Ketika Duka Tak Terucap: Terapi Sunyi di Bioskop dan Pelajaran untuk Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Kehilangan anggota keluarga mendorong seorang perempuan muda menemukan ruang aman di bioskop, bukan lewat percakapan terbuka.
- Fenomena ini menyoroti peran ruang publik non-terapeutik sebagai penopang kesehatan mental yang kerap luput dari perhatian.
- Di Indonesia, minimnya layanan konseling dan ruang aman serupa menuntut pendekatan alternatif yang lebih mudah diakses.

Kehilangan saudara kandung pada usia muda memaksa seseorang menata ulang hidupnya. Itulah yang dialami seorang perempuan asal Greenwich, Inggris, setelah adiknya tenggelam pada 2022. Alih-alih mengejar karier atau pindah rumah, ia memilih bertahan di rumah bersama orang tua, terjebak dalam kesedihan yang membekukan. Namun, dari keterpurukan itu, ia menemukan pelarian tak terduga: kursi bioskop.
Di rumah, duka hadir dalam tiga bentuk berbeda. Ibunya memilih olahraga, ayahnya menenggelamkan diri dalam musik, sementara ia mencari pelarian. Januari yang kelabu menjadi puncak kekosongan. Pikirannya kabur, tubuhnya hipersensitif terhadap cahaya dan suara, dan yang paling menyiksa: ia tidak merasakan apa-apa. "Saya seperti berada di limbo," kenangnya, seraya menambahkan bahwa kembali ke rutinitas terasa sia-sia.
Sebuah papan reklame di bioskop lokal menawarkan keanggotaan di bawah 25 tahun dengan tiket hari kerja seharga ยฃ5,99. Berbekal mantel ayahnya dan sebotol teh, ia berjalan menuruni bukit menuju Greenwich. Film Corsage, kisah feminis tentang Permaisuri Sisi dari Austria, menjadi titik balik. Karakter yang diperankan Vicky Krieps itu digambarkan nakal dan penuh konspirasi. "Saya merasakan emosi yang lama terpendam naik ke permukaan. Ketika lampu menyala, seperti ada katup yang terbuka dan tekanan keluar," ujarnya.
Meski terkesan sepele, menonton film di bioskop bersama orang asing memberikan solidaritas implisit. Duduk dalam gelap, ia bisa membiarkan wajahnya berkerut tanpa takut dihakimi. "Saya pernah membaca bahwa di bioskop, jantung orang-orang asing bisa berdetak bersamaan. Itu lebih menenangkan daripada simpati yang mencolok," tuturnya. Ia menghindari film bertema kehilangan seperti One Fine Morning karena terlalu menyakitkan, dan memilih tontonan yang membangkitkan semangat.
Seiring waktu, film-film itu memicu kembali rasa ingin tahu. How to Blow Up a Pipeline membangkitkan minat pada ekologi, sementara dokumenter Your Fat Friend menginspirasi artikel jurnalistik pertamanya tentang anoreksia atipikal. Pada Maret, ia mulai bangkit. "Menonton film lucu, sedih, dan konyol mengingatkan saya pada dunia di luar gelembung. Saya memutuskan untuk kembali," katanya.
"Di bioskop, saya bisa merasakan kesedihan tanpa harus menjelaskannya. Itu seperti melonggarkan otot yang tegang, bukan menekan luka."
Kisah ini menyoroti fenomena yang jarang dibahas: ruang publik non-terapeutik dapat menjadi penopang kesehatan mental. Di Inggris, layanan konseling memang tersedia, tetapi tidak semua orang siap atau mampu mengaksesnya. Bioskop menjadi alternatif yang murah dan tidak menuntut. Penelitian menunjukkan bahwa menonton film secara kolektif dapat memicu pelepasan emosi dan mengurangi rasa isolasi.
Di Indonesia, akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi depresi di atas 15 tahun mencapai 6,1%, namun hanya sebagian kecil yang mendapat penanganan profesional. Stigma dan biaya menjadi penghalang utama. Bioskop di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya bisa menjadi ruang aman serupa, tetapi harga tiket yang tidak terjangkau bagi sebagian kalangan menjadi kendala. Inisiatif seperti bioskop komunitas atau pemutaran film gratis di ruang publik bisa menjadi solusi.
Selain itu, budaya gotong royong dan komunitas lokal di Indonesia sebenarnya memiliki potensi sebagai sistem pendukung. Namun, pendekatan ini perlu difasilitasi dengan kegiatan yang tidak menghakimi, seperti klub film atau diskusi seni. Peran pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil menjadi krusial untuk menyediakan ruang ketiga yang inklusif.
Ke depan, pertanyaannya: apakah kota-kota di Indonesia mampu menghadirkan ruang pemulihan yang tenang di tengah hiruk-pikuk? Atau akankah kesehatan mental tetap menjadi barang mewah bagi mereka yang mampu? Kisah dari Greenwich ini setidaknya menunjukkan bahwa kadang, obat terbaik bukanlah kata-kata, melainkan kehadiran dalam diam.



