AMD Tantang Nvidia di Laptop AI: Klaim 192GB Memori dan x86 Lebih Siap
Baca dalam 60 detik
- AMD menegaskan posisinya sebagai pelopor laptop dengan memori terpadu besar, mengklaim telah memulai kategori ini sejak awal 2025 melalui Strix Halo.
- Perbedaan arsitektur x86 dan Arm menjadi inti persaingan, dengan AMD menyoroti keunggulan kompatibilitas native tanpa emulasi yang berpotensi menghambat performa.
- Peluncuran RTX Spark dinilai sebagai validasi pasar, namun AMD siap bersaing dengan kapasitas memori lebih tinggi dan pengalaman puluhan tahun di ekosistem Windows.

Nvidia resmi memperkenalkan RTX Spark bersama Surface Laptop Ultra dari Microsoft, menandai babak baru komputer pribadi dengan memori terpadu masif, AI lokal, dan performa kelas desktop dalam bodi portabel. Namun, AMD merespons cepat dengan nada percaya diri: mereka mengklaim telah menjual arsitektur serupa sejak lebih dari setahun lalu.
Dalam wawancara eksklusif setelah peluncuran RTX Spark, Mike Nordquist, CVP Client Product Marketing AMD, menyatakan bahwa kehadiran Nvidia justru memvalidasi kategori yang telah dirintis AMD melalui Strix Halo pada awal 2025. "Kami sudah berada di generasi kedua yang baru kami umumkan bulan lalu, dengan kapasitas 50% lebih besar," ujarnya, merujuk pada seri Ryzen AI Max 400 (Gorgon Point Halo). Klaim ini langsung menyoroti keunggulan AMD di sektor memori terpadu: RTX Spark dibatasi 128GB, sedangkan Gorgon Halo mencapai 192GB—cukup untuk menjalankan model AI hingga 300 miliar parameter.
Perdebatan pun meruncing pada arsitektur chip. AMD dan Intel menggunakan x86 yang telah menjadi standar PC Windows selama lebih dari tiga dekade, sementara Nvidia RTX Spark dan Snapdragon X Elite berbasis Arm. Arm menawarkan efisiensi daya, tetapi harus mengandalkan emulasi untuk menjalankan aplikasi x86, yang berpotensi menimbulkan penalti performa. Nordquist menyindir bahwa dalam presentasi Nvidia dan Microsoft, kata "Arm" nyaris tidak disebut—sebuah indikasi bahwa pengalaman pengguna akhir masih menjadi tanda tanya. "Semuanya berjalan native di produk kami, dan kami merasa yakin semuanya langsung bekerja tanpa khawatir ada yang rusak," tegasnya.
Nordquist juga menekankan bahwa membangun platform laptop bukan sekadar menyematkan chip kuat. Ia menyoroti tantangan termal, manajemen baterai, dan kompatibilitas perangkat lunak warisan yang menurutnya telah dikuasai AMD. "Mereka baru di pasar laptop secara umum. Kami sudah 30 tahun lebih di bidang ini, jadi kami tahu cara menjalankan Windows," tambahnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa Nvidia perlu waktu untuk matang, terutama dalam menangani beragam konfigurasi perangkat keras dan perangkat lunak yang beredar luas.
"Saya tidak berpikir ada yang ajaib dari beralih ke Arm—bahwa itu akan lebih hemat daya atau atribut lainnya. Kami tidak pernah percaya itu, dan Intel juga tidak," kata Nordquist.
Bagi pasar Indonesia, persaingan ini berpotensi mempercepat adopsi laptop AI dengan harga lebih kompetitif. Selama ini, laptop berbasis Arm seperti Snapdragon X Elite sudah masuk melalui merek seperti Lenovo dan Asus, tetapi masih terkendala kompatibilitas aplikasi lokal. Kehadiran opsi x86 dengan memori besar dapat menjadi alternatif bagi pengguna profesional dan kreator konten yang membutuhkan stabilitas perangkat lunak. Di sisi lain, Nvidia dengan RTX Spark dapat mendorong inovasi AI on-device yang relevan untuk sektor pendidikan dan UMKM, asalkan ekosistem Arm diperluas.
Namun, klaim AMD belum sepenuhnya terbukti. Benchmark dunia nyata akan menjadi penentu apakah arsitektur x86 yang sudah matang mampu mengimbangi efisiensi Arm, atau justru sebaliknya. Nvidia belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Nordquist, tetapi peluncuran RTX Spark menunjukkan ambisi serius untuk menguasai segmen laptop premium. Pertanyaannya, apakah pengguna akan memilih jalur aman x86 atau tergoda inovasi Arm? Waktu dan ulasan independen yang akan menjawab.



