Khalis Merah dan Tradisi Gol Muda Lyon: Peringkat Ketiga di Eropa
Baca dalam 60 detik
- Khalis Merah menjadi pemain Lyon ke-21 di bawah usia 20 yang mencetak gol di Ligue 1, membawa klub ke posisi ketiga dalam sejarah pencetak gol muda.
- Lyon menempati peringkat ketiga di antara klub-klub Eropa dengan 21 pemain muda pencetak gol, di belakang Monaco (25) dan setara dengan Toulouse (21).
- Dengan 70 gol dari remaja, Lyon berada di posisi ketiga di belakang Monaco dan klub lain, menunjukkan kekuatan akademi mereka.

Khalis Merah mencatatkan namanya dalam sejarah Olympique Lyonnais setelah menjadi pemain ke-21 di bawah usia 20 tahun yang mencetak gol di Ligue 1 McDonald's. Golnya ke gawang Lens akhir pekan lalu, meski tidak menyelamatkan tim dari kekalahan, menegaskan posisi Lyon sebagai salah satu klub paling produktif dalam melahirkan penyerang muda di Prancis.
Pemain berusia 19 tahun 227 hari itu mencetak gol pada penampilan ke-25 di kasta tertinggi Prancis. Ia menjadi pemain termuda ke-16 dalam daftar pencetak gol muda Lyon, jauh di belakang Rรฉmi Himbert yang mencetak gol sehari setelah ulang tahunnya yang ke-18 pada 1 Maret 2026 dalam laga Classique. Merah hanya unggul satu tempat dari Rayan Cherki dalam sejarah klub abad ke-21.
Di tingkat klub, Lyon berada di jajaran tiga besar bersama Toulouse dan Monaco. Les Gones menyamai Les Pitchouns dengan 21 pemain muda pencetak gol, tetapi masih tertinggal dari Monaco yang memiliki 25 pemain. Dalam hal total gol yang dicetak remaja, Lyon mencatat 70 gol, lebih banyak dari Toulouse (39) namun masih di bawah Monaco yang kokoh di puncak.
"Khalis Merah menjadi pemain Lyon ke-3 di bawah 20 tahun setelah Himbert dan Endrick yang mencetak gol di Ligue 1 McDonald's pada 2026," tulis redaksi Ligue 1.
Posisi Lyon ini tidak lepas dari kontribusi Karim Benzema. Peraih Ballon d'Or itu mencetak gol pertamanya pada Maret 2006 melawan AC Ajaccio saat berusia 18 tahun 75 hari. Ia kemudian menjadi top skorer Ligue 1 musim 2007/2008 dengan 20 gol sebelum genap berusia 20 tahun. Jejak Benzema menjadi fondasi reputasi Lyon sebagai kawah candradimuka penyerang muda.
Bagi sepak bola Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin. Klub-klub Tanah Air kerap mengandalkan pemain senior, sementara akademi belum konsisten memberi ruang bagi talenta belia. Lyon menunjukkan bahwa investasi pada pemain muda tidak hanya soal prestasi jangka pendek, tetapi juga nilai jual di pasar transfer. Jika Liga 1 ingin meningkatkan daya saing, memberi menit bermain kepada pemain U-20 adalah langkah strategis yang tak bisa ditunda.
Ke depan, pertanyaannya: mampukah Lyon mempertahankan tradisi ini di tengah tekanan finansial dan persaingan ketat? Atau justru klub lain yang akan menyalip? Yang jelas, sejarah mencatat bahwa Lyon bukan sekadar klub, melainkan pabrik penyerang muda yang siap bersinar di panggung Eropa.



