berpotensi mendorong Pakistan semakin mendekat ke orbit pengaruh China dan Rusia.

ISLAMABAD, LyndNews – Ketegangan diplomatik antara Pakistan dan Amerika Serikat kembali mencuat setelah Menteri Pertahanan Khawaja Asif memberikan penilaian forensik yang tajam terhadap sejarah hubungan bilateral kedua negara. Di hadapan Majelis Nasional, Asif menegaskan bahwa Washington telah memperlakukan Islamabad layaknya "aset sekali pakai"—dieksploitasi untuk kepentingan taktis sesaat, lalu ditinggalkan begitu tujuan tercapai. Pernyataan ini menandai evaluasi institusional paling kritis terhadap aliansi yang pernah menjadi poros utama dalam strategi pertahanan "War on Terror" pasca-9/11.
Evaluasi Historis & Dampak Asimetris Aliansi
Narasi "habis manis sepah dibuang" yang diutarakan Asif merefleksikan frustrasi struktural di kalangan elite pertahanan Islamabad. Ia secara eksplisit mengklasifikasikan keputusan rezim militer terdahulu untuk memfasilitasi dua intervensi AS di Afghanistan sebagai kesalahan strategis fundamental. Analisis mendalam menunjukkan bahwa alih-alih mendapatkan dividen keamanan, Pakistan justru menyerap eksternalitas negatif berupa gelombang terorisme domestik dan kerusakan tatanan sosial yang persisten pasca-penyelarasan kebijakan tahun 1999.
- • Analogi Diplomatik: "Seperti Tisu Toilet" (Disposability)
- • Periode Kritis: Pasca-1999 & Intervensi Pimpinan AS
- • Pergeseran Posisi: Dari Sekutu Strategis menjadi "Zona Penyangga"
- • Dampak Domestik: Radikalisasi Kekerasan & Kontraksi Ekonomi
Dari perspektif realisme hubungan internasional, kritik ini menyoroti ketimpangan dalam cost-benefit analysis kerja sama pertahanan kedua negara. Ketika Washington menarik diri dari teater operasi Asia Selatan, Pakistan tertinggal dengan beban rehabilitasi radikalisme tanpa payung dukungan ekonomi yang memadai. Asif menekankan bahwa keberpihakan pada agenda Washington melawan Taliban pada akhirnya menjadi bumerang yang memperlemah kedaulatan internal, meninggalkan Pakistan bergulat dengan kekerasan yang berkepanjangan dan citra global yang terdistorsi.
Eskalasi verbal di tingkat parlemen ini mengindikasikan percepatan decoupling strategis antara Islamabad dan Barat. Ke depan, Pakistan diprediksi akan semakin mengalibrasi ulang kebijakan luar negerinya menuju diversifikasi mitra regional untuk memitigasi ketergantungan pada kekuatan yang dianggap tidak reliabel. Pengakuan terbuka mengenai "kesalahan sejarah" ini menjadi landasan bagi doktrin pertahanan baru yang lebih otonom, pragmatis, dan berfokus pada kepentingan nasional di atas komitmen aliansi eksternal.



