Bandara Riyadh Ditutup Lagi, Pertahanan Udara Saudi Diuji Serangan Houthi
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Saudi memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid setelah gelombang serangan rudal Houthi menewaskan satu orang dan merusak fasilitas.
- Serangan sebelumnya pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300, memaksa evakuasi dan pengalihan penerbangan.
- Pemerintah Saudi menghadapi tekanan untuk memperkuat pertahanan udara dan mencari solusi diplomatik di tengah konflik Yaman yang berkepanjangan.

Arab Saudi kembali memperpanjang penutupan seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Senin (12/10) setelah serangan rudal Houthi menimbulkan kerusakan tambahan dan menewaskan satu orang. Langkah ini diambil hanya dua hari setelah serangan mematikan pada Sabtu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Rekaman CCTV yang disiarkan televisi pemerintah Saudi memperlihatkan penumpang yang sedang mengantre di terminal bandara tiba-tiba diselimuti asap dan reruntuhan beton saat rudal menghantam. Otoritas penerbangan Saudi menyatakan bandara tetap ditutup untuk verifikasi keselamatan menyeluruh. Juru bicara militer Saudi juga mengungkapkan bahwa ancaman rudal dan drone tambahan masih terdeteksi.
Penutupan ini berlangsung saat Arab Saudi tetap menggelar Konferensi Energi WPC ke-25 di Riyadh, berupaya menampilkan citra normalitas. Menteri Energi Saudi, Abdulaziz bin Salman, dalam pidatonya menegaskan bahwa "rasa takut tidak memiliki tempat dalam leksikon Saudi," seraya menekankan ketahanan sistem energi kerajaan dan tekad rakyat menghadapi krisis.
Tinjauan darurat sedang dilakukan untuk mengetahui bagaimana rudal Houthi berulang kali menembus pertahanan udara Saudi yang kewalahan. Anak sekolah dan sebagian pekerja kantoran diminta bekerja dari rumah. Houthi juga menargetkan Kota Khamis Mushait dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Rudal pencegat diperlukan untuk melindungi gedung pemerintah, fasilitas minyak, dan pusat infrastruktur di wilayah geografis yang luas. Houthi bersumpah akan menyerang bandara di seluruh negeri.
Sejak bulan lalu, serangan Houthi telah menghancurkan tank bahan bakar di Bandara Riyadh dan gudang terkait, menghancurkan pesawat penumpang Airbus A320 yang diparkir, dan merusak setidaknya lima pesawat lainnya. Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman tidak terlihat di publik sejak Selasa pekan lalu, mencerminkan tekanan yang dihadapinya untuk menemukan jalan keluar dari perang yang telah membayangi kepemimpinannya sejak 2014.
Di dalam Yaman, pertempuran berlanjut di sekitar Taiz, kota terbesar ketiga dan provinsi terpadat. Pesawat Saudi melancarkan delapan serangan terpisah terhadap kumpulan pasukan Houthi. Sebanyak 60 kombatan dari kedua pihak tewas pada Minggu. Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, menyerukan pencabutan pengepungan Houthi dan memperingatkan kekurangan obat-obatan akan segera membuat kota kehabisan layanan bedah darurat dan perawatan intensif.
Houthi mengklaim Saudi melancarkan 124 serangan pada Minggu. Saudi berusaha melacak Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin kelompok itu, dengan rumor pembunuhan yang beredar, namun tampaknya tidak memiliki intelijen terkini tentang keberadaannya di Sana'a atau bentengnya di Saada.
Di jalur diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dengan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan pada Minggu untuk menjajaki kemungkinan Iran menjadi mediator antara Saudi dan Houthi, kelompok yang dilatih dan dipersenjatai Iran. Pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York pada Selasa diperkirakan akan membahas resolusi yang menyebut Houthi sebagai organisasi teroris asing.
Pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC) yang diasingkan, Aidarous al-Zubaidi, menyerukan pasukan selatan untuk bertempur di semua front, bukan hanya mempertahankan perbatasan bekas Yaman Selatan. Langkah ini kemungkinan disambut Saudi karena mendukung seruan pemerintah yang diakui PBB untuk mengusir Houthi dari seluruh Yaman. STC memiliki visi Yaman Selatan merdeka yang akan menghidupkan kembali negara terpisah yang ada antara 1967 dan 1990. Otoritas STC ditantang oleh Abd al-Rahman al-Mahrami, pemimpin Salafi yang memimpin Brigade Raksasa Selatan yang kuat.
Meskipun Araghchi berupaya menjangkau Saudi, Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang lebih garis keras, mengklaim Iran menyerang lima atau enam kapal kecil di Selat Hormuz setiap malam. Ia menjelaskan kapal-kapal itu digunakan militer Emirat untuk mengangkut minyak melalui selat ke tanker lebih besar, sehingga melanggar blokade yang ingin dipertahankan Iran untuk menaikkan harga minyak dan melemahkan Donald Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan perlakuan Trump terhadap Volodymyr Zelenskyy, termasuk seruannya agar presiden Ukraina itu mundur, menunjukkan risiko berurusan dengan Trump. "Menjadi musuh Amerika bisa berbahaya, tetapi menjadi teman Amerika mematikan. Anda bisa lihat sendiri bagaimana persahabatan dan permusuhan Amerika dengan sekutunya," ujarnya.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi harga minyak mentah dunia dan stabilitas pasokan energi. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga yang dipicu ketegangan di Selat Hormuz. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak terhadap subsidi energi dan inflasi domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Arab Saudi mampu memperkuat pertahanan udaranya atau akan terpaksa menempuh jalur diplomasi dengan Houthi dan Iran. Sementara itu, masyarakat internasional menanti hasil pertemuan DK PBB yang bisa mengubah peta konflik Yaman.



