Wall Street Terbelah: Dow Menguat, Nasdaq Tertekan Micron dan Ketegangan Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Indeks S&P 500 nyaris stagnan pada pembukaan pekan, sementara Dow Jones melonjak 192 poin dan Nasdaq melemah 0,1% akibat koreksi saham Micron.
- Musim laporan keuangan kuartal ketiga dimulai dengan ekspektasi pertumbuhan laba 29,6%, tetapi investor lebih mencermati komentar manajemen soal tekanan biaya energi dan bunga.
- Data inflasi September serta hasil bank-bank besar akan menjadi penentu arah pasar pekan ini, di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang teknologi AS-China.

Pasar saham Amerika Serikat memulai pekan dengan nada beragam pada Senin (11/10), setelah sepekan sebelumnya mencatat kinerja positif. Indeks S&P 500 hanya bergerak tipis 0,1%, sementara Dow Jones Industrial Average justru menanjak 192 poin atau sekitar 0,4%. Sebaliknya, Nasdaq Composite tertekan 0,1% akibat aksi jual pada saham Micron Technology yang anjlok 3%.
Penurunan Micron dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap meningkatnya persaingan dari raksasa memori China, ChangXin Memory Technologies (CXMT). Perusahaan itu dilaporkan tengah mengembangkan struktur chip DRAM generasi baru yang berpotensi menggerus pangsa pasar produsen Amerika dan Korea Selatan. Di sisi lain, Dow mendapat dorongan dari lonjakan 3% saham Salesforce setelah Bank of America menaikkan peringkat saham tersebut dua tingkat menjadi buy dari sebelumnya underperform, dengan target harga naik dari US$160 menjadi US$285.
Harga minyak mentah juga menjadi sorotan. Setelah sempat melemah, harga berbalik naik setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan "gencatan senjata energi" antara Rusia dan Ukraina pada akhir pekan. Namun, keraguan muncul setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Moskow telah melanggar kesepakatan tersebut. West Texas Intermediate (WTI) naik 2% ke sekitar US$93 per barel, sedangkan Brent menguat 2% menjadi US$106 per barel. Trump juga menyatakan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam konfrontasi melawan Houthi yang didukung Iran di Yaman, setelah serangan mematikan di bandara internasional Riyadh. Pernyataan ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan.
Wall Street baru saja menutup pekan yang solid, dengan Dow dan S&P 500 masing-masing mencatat pekan positif kedua dalam tiga pekan terakhir, sedangkan Nasdaq meraih kenaikan pekan keempat berturut-turut. Rally saham teknologi membantu investor mengabaikan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Kini perhatian beralih ke musim laporan keuangan kuartal ketiga yang diperkirakan kuat. Menurut John Butters dari FactSet, indeks S&P 500 diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba 29,6% pada kuartal ini, menandai kuartal keempat berturut-turut dengan pertumbuhan di atas 25%, didorong oleh pembangunan pusat data AI.
Namun, yang lebih krusial bagi investor adalah komentar para manajer perusahaan mengenai kemampuan mereka menghadapi biaya bahan bakar dan pinjaman yang lebih tinggi. "Investor telah menyoroti beberapa aspek penting," ujar Brian Leonard, manajer portofolio Keeley Gabelli Small Cap Dividend Fund (KSDIX). "Apakah perusahaan ini dapat bertahan menghadapi situasi saat ini? Meneruskan kenaikan margin, dan masa depan akan lebih baik dari masa lalu terdekat."
Pekan ini, bank-bank besar seperti Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Wells Fargo dijadwalkan merilis kinerja. Selain itu, data inflasi utama juga akan dirilis: indeks harga konsumen (CPI) September pada Rabu dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis. Pekan ini juga menandai empat tahun sejak awal bull run S&P 500 setelah mencapai titik terendah 3.577,03 pada Oktober 2022. Sejak itu, indeks tersebut telah lebih dari dua kali lipat.
Di pasar Eropa, saham-saham produsen mobil menguat setelah Uni Eropa dan China mencapai kesepakatan untuk mengurangi ekspor mobil hibrida China ke blok tersebut. Indeks Stoxx Europe 600 Automobiles and Parts naik 0,96%, dengan Stellantis melonjak 2,7%. Sementara itu, saham Volkswagen justru turun setelah melaporkan penurunan pengiriman 9% secara tahunan dalam sembilan bulan pertama 2026, dengan penurunan tajam 38,5% di China pada kuartal ketiga. Di Asia, pasar Korea Selatan ditutup turun 3,65% akibat ketegangan Timur Tengah, sedangkan Hang Seng Hong Kong dan CSI 300 China bergerak mixed. Saham Foxconn turun 1,81% setelah Amerika Serikat meluncurkan investigasi pelanggaran paten terhadap perusahaan tersebut.
Bagi Indonesia, gejolak pasar global ini membawa implikasi berlapis. Kenaikan harga minyak mentah dunia dapat memperlebar defisit neraca perdagangan migas dan menekan nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya berpotensi memicu arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi domestik. Di sisi lain, ketegangan teknologi AS-China dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik relokasi industri semikonduktor, meskipun membutuhkan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Investor domestik perlu mencermati data inflasi AS dan hasil rapat bank sentral pekan ini sebagai acuan arah kebijakan moneter global.
Ke depan, apakah musim laporan keuangan yang kuat mampu menopang pasar di tengah ketidakpastian geopolitik dan persaingan teknologi yang memanas? Jawabannya akan terlihat dari reaksi pasar terhadap data inflasi dan komentar para bankir besar dalam beberapa hari mendatang.



