Nicolas Cage Sesalkan Tak Pernah Main Golf dengan Sean Connery
Baca dalam 60 detik
- Nicolas Cage mengaku menyesal tidak pernah menerima ajakan Sean Connery untuk bermain golf semasa hidup.
- Keduanya menjalin pertemanan erat setelah membintangi film The Rock pada 1996.
- Cage menyebut Connery sebagai guru terbesar dalam dunia sinema yang membentuk karier aktingnya.

Aktor Nicolas Cage mengungkapkan satu penyesalan mendalam terkait persahabatannya dengan mendiang Sir Sean Connery. Dalam panel di New York Comic Con akhir pekan lalu, Cage mengatakan bahwa ia tidak pernah menyempatkan diri bermain golf bersama Connery, padahal sang legenda James Bond kerap mengajaknya. “Saya selalu ingin berada di kapal dan memancing. Sean terus mendorong saya ke lapangan golf, tapi saya tidak pernah punya waktu,” ujarnya.
Connery, yang meninggal pada 2020 di usia 90 tahun, dikenal sebagai sosok yang hangat dan bersahaja. Cage menyebutnya “sangat kebapakan” dan menganggapnya sebagai teman dekat. “Saya sering mengunjungi rumahnya. Kami benar-benar berteman. Tapi saya tidak pernah belajar golf, dan sampai sekarang saya merasa seharusnya saya menerima tawarannya,” tambah Cage.
Persahabatan keduanya terjalin setelah mereka beradu akting dalam film aksi The Rock (1996). Bagi Cage, bekerja dengan Connery adalah impian yang menjadi kenyataan. “Dia salah satu pahlawan saya. Sejak kecil saya menonton film-filmnya dan berpikir, ‘Itulah sosok pria sejati.’ Bisa bekerja dengannya sungguh luar biasa,” kenangnya dalam wawancara dengan Entertainment Tonight.
Setelah Connery wafat, Cage merilis pernyataan yang menyentuh. “Saya mengagumi Sean luar biasa. Saya paling bahagia saat bekerja dengannya—kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kejujurannya membimbing saya sejak pertama bertemu. Dia teman dan guru terbesar saya di dunia film. Maestro, Anda akan dirindukan,” tulisnya saat itu.
“Dia adalah bintang film pertama yang memadukan drama, aksi-petualangan, dan komedi dengan mudah dan bermartabat.” — Nicolas Cage tentang Sean Connery.
Lebih dari sekadar rekan kerja, Connery rupanya memberi pengaruh besar pada keputusan Cage menjadi aktor. Dalam wawancara tahun 2016, Cage mengungkapkan bahwa menonton Connery sebagai James Bond di Dr. No bersama ayahnya di bioskop drive-in membuatnya bertekad menekuni dunia akting. “Saya tahu saya ingin menjadi seperti itu,” ujarnya.
Kisah penyesalan Cage ini menyentuh sisi manusiawi dari bintang Hollywood yang dikenal eksentrik. Di balik gemerlap karier, ia mengingatkan bahwa waktu bersama orang terkasih sering kali lebih berharga daripada kesibukan. Bagi penggemar di Indonesia, momen seperti ini menjadi refleksi tentang pentingnya menghargai hubungan personal, terlebih dengan sosok mentor atau sahabat yang telah memberi warna dalam hidup.
Ke depan, warisan Sean Connery tetap hidup melalui karya-karyanya, sementara Nicolas Cage terus berkarya di industri film. Apakah penyesalan kecil seperti ini justru menjadi pengingat universal bahwa kesempatan bersama orang terdekat tak selalu datang dua kali?



