Tanpa Poin di Lima Laga, Mönchengladbach Ukir Sejarah Buruk Bundesliga
Baca dalam 60 detik
- Borussia Mönchengladbach menjadi satu-satunya tim yang belum meraih poin di Bundesliga 2026/27 setelah lima pertandingan, menempati dasar klasemen.
- Meski terpuruk, data historis menunjukkan posisi juru kunci pada matchday kelima tidak selalu berujung degradasi, dengan Gladbach 2015/16 sebagai contoh kebangkitan terbaik.
- Manajemen telah mengganti pelatih dan berharap tren positif segera datang, tetapi tekanan tetap tinggi mengingat jadwal berat menanti.

Borussia Mönchengladbach menorehkan start terburuk dalam sejarah Bundesliga musim ini. Setelah lima pertandingan, Die Fohlen belum sekalipun meraih poin dan terpuruk di dasar klasemen. Kekalahan 1-2 dari FC Cologne pada derby Rhine menjadi pukulan telak yang menegaskan krisis di klub berjuluk Foals tersebut.
Direktur olahraga Gladbach, Rouven Schröder, mengakui situasi ini memprihatinkan. "Kami mengalami kondisi serupa musim lalu dan berharap tidak terulang. Saat ini tidak bagus," ujarnya awal September lalu, sesaat setelah memecat Eugen Polanski akibat empat kekalahan beruntun. Alexander Blessin kemudian ditunjuk untuk membalikkan keadaan, namun debutnya justru berakhir dengan kekalahan di kandang Cologne.
Ini bukan pertama kalinya Gladbach mengalami start buruk. Sepanjang sejarah Bundesliga, mereka sudah tujuh kali gagal menang dalam lima laga pembuka. Hanya pada musim 2015/16 mereka menelan lima kekalahan beruntun di awal musim. Meski demikian, data menunjukkan bahwa tanpa poin di matchday kelima bukanlah hal langka. Dari 64 musim Bundesliga, 15 tim pernah mengalami nirpoin setelah lima pertandingan, sementara lebih dari 50 tim belum meraih kemenangan. Rekor penantian kemenangan terpanjang dipegang Nuremberg pada 2013/14 yang baru menang pada matchday ke-18.
Sejarah memberikan harapan. Tim yang menghuni posisi terakhir setelah lima pertandingan tidak selalu terdegradasi. Sejak era Bundesliga modern, hanya 22 dari 64 tim yang mengalami nasib buruk tersebut. Dalam 26 tahun terakhir, angka itu menurun menjadi 12 kali. Gladbach sendiri pernah melakukan comeback spektakuler pada 2015/16, bangkit dari keterpurukan tanpa poin menjadi finis keempat dan lolos ke Liga Champions. Prestasi itu menjadi turnaround terbaik dalam sejarah Bundesliga.
Pergantian pelatih di tengah musim juga bukan hal baru. Separuh dari tim yang berada di dasar klasemen setelah matchday kelima (32 dari 64) melakukan pergantian pelatih selama musim berjalan. Langkah manajemen Gladbach mendatangkan Blessin sejalan dengan pola tersebut. Namun, tekanan tetap tinggi mengingat ekspektasi klub untuk tetap bersaing di papan tengah.
"Kami harus segera bangkit. Tidak ada waktu untuk meratapi keadaan. Setiap pertandingan adalah final," tegas Schröder dalam pernyataan terpisah.
Meski secara statistik peluang bertahan masih terbuka, Gladbach tidak bisa berpuas diri. Jadwal berat menanti, termasuk laga melawan tim-tim papan atas. Jika tidak segera meraih poin, krisis bisa semakin dalam. Pertanyaannya, mampukah Die Fohlen mengulang keajaiban 2015/16 atau justru terperosok ke jurang degradasi?



