Paradoks Produktivitas: Adopsi AI Justru Picu Gelombang Burnout Massal di Sektor Teknologi
Baca dalam 60 detik
- SAN FRANCISCO – Riset terbaru dari UC Berkeley yang dirilis melalui Harvard Business Review mengungkapkan temuan mengkhawatirkan: penggunaan AI di tempat kerja tidak mengurangi…
- Studi intensif selama delapan bulan terhadap perusahaan teknologi ini menunjukkan bahwa alih-alih memberikan waktu luang, efisiensi yang dihasilkan AI justru membuat daftar tugas…
- Data lapangan menunjukkan bahwa karyawan yang secara aktif merangkul AI cenderung terjebak dalam siklus kerja tanpa henti.

Karena AI memungkinkan tugas diselesaikan lebih cepat, volume pekerjaan yang diberikan perusahaan justru meningkat tiga kali lipat, sementara produktivitas riil hanya naik sekitar 10%. Para peneliti menemukan bahwa waktu yang "dibebaskan" oleh teknologi secara otomatis diisi oleh tanggung jawab baru, sehingga jam kerja tetap sama atau bahkan lebih panjang dari sebelumnya. Kondisi ini menciptakan jurang antara persepsi dan realitas; sebuah uji coba terpisah menemukan pengembang senior merasa 20% lebih cepat dengan AI, padahal secara faktual mereka membutuhkan waktu 19% lebih lama untuk menyelesaikan tugas. Para ahli memperingatkan para pemimpin perusahaan dan investor bahwa tanpa regulasi beban kerja yang jelas, investasi besar pada AI justru berisiko mengubah perusahaan menjadi "mesin pembakar" talenta yang akan berdampak buruk pada retensi karyawan jangka panjang.



