Sekolah Religius Sydney Diduga Paksa Siswa Berbagi Kasur dengan Guru, DPR NSW Selidiki
Baca dalam 60 detik
- Dua mantan siswa Redeemer Baptist School mengungkap praktik berbagi kasur dengan guru dan pengawasan ketat dalam sidang penyelidikan parlemen NSW.
- Penyelidikan mengungkap 15 laporan risiko bahaya signifikan sejak 2004 yang tidak memicu asesmen lapangan oleh Departemen Komunitas dan Keadilan.
- Ketua komite Abigail Boyd menyayangkan ketidakhadiran pihak sekolah, sementara sekolah belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Sidang penyelidikan parlemen New South Wales, Australia, pada Senin (12/10) mendengar kesaksian mengejutkan dari dua mantan siswa Redeemer Baptist School, sekolah swasta berbasis agama di Sydney barat. Mereka mengungkap praktik siswa remaja yang dipaksa berbagi tempat tidur dengan guru selama kegiatan sekolah, serta insiden di mana kepala sekolah diduga muncul dalam keadaan telanjang di area bersama.
Edward Garth, 23 tahun, menuturkan pengalamannya saat mengikuti program menginap di sekolah. Ia mengaku pernah melihat kepala sekolah sekaligus penatua gereja, Jonathon Cannon, berjalan tanpa busana dari kamar mandi menuju ruang tamu yang saat itu difungsikan sebagai kamar tidurnya. "Saya kaget, dan ketika dia melihat saya, dia berlari ke kamarnya," ujar Garth di hadapan komite. Ia melaporkan kejadian itu, namun justru mendapat teguran dari orang tuanya sendiri setelah informasi tersebut sampai ke telinga Cannon dan saudaranya, Noel.
Kesaksian lain datang dari Emma Hughes, yang menyoroti budaya sekolah yang menurutnya meninggalkan luka psikologis berkepanjangan. Ia mengungkap bahwa dalam beberapa kesempatan, siswa harus berbagi kasur dengan guru di taman karavan atau kabin milik sekolah untuk menghemat tempat. Meski Hughes menegaskan tidak terjadi hal yang tidak senonoh dalam pengalamannya, ia menilai praktik tersebut tetap tidak pantas. "Biasanya siswa yang dipilih adalah anggota komunitas, yang justru menunjukkan mereka tahu itu seharusnya tidak dilakukan," katanya.
Hughes juga menyoroti pola pengawasan ketat, budaya "mengadukan", dan hukuman publik yang diterapkan sekolah. Ia mengenang insiden di mana seorang siswa laki-laki dan perempuan diminta berdiri di atas kursi di depan kelas setelah guru menyita surat cinta mereka. Noel Cannon disebut membacakan isi surat itu di depan empat angkatan sebelum keduanya dipermalukan di hadapan banyak guru.
Penyelidikan ini menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah terhadap sekolah swasta berbasis komunitas religius. Selama hampir dua dekade, puluhan laporan tentang potensi bahaya tidak ditindaklanjuti dengan investigasi lapangan, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas mekanisme perlindungan anak di institusi pendidikan non-pemerintah. Cannon dan perwakilan sekolah lainnya telah diundang untuk memberikan keterangan, namun tidak hadir. Ketua komite, Abigail Boyd, menyatakan kekecewaannya karena upaya pemanggilan paksa tidak diindahkan.
Kasus ini mencerminkan tantangan yang juga dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam mengawasi lembaga pendidikan berbasis agama yang sering kali memiliki otonomi luas. Di Indonesia, sekolah-sekolah di bawah yayasan keagamaan kerap luput dari pengawasan ketat, sementara mekanisme pelaporan kekerasan atau pelanggaran batas profesional masih lemah. Publik menuntut transparansi dan akuntabilitas, terutama ketika menyangkut keselamatan anak.
Hingga berita ini diturunkan, Redeemer Baptist School belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Sidang penyelidikan akan berlanjut untuk memeriksa lebih dalam praktik manajemen sekolah dan peran badan pengawas pemerintah. Jika terbukti, temuan ini dapat mendorong reformasi kebijakan perlindungan anak di institusi pendidikan swasta di Australia, sekaligus menjadi peringatan bagi negara lain untuk memperkuat sistem pengawasan.



