Xbox Uji Fitur Streak, Pemicu Debat Kecanduan Gim
Baca dalam 60 detik
- Xbox tengah menguji fitur streak yang melacak berapa minggu berturut-turut pengguna aktif bermain, memicu kekhawatiran soal manipulasi psikologis.
- Langkah ini muncul saat penjualan konsol menurun dan Microsoft melakukan reset besar-besaran dengan PHK lebih dari 1.600 karyawan.
- Jika fitur ini resmi diluncurkan, pengguna di Indonesia berisiko terjebak perilaku kompulsif, sementara regulator belum memiliki payung hukum khusus.

Microsoft dikabarkan sedang menguji coba fitur streak pada konsol Xbox yang menampilkan berapa minggu berturut-turut pengguna aktif bermain. Fitur ini terdeteksi oleh jurnalis Stephen Totilo melalui program Xbox Insider, di mana indikator visual muncul di dasbor dan menu profil pengguna.
Berdasarkan tangkapan layar yang dibagikan Totilo, antarmuka tersebut menampilkan tanda centang untuk setiap hari ia masuk selama sepekan terakhir, dan lingkaran kosong untuk hari yang terlewat. Bermain setidaknya tiga hari dalam sepekan akan memulai atau melanjutkan streak. Pengguna yang memiliki streak akan melihat ikon api disertai angka yang menunjukkan berapa minggu mereka berhasil mempertahankannya. Indikator ini juga muncul lebih menonjol di pojok kiri atas dasbor Xbox, lengkap dengan informasi seberapa dekat pengguna dengan kelanjutan streak pekan ini.
Fitur semacam ini bukan hal baru di industri teknologi. Snapchat, Wordle, dan Duolingo telah lebih dulu menerapkan sistem serupa untuk mendorong keterlibatan pengguna melalui gamifikasi. Namun, ketika diterapkan pada platform gim yang tidak memiliki tujuan produktif seperti aplikasi kesehatan atau pembelajaran bahasa, streak dinilai lebih bersifat manipulatif. Mekanisme ini memanfaatkan kecenderungan psikologis manusia yang merasa puas melihat angka terus meningkat, sehingga mendorong perilaku kembali secara kompulsif.
Kemunculan fitur ini tidak lepas dari tekanan bisnis yang dihadapi Microsoft. Penjualan konsol Xbox dilaporkan menurun tajam akibat kenaikan biaya perangkat keras. Perusahaan pun tengah menjalani fase reset yang berlangsung alot, termasuk pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.600 karyawan. Dalam situasi tersebut, mendorong keterlibatan pengguna yang sudah ada menjadi salah satu strategi untuk mempertahankan pendapatan.
Sebelumnya, Xbox juga mengumumkan pembaruan antarmuka dan profil dengan fitur Mythic Achievements, yang diberikan kepada pemain yang mencapai 100% penyelesaian gim. Fitur tersebut dinilai lebih netral karena tidak memberi hukuman jika pemain berhenti bermain untuk sementara waktu. Berbeda dengan streak yang secara halus menekan pengguna untuk terus kembali.
"Streak systems are common across tech platforms because they incentivize users to keep coming back through gamification โ thanks to something deep in our lizard brains, itโs satisfying to watch numbers go up."
Praktik serupa pernah menuai sorotan hukum. Pada Agustus lalu, Meta menyelesaikan gugatan senilai US$17 miliar dengan 47 negara bagian di Amerika Serikat terkait penggunaan fitur adiktif pada Instagram dan Facebook yang dianggap membahayakan kesehatan mental pengguna muda. Meski streak tidak disebut secara spesifik dalam gugatan itu, Meta kini menerapkan pembatasan waktu penggunaan di layanannya. Ini menjadi preseden bahwa desain yang mendorong keterlibatan berlebihan dapat berujung pada konsekuensi hukum.
Bagi Indonesia, fitur semacam ini berpotensi memengaruhi perilaku pengguna, terutama generasi muda yang merupakan pasar gim besar. Tanpa regulasi khusus yang membatasi desain adiktif, pengguna rentan terjebak dalam siklus bermain yang tidak sehat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) belum memiliki aturan spesifik yang mengatur mekanisme gamifikasi semacam ini. Padahal, dampaknya bisa meluas pada kesehatan mental dan produktivitas.
Ke depan, Microsoft perlu membuktikan bahwa fitur streak ini benar-benar mendorong keterlibatan yang sehat, bukan sekadar mengejar metrik engagement. Jika tidak, perusahaan berisiko menghadapi kritik publik dan tekanan regulator seperti yang dialami Meta. Pertanyaannya, apakah pengguna akan menyambut fitur ini sebagai tantangan, atau justru merasa terjebak dalam permainan psikologis yang melelahkan?



