Tiffani Thiessen Sambut Kembalinya Tren 90-an: 'Lingkaran Mode Itu Nyata'
Baca dalam 60 detik
- Tiffani Thiessen mengaku senang melihat putrinya, Harper (16), dan teman-temannya mengadopsi gaya busana dan tata rias era 90-an serta Y2K.
- Aktris Saved by the Bell itu menyoroti beberapa tren yang kembali populer, seperti belahan rambut zig-zag, namun ragu dengan unitard oranye yang pernah ia kenakan.
- Di tengah euforia nostalgia, Thiessen juga membagikan pengalaman pahit ditolak menjadi Bond girl yang sempat membuatnya meragukan karier aktingnya.

Aktris Tiffani Thiessen menilai kebangkitan mode 90-an dan Y2K sebagai fenomena yang menyenangkan, terutama karena ia menyaksikannya langsung melalui putrinya yang berusia 16 tahun, Harper, dan lingkaran pertemanannya. Bintang Saved by the Bell itu mengaku melihat bagaimana gaya busana, riasan, hingga tata rambut era tersebut kembali digemari generasi muda saat ini.
Dalam wawancara dengan PEOPLE, Thiessen mengungkapkan bahwa sebagai ibu dari remaja, ia secara alami terpapar tren tersebut. Ia menyebut siklus mode yang berulang sebagai sesuatu yang menarik untuk diamati, terutama karena ia pernah menjadi ikon gaya pada masanya. “Saya punya anak remaja, jadi tentu saja saya melihat gaya 90-an, dan sekarang Y2K yang sangat populer dalam fesyen, makeup, rambut, dan sebagainya,” ujarnya.
Thiessen, yang kini berusia 52 tahun, tidak hanya mengamati dari jauh. Ia mengaku cukup menyukai beberapa tren yang kembali naik daun, termasuk belahan rambut zig-zag yang sempat populer di era 90-an. Menurutnya, tren tersebut bisa menjadi cara untuk menghidupkan kembali gaya belahan samping yang sempat kalah pamor oleh belahan tengah. “Saya agak menyukainya. Belahan tengah sempat mendominasi, dan belahan samping mulai kembali, jadi mungkin ini caranya,” katanya.
Meski antusias dengan banyak tren, Thiessen tidak sepenuhnya yakin dengan kembalinya unitard—pakaian ketat sejenis bodysuit—yang pernah ia kenakan di Saved by the Bell. Ia bercanda bahwa dirinya mungkin akan memilih warna gelap jika harus memakainya lagi, atau lebih baik menyerahkan tren tersebut kepada generasi muda. “Saya tidak tahu apakah saya akan memakainya dalam warna oranye. Saya mungkin akan tetap memilih warna-warna gelap. Atau mungkin saya tidak seharusnya melakukannya di usia 52 dan biarkan generasi muda yang mengambilnya,” ujarnya.
Di balik nostalgia mode, Thiessen juga membuka cerita tentang masa sulit dalam kariernya. Ia pernah hampir mendapatkan peran sebagai Bond girl, namun gagal. Kegagalan itu membuatnya meragukan kelanjutan karier aktingnya. “Saya sangat dekat dengan peran Bond girl. Itu sangat, sangat sulit karena saya juga penggemar berat James Bond,” kenangnya dalam podcast I’ve Never Said This Before With Tommy DiDario.
“Saya ingat mempertanyakan karier saya setelah itu. Apakah saya harus terus melakukannya? Bisakah saya menangani penolakan seperti itu? Saya sudah memberikan segalanya.”
— Tiffani Thiessen
Pengalaman pahit itu justru menjadi titik balik. Thiessen menyadari bahwa dorongan untuk terus berkarya masih kuat. Ia pun mendorong orang lain yang menghadapi penolakan serupa untuk menemukan kegembiraan dalam bidang yang mereka tekuni. “Saya pikir dorongan yang saya miliki menunjukkan bahwa saya masih ingin melanjutkan. Saya tidak pernah menyerah, dan sampai sekarang saya masih menikmatinya,” tuturnya.
Kisah Thiessen mencerminkan dinamika industri hiburan yang tidak hanya soal popularitas, tetapi juga ketahanan mental menghadapi penolakan. Sementara itu, kebangkitan tren 90-an yang ia amati menunjukkan bagaimana budaya populer terus berputar, menciptakan jembatan antara generasi. Bagi Thiessen, fenomena ini bukan sekadar soal gaya, melainkan juga tentang warisan dan adaptasi.
Ke depan, menarik untuk melihat sejauh mana tren 90-an dan Y2K akan bertahan, serta bagaimana para pelaku industri mode dan hiburan merespons siklus ini. Apakah nostalgia akan terus menjadi pendorong utama kreativitas, atau justru membuka jalan bagi inovasi baru yang lebih segar?



