Wawancara Tak Terbit Amy Winehouse: Mimpi Punya Banyak Anak dan Keyakinan Mati Bersama Blake
Baca dalam 60 detik
- Wawancara lama Amy Winehouse yang baru dipublikasikan mengungkap keinginannya memiliki banyak anak dengan Blake Fielder-Civil.
- Dalam sesi tiga hari setelah pernikahan 2007, Amy menolak terapi dan obat-obatan, memilih menyalurkan emosi lewat musik.
- Pengakuan ini memperkuat narasi kerentanan mental Amy yang sering diabaikan industri musik dan media saat itu.

Wawancara yang dilakukan hanya tiga hari setelah Amy Winehouse menikah dengan Blake Fielder-Civil pada 2007 akhirnya dipublikasikan. Dalam sesi bersama majalah Sunday Times itu, pelantun "Back to Black" tersebut mengungkapkan keinginan memiliki banyak anak dan keyakinan bahwa mereka akan mengakhiri hidup bersama. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian pada 2009, dua tahun sebelum Amy meninggal akibat keracunan alkohol.
Dalam percakapan tersebut, Amy tidak menyembunyikan hasratnya untuk membangun keluarga. Ia menyatakan siap menunda karier musiknya jika sudah hamil. "Kami ingin punya banyak anak. Kalau saya hamil, itu sudah cukup," ujarnya. Pernyataan ini kontras dengan citra publiknya sebagai bintang yang bergulat dengan masalah pribadi, sekaligus menunjukkan sisi domestik yang jarang terekspos.
Ketika ditanya apakah ia melihat dirinya dan Blake masih bersama dalam 30 tahun ke depan, Amy mengangguk dan menambahkan, "Saya tahu kami akan mati bersama." Ia juga menggambarkan cinta sebagai kondisi di mana seseorang tidak menginginkan orang lain. Kalimat-kalimat itu kini terasa sebagai potret kerapuhan yang tersembunyi di balik gemerlap penghargaan Grammy.
Dalam wawancara itu, Amy juga berbicara tentang kesehatan mentalnya. Ia mengaku memiliki kepribadian depresif tetapi enggan mengonsumsi obat atau menjalani terapi karena pengalaman buruk saat remaja. "Saya tidak akan pernah minum obat. Saya pernah melakukannya waktu muda. Saya naik turun. Saya menemui banyak orang, terapi dan sebagainya. Tapi tidak ada yang saya suka. Tidak apa-apa, saya musisi. Anda cenderung menuliskan apa yang Anda rasakan," tuturnya.
Ia berpandangan bahwa orang yang tidak mampu menolong diri sendiri tidak bisa ditolong. Meski demikian, ia tidak menentang terapi secara mutlak. "Saya tidak anti terapi. Jika sesuatu berhasil untuk Anda, ya berhasil," tambahnya. Pandangan ini mencerminkan sikap generasi musisi yang tumbuh sebelum isu kesehatan mental menjadi perbincangan arus utama, ketika mencari bantuan sering dianggap tanda kelemahan.
"Saya tahu kami akan mati bersama. Kami ingin punya banyak anak. Kalau saya hamil, itu sudah cukup." โ Amy Winehouse
Amy juga menanggapi foto-foto tabloid yang menampilkan zat putih di hidungnya. Ia menyebut gambar itu palsu dan menganggapnya lucu. "Itu konyol. Jelas palsu. Saya merasa lucu. Mereka mengambil foto lalu menambahkan sesuatu di hidung saya. Itu terjadi pada teman-teman saya juga," katanya. Ia tidak marah, meski ayahnya, Mitch Winehouse, geram dan berniat menelepon redaksi. "Ayah saya sangat marah. Dia bilang ini keterlaluan. Saya bilang, 'Ayah, tidak ada yang bisa dilakukan.'"
Pengungkapan ini memperlihatkan bagaimana media tabloid pada era 2000-an kerap memperlakukan musisi muda sebagai objek sensasi, bukan manusia dengan kerentanan. Amy, yang meninggal pada usia 27, menjadi simbol dari apa yang kemudian disebut "Klub 27" โ deretan musisi berbakat yang wafat terlalu cepat. Wawancara ini seolah menjadi potret utuh dari seorang perempuan yang ingin dicintai dan memiliki keluarga, namun terjebak dalam pusaran ketenaran yang menuntut citra tertentu.
Bagi industri musik Indonesia, kisah Amy menjadi pengingat bahwa tekanan psikologis di balik panggung sering luput dari perhatian. Beberapa manajemen artis di Tanah Air mulai mengadopsi pendampingan kesehatan mental, meski belum menjadi standar. Ke depan, pertanyaannya: apakah industri hiburan akan belajar dari tragedi seperti ini, atau tetap mengorbankan kesejahteraan seniman demi sensasi dan keuntungan?



