Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS di Selat Hormuz, Fasilitas Aramco Diserang
Baca dalam 60 detik
- Panglima IRGC Ali Ozmaei menyatakan Teheran tengah menghitung setiap detik untuk menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat di pintu masuk Selat Hormuz.
- Serangan terhadap gedung administrasi Saudi Aramco di Dhahran memicu kebakaran tanpa korban, memperpanjang rentetan aksi milisi Houthi terhadap infrastruktur Saudi dalam sepekan terakhir.
- Presiden Trump menegaskan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela 3 November, sementara Centcom membantah klaim Teheran bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran.

Ketegangan di kawasan Teluk memanas tajam setelah Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ali Ozmaei menyatakan Teheran sedang "menghitung setiap detik" untuk menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat yang mendekati pintu masuk Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan melalui wawancara televisi yang disiarkan media afiliasi negara Iran, Rabu, dan langsung memicu kekhawatiran baru terhadap jalur pelayaran yang mengangkut hampir seperlima pasokan minyak dunia.
Ozmaei menantang Washington secara terbuka. Menurutnya, jika Amerika menganggap Selat Hormuz masih terbuka, kapal-kapal perangnya dipersilakan mendekat. Ia menyebut pasukan Iran tidak sabar menunggu momen untuk melumpuhkan armada AS di perairan strategis tersebut. Pernyataan ini muncul hanya berselang sehari setelah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa militer Amerika tidak akan melancarkan serangan ke Iran sebelum pemilu sela pada 3 November.
Di saat yang sama, Arab Saudi melaporkan bahwa sebuah gedung administrasi milik raksasa minyak Saudi Aramco di Dhahran menjadi sasaran serangan pada malam sebelumnya. Kementerian Energi Saudi menyatakan insiden itu menimbulkan kebakaran, namun tidak ada korban jiwa. Serangan tersebut menjadi bagian dari gelombang aksi milisi Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran, yang dalam sepekan terakhir meningkatkan intensitas serangan terhadap target-target di Kerajaan.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sempat menjadi sasaran serangan yang menyebabkan sejumlah korban jiwa, pembatalan penerbangan, dan kerusakan properti. Otoritas setempat memperpanjang penutupan bandara hingga Sabtu. Perang sipil Yaman pun kembali memasuki fase pertempuran skala penuh antara Houthi dan pemerintah yang diakui internasional, seiring eskalasi regional yang dipicu konflik AS-Iran.
Panglima Centcom membantah klaim Iran bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Teheran. Dalam pernyataan di platform X, Centcom menegaskan bahwa komandan angkatan laut IRGC tidak memiliki armada yang memadai, dan bahwa pasukan Amerika bersama mitra regional tetap menguasai jalur pelayaran tersebut. Centcom juga menyebut bahwa sehari sebelumnya pasukan AS membantu negara-negara Teluk mengirim lebih dari 19 juta barel minyak mentah melalui selat itu.
"Jika Amerika mengira Selat Hormuz terbuka, silakan mendekat. Kami menunggu kapal perang AS mendekati pintu masuk selat agar bisa kami tenggelamkan," ujar Ozmaei seperti dikutip media afiliasi negara Iran.
Laporan The Wall Street Journal menyebut Iran tengah memperkuat pertahanan di sekitar lokasi sensitif, termasuk fasilitas nuklir, dan menyampaikan pesan kepada pejabat regional bahwa Teheran akan membalas setiap serangan baru AS dengan tindakan retaliasi di seluruh Timur Tengah. Langkah ini dinilai sebagai persiapan menghadapi kemungkinan perang dalam beberapa pekan mendatang.
Di jalur pelayaran, sebuah kapal kargo dilaporkan terbakar dan tenggelam di Selat Hormuz setelah diduga menabrak ranjau laut saat melintas. CNBC belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Organisasi keamanan maritim United Kingdom Maritime Trade Operations kemudian melaporkan bahwa sebuah kapal kontainer terkena "proyektil tak dikenal" berdasarkan sumber terverifikasi.
Bagi Indonesia, eskalasi di Teluk membawa implikasi langsung terhadap stabilitas harga energi dan biaya logistik maritim. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga Brent dan premi asuransi pengiriman yang biasanya melonjak ketika risiko geopolitik di Selat Hormuz meningkat. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan terhadap subsidi energi dan neraca perdagangan jika konflik berkepanjangan.
Pertanyaannya kini, apakah pernyataan agresif IRGC sekadar manuver retoris menjelang pemilu sela AS, atau benar-benar sinyal persiapan konfrontasi terbuka. Yang jelas, Selat Hormuz kembali menjadi titik paling berbahaya di peta geopolitik global, dan setiap kapal yang melintasinya kini bertaruh pada stabilitas yang kian rapuh.



