MP Inggris Desak Definisi Resmi ISK Kronis: "Rasanya Seperti Jarum Panas Menusuk"
Baca dalam 60 detik
- Dr Allison Gardner, anggota parlemen Partai Buruh, mengungkap pengalaman 10 tahun mengidap infeksi saluran kemih (ISK) kronis yang membuatnya nyaris putus asa.
- Lebih dari 1,6 juta perempuan di Inggris mengalami gejala ISK kronis, namun kondisi ini belum memiliki definisi medis resmi.
- Panel ahli yang dipimpin Dr Cat Anderson menargetkan definisi resmi ISK kronis rampung pada 2027 untuk diajukan ke NICE.

Dr Allison Gardner, anggota parlemen dari Partai Buruh Inggris, mengungkapkan bahwa ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya akibat nyeri hebat yang ditimbulkan infeksi saluran kemih (ISK) kronis. Kondisi yang telah ia alami selama sekitar satu dekade itu, menurutnya, membuatnya merasa seperti "pengguna narkoba" karena harus terus-menerus mencari antibiotik dalam dosis panjang untuk meredakan gejala.
ISK kronis adalah infeksi yang gejalanya tidak kunjung hilang dan tidak kunjung sembuh dengan antibiotik jangka pendek. Kondisi ini juga sulit didiagnosis karena kadar bakteri dalam sampel urine seringkali rendah. Menurut Chronic Urinary Tract Infection Campaign (CUTIC), lebih dari 1,6 juta perempuan di Inggris mengalami gejala saluran kemih bagian bawah kronis, tetapi hingga kini tidak ada definisi medis resmi untuk kondisi tersebut.
Gardner, yang juga seorang dokter, mengatakan bahwa kurangnya konsensus mengenai apa yang dimaksud dengan ISK kronis membuatnya merasa dikesampingkan oleh dokter. Para dokter, katanya, tidak selalu memahami kondisi tersebut dan terbatas dalam meresepkan durasi antibiotik. "Anda akhirnya berburu antibiotik dalam jumlah cukup panjang yang bisa memberi sedikit kelegaan," ujarnya kepada BBC.
Ia menggambarkan rasa sakitnya sebagai "nyeri menyengat setiap kali ke toilet", seperti "jarum panas dimasukkan ke dalam tubuh dan terus membakar". Gardner mengaku pernah merasa "digaslight" oleh tenaga medis dan disarankan untuk "membersihkan diri lebih baik" setelah melaporkan rasa sakit yang hebat. Bahkan, seorang konsultan menyarankannya untuk berhenti berhubungan seks karena dapat memicu kekambuhan.
"Anda harus berjuang terus-menerus hanya untuk mendapatkan perawatan yang wajar dan tidak dituduh cemas, depresi, atau mencari perhatian," tuturnya. Puncaknya, rasa sakit dan ketiadaan jawaban membawanya ke titik terendah. "Saya sampai berpikir, jika hidup saya akan seperti ini, saya tidak bisa melanjutkan," kenang Gardner. Ia bahkan sempat mempertimbangkan menjual rumahnya untuk membiayai operasi pengangkatan kandung kemih secara privat.
Namun, tiga tahun lalu ia bertemu Dr Cat Anderson, seorang dokter umum di Staffordshire yang berpraktik di layanan privat dan NHS. Anderson adalah orang pertama yang mengidentifikasi bahwa gejala Gardner terkait dengan menopause dan meresepkan terapi penggantian hormon (HRT). "Saya bebas dari ISK selama dua tahun—hidup saya kembali," kata Gardner. Ketika ditanya apakah langkah privat bertentangan dengan prinsip Partai Buruh yang mendukung layanan kesehatan gratis, ia menjawab, "Anda dihadapkan pada pilihan, bukan? Anda menderita atau Anda ke privat... jadi saya tidak menghakimi."
Anderson, yang mengkhususkan diri pada kasus ISK rumit, kini memimpin sekelompok ahli medis untuk mengembangkan definisi medis ISK kronis guna membedakannya dari kondisi lain. Panel tersebut berharap definisi resmi akan membuka jalan bagi diagnosis dan pengobatan yang lebih baik. Menurut Anderson, infeksi yang menetap dapat "menghancurkan kualitas hidup pasien"—membatasi kemampuan bekerja atau bahkan sekadar menjemput anak di sekolah. Ia juga telah melihat orang-orang yang "benar-benar terdorong bunuh diri" akibat gejala yang "mengerikan".
Panel ahli yang dipimpin Anderson bersama Sachin Malde, seorang konsultan bedah urologi di London, berencana merilis definisi resmi ISK kronis pada 2027. Definisi tersebut kemudian akan diserahkan kepada National Institute of Health and Care Excellence (NICE). NICE menyatakan telah merekomendasikan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan "basis bukti yang jelas" sebelum membuat rekomendasi. Sementara itu, NHS England mengonfirmasi belum ada kumpulan data nasional tunggal yang secara spesifik mencatat semua kasus ISK kronis sebagai diagnosis klinis tersendiri.
Selain definisi dan perbaikan diagnosis, All Party Parliamentary Group (APPG) yang menaungi isu ini ingin semua dokter umum dilatih tentang ISK kronis dan memperkenalkan "paspor" bagi pasien agar mereka tidak perlu berulang kali menjelaskan riwayat medis. Pada April lalu, Menteri Kesehatan saat itu, Wes Streeting, mengatakan NHS memiliki "budaya misogini medis yang mengerikan" di mana perempuan sering diabaikan, digaslight, dihina, dan tidak dihormati. Namun, Luke Taylor, anggota parlemen Liberal Demokrat yang menjadi co-chair APPG, menyatakan kelompoknya "kecewa" karena pengumuman strategi kesehatan perempuan Streeting "bahkan tidak menyebut ISK, apalagi ISK kronis".
Ketika ditanya tentang perbaikan spesifik apa yang akan dilihat pasien ISK kronis, juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris mengatakan mereka berkomitmen untuk "mengurangi dampak" ISK kronis pada kehidupan orang dan telah menginvestasikan dana penelitian "untuk memastikan perempuan didengarkan di setiap tahap, dan diberikan akses ke perawatan berkualitas tinggi yang mereka butuhkan".
Kasus Gardner menyoroti kesenjangan besar dalam penanganan kesehatan perempuan, terutama untuk kondisi yang belum terdefinisi dengan baik. Di Indonesia, ISK juga menjadi masalah kesehatan yang sering diabaikan, dengan prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada perempuan. Menurut data Kementerian Kesehatan, ISK termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di layanan rawat jalan. Namun, kesadaran akan ISK kronis dan kaitannya dengan menopause masih minim. Jika di Inggris saja definisi resmi baru akan ada pada 2027, Indonesia mungkin perlu mulai mempertimbangkan langkah serupa untuk meningkatkan diagnosis dan pengobatan.
Pertanyaannya, akankah pemerintah Inggris dan negara lain, termasuk Indonesia, bergerak lebih cepat untuk mengakui ISK kronis sebagai kondisi medis yang sah? Tanpa definisi yang jelas, jutaan perempuan akan terus terjebak dalam siklus nyeri, ketidakpastian, dan perjuangan panjang untuk mendapatkan perawatan yang layak.



