Nobel Kimia 2025 Kembangkan 'Spons Molekuler' Penambal Krisis Air Data Center
Baca dalam 60 detik
- Startup Atoco memanfaatkan riset peraih Nobel Kimia 2025 untuk mengekstrak air dari udara dengan limbah panas pusat data.
- Prototipe di California menghasilkan 300 liter air per hari; integrasi dengan pusat data besar berpotensi menembus 1.000 liter per hari.
- Inovasi ini dinilai belum mampu menutup konsumsi air pusat data yang bisa jutaan liter per hari, tetapi menjadi langkah awal efisiensi sumber daya.

Peraih Nobel Kimia 2025, Omar Yaghi, melalui perusahaan rintisannya Atoco, mengembangkan perangkat yang mampu memanen air dari udara dengan memanfaatkan limbah panas dari pusat data. Teknologi ini berpotensi menjadi jawaban atas kekhawatiran publik Amerika Serikat terhadap konsumsi air pusat data yang selama ini kurang mendapat perhatian dibanding isu polusi dan listrik.
Atoco menggunakan material bernama metal-organic framework (MOF), yaitu kerangka logam-organik yang mampu menangkap molekul air polar dengan afinitas sangat tinggi. Karena daya ikatnya melampaui kapasitas udara dalam menahan molekul tersebut, lembaran MOF dapat menyerap uap air dari atmosfer dan menyimpannya secara stabil di dalam matriks karbon. Para peneliti menyebutnya sebagai "spons molekuler" karena daya tampungnya jauh melebihi spons konvensional dan tidak dapat diperas seperti spons biasa.
Untuk melepaskan air yang terperangkap, MOF perlu dipanaskan. Di sinilah limbah panas dari pusat data berperan. Industri pusat data, terutama yang melayani beban kerja AI, menghasilkan panas dalam jumlah besar dan kerap kesulitan membuangnya. Atoco sejak awal merancang teknologi ini untuk memanfaatkan kondisi tersebut, dan lonjakan pembangunan pusat data dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat relevansi use case ini.
Meski menjanjikan, teknologi ini tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Pusat data tetap mengonsumsi air dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang mampu diproduksi. Sebagai gambaran, 1.000 liter per hari setara dengan kebutuhan air harian sekitar 10 rumah tangga di Indonesia, sementara satu pusat data gigawatt bisa menghabiskan jutaan liter setiap hari. Artinya, Atoco lebih tepat diposisikan sebagai salah satu elemen dalam mozaik efisiensi material, listrik, dan air, bukan solusi tunggal.
"MOF dapat dirancang dengan berbagai struktur dan afinitas kimia. Air hanyalah salah satu molekul yang bisa ditangkap; hidrogen dan petroleum juga bisa. Bahkan, MOF berpotensi menarik polutan dari laut atau udara, atau menyimpan sumber daya berharga untuk transportasi," ujar Yaghi, seperti dikutip dari pernyataan perusahaan.
Bagi Indonesia, implikasi teknologi ini perlu dicermati. Sejumlah proyek pusat data besar tengah dibangun di Batam, Bekasi, dan kawasan industri lainnya. Jika kelak diadopsi, MOF dapat membantu mengurangi tekanan terhadap pasokan air baku lokal, terutama di wilayah yang rawan kekeringan. Namun, tanpa regulasi ketat dan transparansi konsumsi air, kehadiran teknologi ini berisiko menjadi justifikasi bagi ekspansi pusat data yang tidak terkendali.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa efisien MOF dalam menghasilkan air, tetapi juga seberapa besar komitmen industri pusat data untuk menekan konsumsi air secara keseluruhan. Tanpa perubahan pola operasi dan kebijakan yang mendorong efisiensi, inovasi seperti Atoco hanya akan menjadi penambal sementara di tengah krisis air yang kian nyata.



