Kontroversi Klaim Robert F. Kennedy Jr.: Benarkah Diet Keto Bisa Menyembuhkan Skizofrenia? Pakar Angkat Bicara
Baca dalam 60 detik
- Dunia kesehatan jiwa baru-baru ini dikejutkan oleh pernyataan berani dari Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Robert F.
- Kennedy Jr., yang mengklaim bahwa pola makan ketogenik atau diet keto memiliki kemampuan untuk "menyembuhkan" gangguan jiwa berat seperti skizofrenia dan gangguan bipolar.
- Pernyataan yang dilontarkan di tengah kampanye pola makan sehat ini langsung memicu gelombang debat panas di kalangan medis internasional.

Kennedy berargumen bahwa perubahan drastis pada asupan gizi, dengan menekankan lemak tinggi dan memangkas karbohidrat, dapat menjadi solusi bagi penderita gangguan mental yang selama ini sangat bergantung pada pengobatan kimia. Namun, klaim tersebut segera mendapatkan bantahan keras dari para ahli kesehatan jiwa terkemuka. Dr. Paul S. Appelbaum dari Columbia University menegaskan bahwa bukti ilmiah yang mendukung diet keto sebagai penyembuh skizofrenia masih sangat dini dan terbatas. Para pakar menilai pernyataan Kennedy sangat berisiko karena dapat menyesatkan publik, terutama keluarga pasien yang sedang berjuang mencari kesembuhan. Meskipun ada penelitian awal dari Harvard Medical School yang menunjukkan adanya perbaikan gejala pada beberapa pasien, hal tersebut belum cukup kuat untuk menggeser protokol medis standar yang menempatkan obat antipsikotik sebagai pilar utama pengobatan. Lebih lanjut, para ahli menekankan bahwa skizofrenia adalah kondisi kompleks yang tidak bisa disederhanakan hanya sebagai masalah pola makan semata. Mengabaikan terapi medis demi beralih sepenuhnya ke diet keto justru dianggap berbahaya, karena dapat memperburuk kondisi pasien jika gejala halusinasi dan delusi tidak terkendali. Meskipun pola makan sehat penting untuk kebugaran fisik, komunitas medis sepakat bahwa hingga saat ini belum ada bukti kredibel yang menyatakan diet keto adalah obat ajaib bagi skizofrenia. Pesan utamanya tetap jelas: inovasi nutrisi adalah pendukung, namun pengobatan medis profesional tetap tidak tergantikan dalam menjaga stabilitas kesehatan mental pasien.



