Delta Tunda Penerbangan Perdana ke Riyadh Imbas Serangan Bandara, Sinyal Risiko Geopolitik di Rute AS–Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Delta Air Lines menunda debut rute nonstop Atlanta–Riyadh hingga Maret 2026 setelah serangan mematikan melumpuhkan Bandara King Khalid.
- Penundaan ini membatalkan tonggak sejarah penerbangan komersial nonstop pertama antara AS dan Arab Saudi yang dioperasikan maskapai Amerika.
- FAA mengeluarkan peringatan keamanan hingga 10 Desember, memaksa maskapai global meninjau ulang ekspansi ke kawasan konflik.

Delta Air Lines memutuskan menunda peluncuran penerbangan nonstop Atlanta–Riyadh hingga Maret tahun depan, membatalkan tonggak sejarah yang semula dijadwalkan mulai 23 Oktober. Keputusan ini diambil setelah serangkaian serangan mematikan melumpuhkan Bandara Internasional King Khalid, termasuk proyektil yang menghantam terminal penumpang pada Sabtu lalu dan menewaskan sedikitnya 12 orang serta melukai lebih dari 300 lainnya.
Rute tersebut dirancang sebagai penerbangan komersial nonstop pertama antara Amerika Serikat dan Arab Saudi yang dioperasikan maskapai AS, menggunakan pesawat widebody Airbus A350-900. Namun, sejak Kamis, ribuan penerbangan ke dan dari Riyadh dibatalkan menurut data Flightradar24, dan bandara masih ditutup hingga Senin. Serangan diklaim oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, menandai eskalasi konflik regional yang langsung berdampak pada konektivitas udara global.
Delta menyatakan tetap berkomitmen melayani pasar Arab Saudi dalam jangka panjang. "Kami terus berkoordinasi dengan mitra pemerintah dan penerbangan terkait, termasuk Saudia dan Riyadh Air, sambil memantau situasi," ujar maskapai dalam pernyataan resminya. CEO Delta Ed Bastian sebelumnya mengaku kecewa dengan perkembangan tersebut dan menegaskan bahwa faktor keselamatan akan menjadi penentu utama. "Jelas kami kecewa dengan berita pekan ini. Keselamatan yang akan memutuskan," katanya kepada CNBC pada Kamis.
Keputusan Delta muncul setelah Federal Aviation Administration (FAA) pada Minggu menginstruksikan maskapai AS untuk berhati-hati saat terbang di atau sekitar Arab Saudi. FAA menyebut adanya "risiko keselamatan penerbangan terkait aktivitas militer yang sedang berlangsung" dan gangguan sistem navigasi, dengan potensi ancaman pada semua ketinggian. Peringatan ini berlaku hingga 10 Desember, memberi tekanan pada maskapai lain untuk mengevaluasi ulang rute Timur Tengah.
Bagi Indonesia, penundaan ini menjadi pengingat bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat merembet ke sektor penerbangan dan ekonomi. Sejumlah maskapai nasional dan penerbangan haji/umrah yang melintasi wilayah udara Arab Saudi berpotensi menghadapi penyesuaian rute, biaya asuransi yang lebih tinggi, serta kenaikan harga tiket. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat protokol keselamatan penerbangan dan koordinasi diplomatik untuk melindungi warga negara yang bepergian ke kawasan tersebut.
Penundaan Delta juga menyoroti kerentanan strategi ekspansi maskapai ke pasar Timur Tengah di tengah ketidakstabilan geopolitik. Meskipun Arab Saudi gencar menarik investasi penerbangan melalui visi 2030, serangan terhadap infrastruktur vital dapat mengikis kepercayaan maskapai internasional. Delta bukan satu-satunya; beberapa maskapai telah menangguhkan penerbangan ke Riyadh untuk pekan ini, sementara AS dan Australia mengimbau warganya menghindari perjalanan ke wilayah tersebut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penundaan ini akan bersifat sementara atau menjadi sinyal pergeseran jangka panjang dalam peta rute penerbangan global. Jika ketegangan berlanjut, maskapai lain mungkin mengikuti langkah Delta, memperlambat pemulihan konektivitas udara pasca-pandemi. Pemerintah dan pelaku industri perlu bersiap menghadapi skenario terburuk, termasuk diversifikasi rute dan peningkatan kerja sama keamanan regional.



