Kenan Thompson Hampir Menangis Saat Jadi Panthro di Monolog Chadwick Boseman
Baca dalam 60 detik
- Kenan Thompson mengaku nyaris menitikkan air mata ketika pertama kali melihat kostum Panthro yang ia kenakan untuk membajak monolog Chadwick Boseman di SNL 2018.
- Momen tersebut dinilainya sebagai perayaan budaya pop dan warisan Black Panther yang tengah mencapai puncak kejayaannya.
- Kolaborasi singkat itu meninggalkan kesan mendalam bagi Thompson, yang mengenang Boseman sebagai pribadi fokus, murah hati, dan kreatif.

Aktor komedian Kenan Thompson mengungkapkan pengalaman emosionalnya saat tampil sebagai karakter ThunderCats, Panthro, dalam monolog Chadwick Boseman di acara Saturday Night Live (SNL) edisi April 2018. Berbicara di New York Comic Con, Thompson mengaku hampir menangis ketika melihat kostum yang telah lama ia impikan itu terwujud. Momen tersebut tidak hanya menjadi kejutan bagi penonton, tetapi juga bagi dirinya sendiri yang tumbuh besar dengan serial animasi ikonis era 1980-an.
Thompson, yang telah menjadi bagian dari SNL sejak 2003, menuturkan bahwa ide menghadirkan Panthro adalah permintaan pribadinya yang paling ia dambakan. "Saya tidak ingin bercermin sampai semuanya selesai. Dan ketika saya melihatnya, saya hampir menangis karena itu adalah masa kecil saya yang hidup kembali," ujarnya seperti dikutip dari Atlanta Magazine. Kostum tersebut dirancang khusus dan ia sengaja menahan diri untuk tidak melihat prosesnya hingga benar-benar rampung.
Kemunculan Panthro di atas panggung SNL saat itu menjadi kejutan tersendiri. Thompson membajak monolog Boseman dengan mengklaim sebagai Black Panther yang asli, merujuk pada karakter superhero Marvel yang tengah naik daun lewat film Black Panther (2018). Dalam episode yang sama, Boseman juga membawakan kembali perannya sebagai King T'Challa dalam sketsa Black Jeopardy. Bagi Thompson, aksi tersebut bukan sekadar lelucon, melainkan sebuah perayaan budaya yang ia sebut "for the culture".
Dalam wawancara terpisah dengan Atlanta Magazine pada 2021, Thompson mengenang Boseman sebagai individu yang sangat fokus dan ingin segala sesuatunya sempurna. Ia menyebut proses latihan minggu itu sebagai salah satu yang paling berkesan. "Kami berusaha mencari cara agar tawa penonton terus meningkat. Akhirnya semuanya klik di akhir," kenangnya. Thompson juga memuji sikap Boseman yang ia gambarkan sebagai pribadi yang baik, penuh kasih, dan kreatif.
"Chadwick tidak bisa lebih baik lagi. Dia sangat ramah, murah hati, penuh kasih, dan kreatif," ujar Thompson mengenang mendiang rekannya.
Bagi industri hiburan, momen Panthro menjadi contoh bagaimana budaya pop dapat menjembatani generasi. ThunderCats, yang populer pada 1980-an, dihidupkan kembali di panggung komedi modern berkat keberanian Thompson mengusulkan ide yang tampak sepele. Hal ini menunjukkan bahwa referensi nostalgia memiliki daya tarik luas, terutama ketika dikaitkan dengan fenomena budaya seperti Black Panther yang merepresentasikan identitas Afrika-Amerika.
Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi. Program televisi dan konten digital tanah air mulai melirik elemen nostalgia, misalnya dengan menghadirkan kembali karakter animasi lokal atau mengangkat kembali tren era 90-an. Namun, tantangannya adalah menjaga relevansi agar tidak sekadar menjadi gimmick. Kolaborasi lintas generasi dalam industri kreatif Indonesia bisa belajar dari keberhasilan SNL yang mampu mengemas nostalgia dengan isu kontemporer.
Ke depan, warisan Chadwick Boseman dan momen-momen seperti ini akan terus dikenang, tidak hanya oleh para penggemar tetapi juga oleh pelaku industri. Pertanyaannya, akankah semakin banyak kreator berani mengambil risiko menghadirkan ide-ide personal yang autentik, seperti yang dilakukan Thompson, untuk menciptakan tontonan yang berkesan sekaligus bermakna?



